VAR dalam Sepak Bola: Mohammad Syifa Amin Widigdo Mengupas Dimensi Keadilan dan Kepercayaan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 13 Juli 2024 - Mohammad Syifa Amin Widigdo, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, memandang kontroversi penggunaan Video Assistant Referee (VAR) dalam sepak bola lebih dari sekadar persoalan teknis aturan pertandingan. Menurutnya, di balik setiap keputusan VAR, tersimpan dinamika kepercayaan, kecurigaan, dan pencarian keadilan yang merefleksikan cara manusia memahami suatu peristiwa. Pandangan ini disampaikan Syifa dalam sebuah podcast di kanal Wonderhome Library pada Kamis (9/7).
Syifa mengawali diskusi dengan menyoroti bagaimana hasil pertandingan sepak bola kerap ditentukan oleh keputusan wasit, bahkan lebih dari kemampuan pemain. Satu peluit atau intervensi VAR dapat mengubah jalannya laga dan memicu perdebatan sengit di antara para penonton.
Ia mengambil contoh laga antara Argentina dan Mesir yang diwarnai insiden kontroversial. Gol Mesir dianulir setelah VAR mendeteksi adanya pelanggaran terhadap Lisandro Martinez di awal rangkaian serangan. Di sisi lain, kubu Mesir merasa Mohamed Salah seharusnya mendapatkan penalti setelah dilanggar di kotak terlarang, namun wasit tidak mengabulkannya. Keputusan-keputusan ini akhirnya mengantar Argentina meraih kemenangan, sementara tim Mesir merasa dirugikan.
Secara prosedural, Syifa mengakui bahwa keputusan VAR tersebut memiliki dasar dalam Laws of the Game. VAR hanya diizinkan untuk empat situasi krusial: gol, penalti, kartu merah langsung, dan kesalahan identitas pemain. Selain itu, keputusan awal wasit hanya dapat diubah jika terdapat “kesalahan yang jelas dan nyata”.
Namun, ia mengingatkan bahwa VAR bukanlah instrumen yang menjamin kebenaran mutlak. Teknologi ini tetap bergantung pada sudut pandang kamera, interpretasi manusia, serta penafsiran wasit terhadap kontak di lapangan. Oleh karena itu, sepak bola tidak hanya berkutat pada aturan, melainkan juga melibatkan emosi publik yang memengaruhi bagaimana sebuah keputusan dimaknai.
Untuk menjelaskan fenomena ini, Syifa merujuk pada pemikiran filsuf Prancis, Paul Ricoeur, tentang dua pendekatan dalam membaca makna: hermeneutics of faith (hermeneutika kepercayaan) dan hermeneutics of suspicion (hermeneutika kecurigaan).
Pendekatan pertama, hermeneutics of faith, mendorong seseorang untuk memulai dengan sikap percaya. Dalam konteks sepak bola, kelompok ini meyakini bahwa wasit dan sistem VAR telah beroperasi sesuai prosedur yang berlaku, sehingga keputusan yang diambil patut dihormati selama memiliki landasan aturan. Syifa mencontohkan beberapa analis ESPN yang menilai intervensi VAR pada gol Mesir adalah keputusan yang tepat. Pandangan serupa diungkapkan jurnalis The Guardian, Scott Murray, yang menganggap pelanggaran terhadap Lisandro Martinez memang layak berujung tendangan bebas, sehingga gol Mesir harus dibatalkan. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, bahkan melihat kemenangan timnya sebagai buah dari mentalitas juara, bukan bantuan dari perangkat pertandingan.
Sebaliknya, pendekatan kedua, hermeneutics of suspicion, mengajak untuk memandang keputusan wasit dengan sikap kritis. Kelompok ini tidak berhenti pada pertanyaan apakah keputusan sesuai aturan, melainkan juga mempertanyakan apakah aturan tersebut diterapkan secara adil dan konsisten kepada semua pihak. Syifa menyebut Pelatih Mesir, Hossam Hassan, yang secara terbuka merasa timnya diperlakukan tidak adil. Mustafa Zico bahkan menyindir seolah turnamen diatur untuk menguntungkan Argentina. Mantan pemain Manchester United, Gary Neville, juga meragukan apakah gol serupa akan dianulir jika dicetak oleh Argentina. Kritikan serupa datang dari Roy Keane, Mark Halsey, dan mantan wasit Spanyol Eduardo Iturralde yang mempersoalkan konsistensi penggunaan VAR.
Cara pandang penuh kecurigaan ini, menurut Syifa, tidak muncul tanpa alasan. Dalam sepak bola modern, pertandingan besar seringkali melibatkan kepentingan industri, rating siaran, serta narasi besar yang mengiringi bintang-bintang seperti Lionel Messi. Oleh karena itu, ketika sebuah keputusan menguntungkan tim besar, sebagian publik cenderung segera mengaitkannya dengan kemungkinan adanya keberpihakan.
Meskipun demikian, Syifa mengingatkan bahwa kecurigaan tidak sama dengan bukti. Tuduhan konspirasi tidak dapat dibenarkan hanya berdasarkan dugaan atau ketidakpuasan terhadap hasil pertandingan.
Fenomena serupa juga terlihat pada pertandingan antara Paraguay dan Prancis. Publik mempertanyakan mengapa permainan keras Paraguay relatif minim hukuman kartu, sementara Prancis merasa dirugikan oleh keputusan wasit. Perdebatan ini menunjukkan bahwa yang dipersoalkan bukan sekadar pelanggaran atau kartu kuning, melainkan konsistensi dalam penerapan aturan.
Pelajaran Penting
Dari berbagai kontroversi ini, Syifa mengidentifikasi setidaknya tiga pelajaran krusial. Pertama, gairah publik terhadap sepak bola semakin meningkat. Berkat tayangan ulang dan media sosial, kini hampir setiap penonton dapat menganalisis pertandingan dan menyampaikan penilaiannya sendiri. Kedua, kekuatan sepak bola dunia semakin merata. Tim-tim yang sebelumnya dianggap inferior kini mampu memberikan perlawanan sengit kepada negara-negara adidaya. Argentina dapat dibuat kesulitan oleh Mesir, Prancis menghadapi tekanan dari Paraguay, dan beberapa negara unggulan seperti Jerman bahkan harus tersingkir dari turnamen. Ketiga, publik semakin mendambakan keadilan. Menurut Syifa, penonton pada dasarnya dapat menerima kekalahan, namun sulit menerima jika merasa aturan diterapkan secara tidak konsisten atau berbeda kepada tim yang berbeda.
Berdasarkan hal tersebut, ia menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada berbagai pihak. Kepada wasit, ia meminta agar tidak hanya berpegang pada kebenaran prosedural, tetapi juga menjaga konsistensi sehingga keputusan yang sama dapat menghadirkan rasa keadilan yang setara bagi kedua tim.
Sementara kepada penonton, Syifa mengajak untuk tetap bersikap kritis, namun tidak terjebak dalam kecurigaan yang berlebihan. Kritik diperlukan untuk memperbaiki kualitas pertandingan, sedangkan tuduhan konspirasi tanpa dasar justru merusak nalar sehat.
Adapun kepada FIFA, ia mendorong agar komunikasi terkait penggunaan VAR dibuat lebih transparan dan terbuka. Publik, menurutnya, perlu memahami alasan mengapa suatu insiden diperiksa, sementara insiden lain tidak. Transparansi ini diyakini akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap integritas pertandingan.
Mengakhiri pemaparannya, Syifa mengutip pandangan filsuf Albert Camus yang pernah menyatakan bahwa hampir seluruh pelajaran tentang moralitas dan kewajiban ia peroleh dari sepak bola. Kutipan ini, menurutnya, menegaskan bahwa perdebatan seputar VAR, penalti, kartu merah, atau gol yang dianulir sejatinya merupakan perdebatan tentang moralitas permainan itu sendiri.
“Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar skor pertandingan, melainkan keyakinan bahwa sepak bola masih layak dipercaya sebagai permainan yang adil, dinikmati sebagai tontonan, dan dijadikan pelajaran tentang kemanusiaan,” pungkasnya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





