Sekretaris PP Muhammadiyah Paparkan Empat Pilar Keberlanjutan Pesantren Ummul Mukminin

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, Minggu, 28 Juni 2026 - Pondok Pesantren Putri Ummul Mukminin 'Aisyiyah Sulawesi Selatan merayakan Resepsi Tasyakuran Milad ke-40 pada Ahad, 28 Juni 2026. Acara yang berlangsung di Lapangan Indoor pesantren di Makassar ini mengusung tema “Melintasi Generasi, Menguatkan Komitmen Pesantren Unggul dan Berkemajuan”. Dalam pidato kuncinya, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, M. Izzul Muslimin, S.IP., menekankan pentingnya momentum ini sebagai refleksi dan pijakan strategis untuk mewujudkan masa depan pesantren yang unggul, adaptif, dan berkelanjutan.
Izzul Muslimin menyoroti usia 40 tahun sebagai fase krusial dalam perjalanan sebuah institusi. Ia mengibaratkan usia ini dengan momentum kenabian Nabi Muhammad SAW yang menerima wahyu pada usia yang sama, menandakan bahwa Milad ke-40 bukanlah akhir, melainkan awal dari kematangan dan kemajuan yang lebih besar. “Harapan kita setelah 40 tahun, Ummul Mukminin bukan justru meredup, tetapi semakin berkembang, semakin berjaya, dan semakin maju,” ujarnya di hadapan ratusan tamu undangan dan civitas pesantren.
Dalam kesempatan tersebut, Izzul Muslimin turut mengenang keterlibatannya dalam penciptaan Himne Ummul Mukminin atas permintaan Direktur Pondok Pesantren. Ia mengungkapkan bahwa proses penyelesaian himne tersebut membutuhkan waktu lebih dari satu tahun, mengingat karya seni memerlukan perenungan dan penghayatan mendalam.
Lebih lanjut, ia mengapresiasi pemilihan nama “Ummul Mukminin” yang dinilainya sarat makna dan visi perjuangan. Nama ini merujuk pada sosok perempuan agung dalam sejarah Islam yang menjadi pendamping sekaligus penerus perjuangan Rasulullah SAW, seperti Sayyidah Khadijah yang mengorbankan harta dan hidupnya, serta Sayyidah Aisyah sebagai perempuan cerdas, ulama, dan pendidik yang menginspirasi lahirnya 'Aisyiyah. “Pemilihan nama Ummul Mukminin bukan sekadar nama, tetapi merupakan cita-cita besar untuk melahirkan perempuan-perempuan beriman, cerdas, dan mampu menjadi pelanjut perjuangan dakwah Islam,” tegasnya.
Menurut Izzul, capaian Ummul Mukminin selama empat dekade terakhir sungguh luar biasa, terbukti dari peningkatan jumlah santri dari 17 orang menjadi lebih dari 1.200 santri. Angka ini menjadi bukti keberhasilan kaderisasi dan pengelolaan lembaga pendidikan tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa milad juga harus menjadi ruang muhasabah atau refleksi bersama, sebab keberlanjutan sebuah lembaga tidak dapat dianggap otomatis.
Untuk menjamin keberlangsungan Pondok Pesantren Ummul Mukminin di masa depan, Izzul Muslimin menggarisbawahi empat faktor utama yang memerlukan perhatian serius dari seluruh elemen pesantren dan persyarikatan.
Pertama, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan perubahan sosial berlangsung sangat cepat, sehingga lembaga pendidikan wajib menyesuaikan diri agar tidak tertinggal. Izzul mencontohkan evolusi teknologi komunikasi, dari telegram hingga smartphone, sebagai bukti bahwa teknologi yang gagal beradaptasi akan tergilas perubahan. “Kalau kita tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, maka kita akan tertinggal dan digilas oleh perubahan itu sendiri,” tegasnya.
Kedua, pentingnya menghindari mismanagement atau kesalahan tata kelola organisasi. Tata kelola yang baik, menurutnya, harus dibangun di atas kepemimpinan yang adaptif, terbuka, partisipatif, dan mengedepankan musyawarah. “Di Muhammadiyah, yang kita cari bukan suara terbanyak, tetapi keputusan terbaik. Karena belum tentu yang terbanyak itu yang paling benar,” jelas Izzul.
Ketiga, regenerasi kepemimpinan. Keberlanjutan organisasi sangat bergantung pada kesiapan generasi penerus yang kompeten dan berpengalaman. “Kita tidak hidup selamanya. Karena itu, estafet kepemimpinan harus dipersiapkan sejak dini agar organisasi tetap berjalan dengan baik,” katanya.
Keempat, kemampuan mengelola konflik. Konflik adalah hal alamiah dalam kehidupan manusia dan organisasi, namun yang terpenting adalah bagaimana konflik tersebut dikelola agar tidak berujung pada perpecahan. Ia membandingkan runtuhnya Yugoslavia akibat kegagalan mengelola konflik internal dengan Indonesia yang mampu mempertahankan persatuan di tengah keberagaman. “Konflik bukan untuk dihindari, tetapi harus dikelola dengan baik agar tidak menghancurkan organisasi,” paparnya.
Di penghujung sambutannya, Sekretaris PP Muhammadiyah berharap Pondok Pesantren Putri Ummul Mukminin dapat terus berkembang dan menjadi model pengembangan pesantren putri unggulan, baik di Sulawesi Selatan maupun di seluruh Indonesia. Ia juga berharap pesantren ini terus melahirkan kader-kader perempuan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah yang unggul, berkemajuan, serta mampu berkiprah di tingkat nasional dan global. “Mudah-mudahan Ummul Mukminin akan terus melahirkan kader-kader 'Aisyiyah yang luar biasa, menjadi pelopor dakwah Islam, dakwah Muhammadiyah, dan dakwah kemanusiaan di seluruh penjuru dunia,” pungkasnya.
Acara tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Dr. H. Andi Muhammad Arsjad, M.Si., Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang mewakili Gubernur Sulawesi Selatan; Dr. H. Ahmad Namsum, M.Si., Staf Ahli Wali Kota Makassar Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia; serta Rismayani, S.Sos., Ketua DPRD Kabupaten Bulukumba.
Dari lingkungan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah, hadir Dr. Ir. H. Abd. Rakhim Nanda, M.T., IPU, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar; Dr. Mahmudah, M.Hum, Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Sulawesi Selatan; dan Dr. Nurhayati Azis, M.Pd., Rektor Institut Teknologi dan Bisnis 'Aisyiyah Sulawesi Selatan. Turut hadir pula pengurus Ikatan Alumni Ummul Mukminin (IAUM), alumni lintas generasi, pimpinan, guru, karyawan, serta santriwati Pondok Pesantren Putri Ummul Mukminin.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





