UMY Gelar Pameran 'Palestine Through the Lens', Angkat Realitas Kemanusiaan di Gaza

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 22 Mei 2024
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan pameran foto bertajuk "Palestine Through the Lens" di lantai dasar Gedung Pascasarjana. Pameran yang dibuka pada Senin, 29 Juni, ini menampilkan koleksi foto dari dua jurnalis internasional, Mohammed Asad dari Palestina dan Zoe Reynold dari Australia, dengan tujuan utama meningkatkan kesadaran publik serta memperkukuh solidaritas kemanusiaan bagi rakyat Palestina yang menghadapi konflik berkelanjutan. Setiap foto yang dipamerkan menggambarkan fragmen kehidupan nyata di tengah perang, blokade, dan krisis kemanusiaan yang tak berkesudahan.
Filosa Gita Sukmono, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMY sekaligus Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Muhammadiyah, menekankan kekuatan unik fotografi dalam menyajikan realitas. Menurutnya, gambar mampu menyampaikan pesan yang mendalam dan menyentuh nurani, bahkan ketika kata-kata sulit mengungkapkannya. “Melalui foto-foto ini, kita diajak melihat langsung berbagai peristiwa yang terjadi di Palestina. Harapannya, sensitivitas kemanusiaan masyarakat terus terbangun sehingga isu Palestina tidak pernah hilang dari perhatian dunia,” ungkap Filosa.
Filosa menambahkan bahwa pameran ini menyajikan dua perspektif yang saling melengkapi. Karya Zoe Reynold berfokus pada kondisi kemanusiaan di wilayah perbatasan Mesir-Palestina, sedangkan Mohammed Asad mendokumentasikan kehidupan sehari-hari masyarakat di pusat konflik, Jalur Gaza.
Tantangan Jurnalistik dan Pertaruhan Nyawa di Gaza
Mohammed Asad menyampaikan bahwa foto-foto yang dipamerkan hanyalah sebagian kecil dari skala tragedi kemanusiaan yang lebih luas. Ia menguraikan bahwa selama dua tahun terakhir, jurnalis di Gaza menghadapi risiko ekstrem, termasuk ancaman serangan udara dan keterbatasan komunikasi. Asad menyebutkan penghancuran kantor media, pemboman kendaraan operasional, pemblokiran pasokan bahan bakar, dan gangguan akses internet. Lebih dari 263 jurnalis dilaporkan gugur saat menjalankan tugas. Meskipun demikian, mereka terus berupaya mendokumentasikan peristiwa agar dunia mengetahui realitas di lapangan. “Kami berjalan kaki sangat jauh hanya dengan membawa telepon genggam demi mendokumentasikan kenyataan di sekitar kami. Tolong terus dukung kami agar Palestina tidak dilupakan,” ujar Asad penuh emosi. Kesaksiannya menegaskan bahwa jurnalisme di zona konflik bukan sekadar penyampaian informasi, melainkan juga perjuangan untuk keselamatan demi mengungkap fakta kepada publik global.
Di sisi lain, Zoe Reynold menyoroti tantangan era digital, khususnya dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk dokumentasi konflik. Ia menemukan bahwa beberapa sistem AI tidak dapat atau enggan mereproduksi visual yang menggambarkan kekerasan terhadap warga Palestina. “Ini sebuah ironi besar ketika teknologi yang seharusnya netral justru tidak mampu merepresentasikan kenyataan di lapangan secara objektif,” kata Zoe. Menurutnya, hal ini menggarisbawahi perlunya pengawasan dan perspektif kemanusiaan dalam teknologi agar fakta tidak terdistorsi.
Fotografi sebagai Medium Advokasi Kemanusiaan
Filosa kembali menegaskan bahwa pameran ini melampaui sekadar presentasi karya jurnalistik atau estetika fotografi. Ia melihatnya sebagai bagian dari gerakan advokasi kemanusiaan yang mengajak masyarakat untuk terus menaruh perhatian pada penderitaan rakyat Palestina. “Foto-foto ini diharapkan mampu menggugah hati setiap pengunjung. Kita mungkin tidak bisa hadir langsung di Palestina, tetapi kita bisa terus menyuarakan kemerdekaan mereka melalui karya, pemikiran, dan solidaritas kemanusiaan,” ujarnya.
Pameran "Palestine Through the Lens" berfungsi sebagai pengingat bahwa tragedi kemanusiaan lebih dari sekadar statistik dan angka korban; ia melibatkan kehidupan, keluarga, harapan, dan perjuangan individu yang diabadikan oleh lensa jurnalis. Bagi Muhammadiyah, inisiatif pameran ini menggarisbawahi urgensi pemeliharaan kesadaran kolektif global terhadap isu kemanusiaan. Di tengah arus informasi yang masif, fotografi berperan vital dalam memelihara memori, membangkitkan empati, dan terus menyuarakan keadilan bagi rakyat Palestina yang masih berjuang untuk hak-hak asasi mereka.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





