Prof Ambo Asse Ajak Aisyiyah Perkuat Dakwah Kemanusiaan dan Pendidikan Akhlak Anak

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, 29 Juni 2026
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag, mengajak Aisyiyah untuk memperluas jangkauan dakwah kemanusiaan hingga menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Pesan ini disampaikan dalam Tabligh Akbar pada Resepsi Milad ke-109 Aisyiyah tingkat Kota Makassar yang berlangsung di Gedung Balai Sidang Muktamar Unismuh Makassar pada Sabtu, 27 Juni 2026. Acara tersebut mengusung tema "Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian".
Dalam sambutannya, Prof. Ambo Asse mengawali dengan ajakan untuk senantiasa bersyukur atas nikmat Allah. Mengutip firman Allah, "la in syakartum la azidannakum", beliau menegaskan bahwa rasa syukur akan mendatangkan penambahan nikmat dari Allah. Perjalanan panjang Muhammadiyah dan Aisyiyah yang telah melampaui satu abad merupakan anugerah yang patut disyukuri melalui kerja nyata. "Kita bersyukur bahwa Aisyiyah Kota Makassar memperlihatkan kemajuan-kemajuan, dengan amal usaha dan berbagai kegiatan," ujarnya.
Dakwah Menyentuh Masyarakat
Prof. Ambo Asse menekankan bahwa Muhammadiyah dan Aisyiyah adalah gerakan Islam yang berorientasi pada dakwah serta amar makruf nahi mungkar. Oleh karena itu, tema Milad Aisyiyah ke-109 yang berfokus pada dakwah kemanusiaan dan perdamaian sangat relevan dengan misi utama persyarikatan. Dakwah kemanusiaan, menurutnya, harus dimaknai sebagai seruan kepada kebaikan, ajakan kepada hal-hal yang makruf, dan upaya aktif untuk mencegah kemungkaran, sebagaimana diamanatkan Al-Qur'an.
"Kalau Aisyiyah melakukan pengajian, jangan terbatas pada Aisyiyah saja. Libatkan masyarakat secara umum. Itulah dakwah kemanusiaan," kata Prof. Ambo Asse. Beliau menegaskan bahwa dakwah tidak boleh menjadi kegiatan eksklusif. Pengajian di tingkat ranting, misalnya, harus melibatkan warga sekitar agar nilai-nilai kebaikan dapat tersebar lebih luas. Dakwah kemanusiaan melampaui sekadar nasihat keagamaan; ia mencakup ajakan untuk hidup dalam kebaikan melalui pendidikan, kepedulian sosial, penguatan keluarga, pemberdayaan ekonomi, dan pembinaan akhlak. Selain itu, penting juga untuk menghargai kearifan lokal selama tidak bertentangan dengan akidah dan nilai moral. "Tidak ada yang didakwahkan kecuali kebaikan-kebaikan yang sesuai dengan ajaran agama," tambahnya.
Setiap aktivitas Muhammadiyah dan Aisyiyah, lanjut Prof. Ambo Asse, harus menjadi sarana untuk menghadirkan kebaikan dan perdamaian. Dakwah yang benar akan menciptakan masyarakat yang saling menghargai, hidup rukun, dan menjauhi segala bentuk kerusakan. Beliau juga mengapresiasi capaian Aisyiyah Kota Makassar dalam amal usaha dan kegiatan sosial sebagai bentuk syukur kepada Allah.
Akhlak sebagai Inti Pendidikan
Selain dakwah kemanusiaan, Prof. Ambo Asse juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter anak, yang ia sebut sebagai pembinaan akhlak. Menurutnya, konsep karakter harus kembali pada fondasi akhlak mulia dalam Islam. "Pembinaan karakter itu adalah pembinaan akhlak yang harus dilakukan," tegasnya.
Beliau menyambut baik pernyataan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengenai penambahan pelajaran agama dan akhlak di sekolah. Pendidikan agama yang kuat sangat dibutuhkan untuk membentuk pribadi anak yang beriman, jujur, dan memiliki rasa malu. Banyak persoalan sosial, termasuk korupsi, berakar dari lemahnya akhlak. "Kalau kamu tidak punya rasa malu, kerjakan apa saja yang kamu mau," kutipnya dari sebuah hadis.
Prof. Ambo Asse memberikan contoh sederhana tentang pendidikan kejujuran. Anak-anak harus dibiasakan untuk tidak mengambil barang yang bukan miliknya, bahkan jika ditemukan di jalan. Orang tua tidak boleh senang ketika anak membawa pulang barang temuan, karena sikap tersebut dapat merusak kejujuran anak. "Kalau ada uang yang kamu lihat di jalanan, biarkan saja. Nanti juga ada yang punya kembali mencari," pesannya. Pendidikan akhlak harus dimulai dari hal-hal kecil sehari-hari, seperti menggunakan tangan kanan saat memberi dan menerima, menghormati orang tua, menyayangi yang lebih muda, dan berkata benar.
Keluarga Sakinah dan Generasi Kuat
Dalam bagian lain ceramahnya, Prof. Ambo Asse menggarisbawahi peran sentral keluarga sebagai lembaga pendidikan utama. Ibu memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak karena interaksi yang intens. Namun, pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab ibu; ayah juga harus terlibat dalam pengawasan dan keteladanan. "Kalau mau mengader anak, tidak boleh berbeda ibu dengan bapak. Harus searah," ujarnya, menekankan pentingnya keselarasan antara orang tua.
Keluarga memiliki amanah besar untuk melahirkan generasi yang kuat, bukan generasi yang lemah, sesuai pesan Al-Qur'an agar orang beriman tidak meninggalkan keturunan yang lemah. Ketegasan dalam mendidik anak diperlukan, namun harus dalam koridor ketakwaan kepada Allah, bukan kekerasan.
Menanggapi isu perceraian yang sebelumnya disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Makassar, Prof. Ambo Asse menyatakan bahwa keluarga sakinah dapat terwujud jika suami dan istri saling mengenal, memahami, menghargai, dan menjaga. "Rahasia istri tidak boleh dibocorkan oleh suami. Rahasia suami tidak boleh dibocorkan oleh istri. Rahasia bersama apalagi," katanya. Banyak rumah tangga yang retak akibat hilangnya pengertian dan rasa hormat. Oleh karena itu, suami dan istri harus menjaga komunikasi, saling memuliakan, dan tidak membuka aib rumah tangga kepada pihak luar. Rumah tangga yang kokoh akan menghasilkan generasi yang kuat, sementara keruntuhan rumah tangga dapat berdampak negatif pada tumbuh kembang anak. "Kita harus memperkokoh rumah tangga untuk melahirkan generasi yang kuat dan berkualitas," pungkasnya.
Islam Kaffah dan Perdamaian
Prof. Ambo Asse juga menguraikan makna berislam secara kaffah dalam pandangan Muhammadiyah, yang mencakup empat aspek utama: akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawiah. Akidah harus berlandaskan tauhid murni, menjauhi segala bentuk syirik. Akhlak mulia tidak hanya diajarkan secara teori, tetapi harus dibiasakan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ibadah harus mengikuti perintah Allah dan teladan Rasulullah. Sementara itu, dalam muamalah duniawiah, segala sesuatu pada dasarnya diperbolehkan selama tidak ada larangan agama.
Pesan ini dikaitkan dengan tema perdamaian. Berbuat baik kepada sesama adalah bagian integral dari dakwah kemanusiaan. Umat Islam harus berdamai dengan semua orang dan tidak menciptakan kerusakan di muka bumi. "Berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Artinya, berdamailah dengan semua orang," tuturnya.
Di akhir ceramahnya, Prof. Ambo Asse mengajak seluruh elemen Aisyiyah, Muhammadiyah, dan organisasi otonom lainnya untuk terus berkarya dalam kebaikan. Menurutnya, gerakan Islam harus senantiasa menghadirkan kebaikan dalam kehidupan dunia sebagai bekal menuju akhirat.
Resepsi Milad ke-109 Aisyiyah Kota Makassar ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Wakil Wali Kota Makassar Alia Mustika Ilham, Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Selatan Dr. Mahmudah, M.Hum, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar Dr. H. Darwis Muhdina, M.Ag, Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Makassar Dra. Hj. Suryana Yusuf, serta unsur pimpinan cabang dan ranting Aisyiyah se-Kota Makassar. Peringatan Milad ini menjadi momentum refleksi bagi gerakan perempuan berkemajuan, dengan harapan Aisyiyah terus menjadi pelopor kebaikan dan perdamaian melalui dakwah kemanusiaan, pembinaan akhlak, dan penguatan keluarga.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





