Ketua PK IMM Datuk Sulaiman Ziarah ke Makam KH Ahmad Dahlan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, Ketua Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Datuk Sulaiman Kota Palopo, Muhammad Faikar, berziarah ke makam pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, di Kompleks Makam Karangkajen, Yogyakarta, pada Sabtu, 1 Agustus 2026. Kegiatan itu dijadikan momentum refleksi untuk meneguhkan kembali komitmen kader IMM terhadap nilai dakwah, pendidikan, intelektualitas, dan pengabdian sosial yang diwariskan pendiri Persyarikatan.
Ziarah dilakukan setelah Faikar mengikuti sejumlah agenda organisasi dan silaturahmi di Yogyakarta. Bagi PK IMM Datuk Sulaiman, kunjungan tersebut tidak dipahami sebagai seremoni biasa, melainkan sebagai ruang perenungan atas arah gerakan kader di tengah tantangan zaman yang terus berubah. Makam KH Ahmad Dahlan menjadi titik simbolik untuk mengingat fondasi gerakan Muhammadiyah yang bertumpu pada ilmu, pembaruan, dan keberpihakan pada kemaslahatan umat.
Faikar menyampaikan bahwa kader IMM memikul tanggung jawab moral untuk meneladani perjuangan KH Ahmad Dahlan. Menurutnya, nilai keikhlasan, keberanian melakukan pembaruan, dan keteguhan menjadikan pendidikan sebagai jalan dakwah harus terus hidup dalam kerja organisasi. Bagi kader mahasiswa, keteladanan itu penting agar aktivitas perkaderan tidak berhenti pada agenda formal, tetapi benar-benar membentuk orientasi perjuangan.
Ia juga menilai rangkaian agenda di Yogyakarta memberi pelajaran berharga tentang sejarah gerakan Muhammadiyah dan kepemimpinan antargenerasi. Pengalaman itu mempertegas bahwa kader IMM perlu memahami akar perjuangan Muhammadiyah, bukan hanya menguasai teknis organisasi. Tanpa pemahaman sejarah dan nilai dasar, gerakan mahasiswa mudah kehilangan arah serta terjebak pada rutinitas yang dangkal.
Kompleks Makam Karangkajen sendiri memiliki nilai historis kuat dalam tradisi Muhammadiyah. Di tempat inilah dimakamkan sejumlah tokoh yang menjadi bagian penting dari perjalanan Persyarikatan. Karena itu, ziarah ke lokasi tersebut memiliki makna pendidikan ideologis, yakni mempertemukan kader muda dengan memori perjuangan para pendahulu yang telah membangun tradisi dakwah dan pembaruan Islam.
Artikel ini memang beririsan dengan publikasi PK IMM Datuk Sulaiman pada Mei 2026 tentang Darul Arqam Dasar, tetapi fokus peristiwanya berbeda. Jika publikasi sebelumnya berkisar pada kegiatan kaderisasi internal di Palopo, sumber terbaru ini menyoroti refleksi ideologis dan jejak historis ketua komisariat di Yogyakarta. Karena itu, ia layak diperlakukan sebagai peristiwa baru, bukan pengulangan substansi lama.
Bagi PK IMM Datuk Sulaiman, ziarah tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa kader Muhammadiyah tidak cukup hanya aktif di ruang kampus. Mereka juga perlu menjaga kesinambungan nilai, memahami sejarah perjuangan, dan membawa semangat pembaruan itu ke tengah masyarakat. Dari sana, kader IMM diharapkan tumbuh sebagai generasi yang progresif, berintegritas, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





