Kesehatan Jasmani dalam Islam: Panduan Pola Makan dan Olahraga dari Muhammadiyah

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 5 Juli 2020
Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Hasnan Nahar, menyerukan kepada umat Islam untuk menjadikan kesehatan sebagai bagian integral dari ajaran agama. Dalam pengajian Ahad pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, pada 5 Juli 2020, ia menggarisbawahi pentingnya menjaga kebugaran tubuh melalui pola makan yang baik dan aktivitas fisik teratur. Hasnan menjelaskan bahwa upaya ini merupakan bentuk syukur atas nikmat Allah sekaligus ikhtiar mewujudkan pribadi mukmin yang kuat. Semula, tema yang akan dibahas adalah “Nilai-Nilai Islam dalam Sepak Bola,” namun atas masukan panitia, topik dialihkan menjadi “Olahraga dalam Tinjauan Al-Qur’an dan Sunah” agar lebih relevan dengan kebutuhan jemaah.
Dalam paparannya, Hasnan mengawali dengan kisah Khalifah Umar bin Khattab yang pernah menegur seorang sahabat karena memiliki perut buncit. Ketika sahabat tersebut menganggap kondisi itu sebagai “berkah dari Allah,” Umar justru memaknainya sebagai peringatan. Hasnan menegaskan bahwa kisah ini harus dipahami secara proporsional. Pada masa itu, perut buncit seringkali melambangkan gaya hidup bermalas-malasan, berfoya-foya, dan terlalu mencintai dunia hingga melalaikan ibadah. Oleh karena itu, yang dikritik bukanlah semata kondisi fisik, melainkan pola hidup yang mendasarinya. Sebaliknya, jika seseorang telah berupaya menjaga kesehatan, rajin bekerja, dan tekun beribadah, maka kondisi fisik tertentu yang dipengaruhi faktor biologis tidak termasuk dalam celaan tersebut.
Hasnan juga mengutip nasihat Umar bin Khattab yang menganjurkan agar menjauhi perut buncit karena dapat merusak kesehatan, memicu berbagai penyakit, dan menyebabkan kemalasan dalam melaksanakan salat. Menurutnya, kondisi fisik yang mengakibatkan seseorang lalai beribadah patut diwaspadai. Ia kemudian menyoroti data obesitas di Indonesia yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Merujuk pada World Obesity Atlas 2025, Indonesia termasuk negara dengan tingkat obesitas dewasa yang cukup tinggi, dipengaruhi oleh pola hidup dan faktor keturunan seperti hipertensi atau diabetes.
Untuk membantu jemaah mengenali kondisi tubuh, Hasnan mengajak untuk menghitung indeks massa tubuh (Body Mass Index/BMI), yaitu berat badan dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter. Indikator ini memungkinkan seseorang mengetahui apakah berat badannya kurang, ideal, berlebih, atau obesitas, sehingga langkah pencegahan dapat segera dilakukan. Hasnan mengakui perhatiannya terhadap isu obesitas berasal dari pengalaman pribadi, di mana berat badannya pernah mencapai 101 kilogram pada tahun 2012. Pengalaman ini mendorongnya meneliti konsep diet dalam Islam, yang kemudian menghasilkan artikel ilmiah pada tahun 2021 tentang kontekstualisasi Surah al-A’raf ayat 31.
Konsep diet dalam Islam, menurut Hasnan, sangat sederhana namun komprehensif. Prinsip utamanya adalah tidak makan dan minum secara berlebihan, sebagaimana diajarkan Al-Qur’an. Kedua, mengonsumsi makanan yang tidak hanya halal, tetapi juga tayyib atau baik. Ia menjelaskan bahwa makanan halal belum tentu baik bagi setiap individu, mengingat perbedaan kondisi kesehatan. Makanan yang aman bagi satu orang bisa menjadi mudarat bagi penderita penyakit tertentu. Islam juga mengajarkan keseimbangan gizi melalui asupan karbohidrat, protein, vitamin, dan serat sesuai kebutuhan tubuh. Selain menjauhi makanan haram sebagai bentuk ketaatan, umat Islam dianjurkan mengonsumsi makanan pilihan yang disebut dalam Al-Qur’an, seperti susu, kurma, dan madu.
Dalam praktiknya, Hasnan menyarankan jadwal makan yang teratur, memperkenalkan pola “3+2” - tiga kali makan utama diselingi dua kali camilan sehat. Pola ini bertujuan menjaga asupan energi stabil dan mencegah makan berlebihan. Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kalori yang masuk dan yang dikeluarkan melalui aktivitas. Menurutnya, penyebab utama kegemukan bukanlah semata banyaknya makan, melainkan ketidakseimbangan antara asupan dan pembakaran energi.
Berbicara mengenai aktivitas fisik, Hasnan membedakan antara pekerjaan rumah tangga sebagai aktivitas fisik dan olahraga. Olahraga, menurutnya, melibatkan gerakan yang terukur, sistematis, dan bertujuan spesifik untuk meningkatkan kebugaran tubuh.
Ia kemudian memaparkan manfaat olahraga pada setiap fase kehidupan. Bagi anak-anak dan remaja, olahraga mendukung perkembangan motorik, memperkuat tulang, meningkatkan kemampuan bersosialisasi, dan memperbaiki konsentrasi belajar. Untuk orang dewasa, olahraga efektif membakar kalori, menjaga tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, serta mencegah penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung. Sementara bagi lansia, olahraga membantu mempertahankan massa otot, mencegah osteoporosis, melatih keseimbangan tubuh, dan mengurangi risiko jatuh yang seringkali fatal pada usia lanjut. Oleh karena itu, Hasnan mendorong pasangan suami istri untuk saling mendukung dalam membangun kebiasaan berolahraga bersama demi menjaga kesehatan keluarga.
Hasnan menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberikan isyarat tentang pentingnya kekuatan fisik melalui kisah Talut dalam Surah al-Baqarah ayat 247. Keberhasilan Talut dan pasukannya menghadapi Jalut setelah perjalanan berat menunjukkan esensi kesiapan fisik dalam menjalankan amanah dan perjuangan. Kekuatan ini tidak instan, melainkan hasil dari latihan dan pembiasaan. Ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad Saw yang menyatakan bahwa mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meski keduanya memiliki kebaikan. Kekuatan yang dimaksud mencakup aspek spiritual dan jasmani.
Sebagai teladan, Nabi Muhammad Saw juga mempraktikkan berbagai aktivitas olahraga. Hasnan mencontohkan perlombaan lari Rasulullah bersama Aisyah, yang menunjukkan pentingnya menjaga kebugaran sekaligus membangun keharmonisan keluarga. Ia menyarankan pasangan suami istri untuk sesekali berolahraga bersama guna menumbuhkan kesehatan dan kedekatan emosional. Selain itu, ia mengisahkan pertandingan gulat antara Rasulullah Saw dan Rukanah, pegulat Quraisy yang terkenal kuat, di mana Rasulullah mampu mengalahkannya beberapa kali, menegaskan kesiapan fisik Nabi yang prima.
Menutup ceramahnya, Hasnan mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu datangnya penyakit untuk mulai mengubah pola hidup. Indikator seperti indeks massa tubuh dapat menjadi peringatan awal untuk segera memperbaiki pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik. “Jangan menunggu sakit. Ketika hasil perhitungan menunjukkan sudah masuk kategori overweight atau bahkan obesitas, mulailah mengatur pola makan dan berolahraga. Tugas manusia adalah berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya Allah yang menentukan,” pesannya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





