Integrasi ISMUBA dan Kearifan Lokal, Pondasi Pendidikan Muhammadiyah Berkemajuan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - GOWA, 9 Juli 2020 - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irwan Akib, menegaskan bahwa pengembangan pendidikan Muhammadiyah yang progresif harus berlandaskan pada pandangan Islam Berkemajuan yang selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal. Penekanan ini disampaikan dalam Rapat Kerja Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gowa, yang berlangsung di BPPMPV KPTK Pattallassang, Kabupaten Gowa.
Dalam forum konsolidasi tersebut, Irwan Akib mengingatkan agar lembaga pendidikan Muhammadiyah senantiasa mempertahankan identitas budaya lokal di tengah gempuran modernisasi. Menurutnya, kekuatan dan keunggulan sebuah sekolah justru muncul dari kemampuannya memadukan nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab (ISMUBA) dengan kekayaan budaya yang hidup di masyarakat sekitar.
Irwan Akib, yang juga Guru Besar Bidang Pendidikan Matematika, menjelaskan bahwa upaya melestarikan nilai-nilai lokal di lingkungan sekolah Muhammadiyah merupakan strategi efektif untuk melahirkan generasi lulusan yang siap berbakti serta memiliki kecintaan mendalam terhadap daerah asalnya. "Sekolah yang tercerabut dari akar budayanya tidak akan mampu mengabdi kepada lingkungannya sendiri," tegas Irwan Akib.
Ia menambahkan, membangun pendidikan yang maju tidak berarti harus meniru model dari daerah atau negara lain secara membabi buta, yang justru berpotensi mengikis karakter sosial dan budaya setempat. Mengingat Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman budaya yang luar biasa, pendidikan tidak dapat diseragamkan dengan satu standar saja. Setiap wilayah, lanjutnya, memiliki ciri dan karakteristik unik yang patut diakomodasi.
"Sekolah Muhammadiyah perlu menghadirkan model pendidikan yang bertumpu pada kearifan lokal masing-masing," imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Irwan Akib juga menitipkan pesan kepada para pengelola sekolah Muhammadiyah untuk terus berupaya meningkatkan citra institusi, kualitas layanan pendidikan, kompetensi sumber daya manusia, serta kapasitas kepemimpinan agar mampu bersaing di era global. Ia menekankan bahwa ISMUBA di sekolah Muhammadiyah tidak hanya dipandang sebagai mata pelajaran semata, melainkan harus menjadi ruh yang menggerakkan seluruh aktivitas civitas akademika.
"Al-Islam dan Kemuhammadiyahan adalah ruh pendidikan Muhammadiyah. Kalau ruh itu hilang, sekolah Muhammadiyah tidak lagi mencerminkan jati dirinya," pungkasnya. Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa seluruh aset Muhammadiyah adalah milik Persyarikatan, sehingga pengelolaannya memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak, tanpa ada pihak yang merasa paling berhak atas kepemilikan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





