Transformasi Media Muhammadiyah: Dari Pemberitaan ke Penggerak Perubahan Sosial

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - BANDUNG, 20 Mei 2024 - Media Persyarikatan Muhammadiyah diharapkan tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi semata, melainkan juga menjadi motor penggerak kepedulian sosial dan kemanusiaan. Lebih jauh, media harus mampu menghadirkan solusi konkret atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, demikian pandangan yang mengemuka dalam sebuah acara peluncuran buku di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung.
Roni Tabroni, seorang dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UM Bandung, menekankan pentingnya pengembangan orientasi pemberitaan dalam jurnalisme Muhammadiyah. Menurutnya, jurnalisme tidak cukup hanya mengabarkan peristiwa, tetapi harus mendorong perubahan sosial yang berpihak pada kemaslahatan publik. Pemikiran ini disampaikan Roni saat peluncuran buku "Jurnalisme Filantropi: Media dan Visi Kesejahteraan".
Ia menjelaskan bahwa konsep jurnalisme filantropi bertolak dari semangat untuk menghadirkan harapan melalui setiap pemberitaan. Media, dalam konteks ini, tidak berhenti pada identifikasi masalah, tetapi turut serta dalam membangun kepedulian, menggalang solidaritas, serta membuka jalan bagi lahirnya solusi terhadap berbagai isu kemanusiaan.
Roni menambahkan, media Muhammadiyah memiliki landasan nilai yang kuat, mengingat kelahirannya sebagai bagian dari gerakan dakwah yang sejak awal berfokus pada pelayanan umat melalui sektor pendidikan, kesehatan, dan aksi sosial. Oleh karena itu, setiap konten pemberitaan yang dihasilkan seharusnya merefleksikan nilai-nilai Islam Berkemajuan, yang menempatkan kemanusiaan sebagai prioritas utama.
Lebih lanjut, Roni menegaskan bahwa media Persyarikatan perlu lebih banyak mengangkat kisah-kisah praktik baik, inovasi sosial, serta kontribusi nyata amal usaha dan warga Muhammadiyah dalam merespons tantangan masyarakat. Melalui pendekatan ini, media dapat berfungsi sebagai sumber inspirasi sekaligus pendorong partisipasi publik dalam gerakan kemanusiaan. Ia juga mengingatkan bahwa media memiliki kekuatan besar dalam membentuk cara pandang masyarakat. Oleh karena itu, media wajib menyajikan informasi yang mencerdaskan, menumbuhkan optimisme, dan memperkuat nilai-nilai kebajikan, bukan sekadar mengejar sensasi atau viralitas.
Senada dengan pandangan tersebut, Wakil Rektor I UM Bandung, Hendar Riyadi, berpendapat bahwa jurnalisme harus melampaui sekadar narasi belas kasih. Menurutnya, media mesti membangun kesadaran kritis di tengah masyarakat dan secara aktif memperjuangkan keadilan sosial. Tujuannya agar persoalan kemanusiaan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi benar-benar memicu perubahan yang signifikan dan berkelanjutan.
Dengan menerapkan pendekatan ini, media Muhammadiyah diharapkan dapat semakin memperkuat perannya sebagai instrumen dakwah yang mencerahkan, menumbuhkan optimisme, serta menggerakkan kepedulian dan semangat kemanusiaan di tengah-tengah masyarakat luas.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





