Prof. Siti Chamamah Soeratno: Mengukir Jejak Keilmuan dan Pengabdian di Muhammadiyah

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 14 Juli 2023. Persyarikatan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah baru-baru ini kehilangan salah satu tokoh besar mereka, Prof. Siti Chamamah Soeratno. Beliau adalah mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah untuk dua periode, yakni 2000-2005 dan 2005-2010. Sepanjang hayatnya, Prof. Chamamah dikenal sebagai seorang cendekiawan sekaligus pejuang yang mendedikasikan dirinya bagi dakwah, pengembangan keilmuan, dan pemberdayaan perempuan.
Mengenang sosoknya, Amin Abdullah, yang pernah menjabat Ketua Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1995-2000, menyampaikan pandangannya dalam sebuah Takziah Virtual pada Kamis (9/7) malam. Menurut Amin, semangat pengabdian Prof. Chamamah tidak pernah pudar, bahkan setelah memasuki masa purnatugas.
"Bu Chamamah bahkan setelah pensiun masih mengontak saya terkait masalah keislaman, kebangsaan, ataupun akademik. Bahkan di masa-masa terakhirnya, beliau masih sering membuka pengajian di rumah," ujar Amin. Ia menambahkan bahwa Prof. Chamamah secara konsisten menyuarakan pentingnya pemikiran mendalam terkait persoalan perempuan dan keluarga dalam perspektif Islam. Gagasan beliau mengenai keadilan gender, atau gender justice, dinilainya sebagai warisan intelektual krusial yang masih belum dipahami secara luas oleh masyarakat.
"Itu termasuk bagian dari Fiqh al-Nisฤโ al-Muโฤแนฃir . Kesejajaran yang dimaksud adalah dalam hal berpikir, belajar, dan kepemimpinan. Itulah yang selalu disuarakan beliau," jelas Amin. Lebih lanjut, Amin Abdullah mengemukakan bahwa Prof. Chamamah merupakan teladan dalam menyelaraskan tradisi keilmuan dengan aktivisme Persyarikatan. "Ketika membahas soal memadukan keilmuan dan aktivisme, rasanya semua orang perlu belajar kepada beliau," katanya, seraya meyakini bahwa pemikiran dan gagasan almarhumah akan terus hidup serta menjadi bahan kajian di berbagai forum akademik.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, juga turut mengenang Prof. Chamamah. Ia menyebut almarhumah sebagai sosok yang memberikan inspirasi besar dalam perjalanan hidup dan pengabdiannya di Persyarikatan. "Jasa-jasa beliau tidak akan pernah cukup terwakili hanya melalui ungkapan takziah ini," ungkap Noordjannah.
Noordjannah menggambarkan Prof. Chamamah sebagai seorang ilmuwan sekaligus cendekiawan yang memiliki wawasan luas, jejaring pergaulan yang ekstensif, serta pemikiran yang melampaui zamannya. "Beliaulah yang menginspirasi saya untuk mengikuti jejaknya hingga sekarang," tuturnya. Ia mengisahkan, selama mendampingi berbagai kegiatan bersama Prof. Chamamah, dirinya merasa seperti seorang anak yang diajak melihat luasnya pengalaman dan medan pengabdian. Setiap momen bersamanya selalu diisi dengan semangat belajar dan diskusi.
"Tidak ada waktu beliau yang tidak dimanfaatkan dengan baik. Bahkan ketika memiliki waktu luang, Prof. Chamamah senantiasa mengajak berdiskusi mengenai perjalanan gerakan ini," kenang Noordjannah. Ia juga menyatakan rasa syukurnya pernah membersamai sosok yang kaya ilmu dan memiliki pergaulan inklusif. Noordjannah berharap, generasi muda 'Aisyiyah dapat meneladani Prof. Chamamah sebagai pribadi yang menjunjung tinggi tradisi keilmuan, keterbukaan berpikir, serta dedikasi nyata bagi kemajuan umat dan bangsa.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





