PWM Sulsel Dorong Digitalisasi Keanggotaan Muhammadiyah melalui Program SatuMu

MUHAMMADIYAH SULSEL, BANTAENG - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan mendorong percepatan digitalisasi administrasi keanggotaan melalui program SatuMu dan migrasi e-Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah atau e-KTAM. Agenda ini disampaikan dalam rangkaian Baitul Arqam bagi guru dan tenaga kependidikan Muhammadiyah Bulukumba yang berlangsung di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Bantaeng, Sabtu, 21 Juni 2026.
Materi tersebut dibawakan Bendahara PWM Sulsel, Dr. Husain Abd Rahman, di hadapan 114 peserta yang berasal dari sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-Kabupaten Bulukumba. Forum itu tidak hanya membahas penguatan ideologi dan kepemimpinan, tetapi juga diarahkan untuk menyiapkan SDM pendidikan Muhammadiyah agar siap menjalankan pembaruan tata kelola organisasi berbasis data.
Husain menegaskan bahwa digitalisasi keanggotaan bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Menurut dia, Muhammadiyah membutuhkan sistem data yang rapi, valid, dan terintegrasi agar pengambilan keputusan organisasi tidak bertumpu pada data yang tercecer atau sulit diverifikasi.
Ia menjelaskan bahwa SatuMu menjadi instrumen penting untuk menyatukan data anggota dari berbagai tingkatan Persyarikatan. Melalui sistem ini, proses pendataan, verifikasi, dan pembaruan data dapat dilakukan lebih tertib sehingga kebutuhan organisasi di tingkat daerah, cabang, hingga ranting bisa dipetakan dengan lebih akurat.
PWM Sulsel juga menaruh perhatian pada proses migrasi e-KTAM. Husain menekankan bahwa perpindahan dari kartu fisik ke kartu anggota digital harus dipahami sebagai bagian dari pembenahan administrasi, bukan semata perubahan format layanan. Dengan basis data yang tertata, Muhammadiyah dinilai akan lebih mudah menyusun program, membaca sebaran potensi kader, dan memberi layanan yang tepat sasaran.
Dalam penjelasannya, ia mendorong pembentukan agen dan verifikator di tingkat cabang dan ranting. Kehadiran mereka dinilai menjadi kunci keberhasilan karena merekalah yang akan memastikan data anggota masuk sesuai prosedur, lengkap, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Husain juga menilai lingkungan sekolah dan madrasah Muhammadiyah memiliki posisi strategis untuk mempercepat implementasi SatuMu. Guru dan tenaga kependidikan, menurutnya, dapat menjadi simpul sosialisasi sekaligus penggerak pendataan anggota di komunitas masing-masing.
Sesi diskusi menunjukkan minat peserta yang tinggi terhadap agenda ini. Sejumlah guru dan tenaga kependidikan mengajukan pertanyaan mengenai mekanisme migrasi data, prosedur verifikasi anggota, hingga langkah teknis penggunaan sistem SatuMu dalam mendukung administrasi keanggotaan Muhammadiyah.
Melalui sosialisasi tersebut, PWM Sulsel ingin memastikan digitalisasi organisasi berjalan sampai ke akar rumput, bukan berhenti di level kebijakan. Harapannya, hasil Baitul Arqam di Bulukumba dapat menjadi langkah awal penguatan satu data Muhammadiyah yang lebih tertib, akurat, dan berkelanjutan di Sulawesi Selatan.





