Muhammadiyah Perkuat Pilar Ekonomi Guna Menopang Dakwah Berkelanjutan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - JAKARTA, 27 Juni 2024 - Memasuki usia 114 tahun, Muhammadiyah selama ini mengandalkan dua sumber utama pendanaan dakwahnya: filantropi dan optimalisasi potensi internal Persyarikatan. Namun, untuk menjamin keberlanjutan dakwah di masa mendatang, diperlukan strategi penguatan yang lebih komprehensif.
Hal tersebut disampaikan oleh Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief, dalam Pengajian PP Muhammadiyah bertajuk “Resiliensi Keuangan untuk Dakwah Berkelanjutan” yang berlangsung di Kantor Dakwah PP Muhammadiyah Jakarta, Jumat malam (26/6).
Menurut Hilman, penguatan pilar ekonomi dan bisnis menjadi krusial. Ia menyoroti bahwa Persyarikatan masih belum memiliki entitas bisnis atau pabrik yang benar-benar mapan untuk memenuhi kebutuhan internal warganya.
“Kita belum punya perusahaan-perusahaan dan bisnis yang mapan betul, pabrik yang bisa menyuplai kebutuhan warganya, baik untuk rumah sakitnya, untuk perguruan tinggi, ataupun kehidupan rumah tangga,” ujarnya.
Saat ini, Muhammadiyah tengah berupaya menata kekuatan ekonomi dan bisnisnya agar mampu menyuplai kebutuhan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) serta keluarga besar Muhammadiyah. Inisiatif ini mendapat sambutan positif dari warga Persyarikatan, yang telah banyak mengembangkan model ekonomi dan bisnis berbasis sociopreneur di berbagai daerah.
Hilman berharap semangat ini terus berlanjut, mengingat urgensi pembangunan pilar ekonomi dan bisnis bagi Muhammadiyah, terutama dengan semakin banyaknya konglomerat yang merambah sektor-sektor yang selama ini menjadi medan dakwah Muhammadiyah, seperti rumah sakit, sekolah, dan perguruan tinggi.
Perlu Perspektif Baru untuk Memproyeksikan Manajemen Keuangan
Meskipun Muhammadiyah kerap disebut sebagai organisasi keagamaan terkaya keempat di dunia - sebuah data yang kebenarannya masih perlu diverifikasi - Hilman menegaskan bahwa hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi Persyarikatan untuk mengkalkulasi aset-asetnya secara akurat.
Proses kalkulasi ini telah dimulai dengan penguatan regulasi di berbagai AUM, termasuk rumah sakit, perguruan tinggi, dan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Namun, Hilman mengakui adanya tantangan, mengingat rata-rata AUM didirikan pada era 1970-an dengan regulasi yang berbeda. Ia berkelakar bahwa mengikuti regulasi baru membutuhkan biaya besar, namun tidak mengikutinya akan membuat AUM tertinggal zaman.
Oleh karena itu, setelah fase penguatan regulasi, Muhammadiyah menunjukkan ekspansi signifikan dalam 10 hingga 20 tahun terakhir, dengan membangun berbagai inisiatif baru yang diproyeksikan untuk seratus tahun ke depan.
Sebagai organisasi Islam dengan cita-cita besar, Hilman menekankan pentingnya Muhammadiyah untuk mengadopsi pengetahuan dan perspektif baru. Hal ini krusial untuk menjadikan masa kini sebagai fondasi kokoh dalam menyongsong masa depan Persyarikatan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





