Muhammadiyah Dorong Kemandirian Ekonomi Berbasis Sociopreneur, Wujudkan Semangat Kiai Dahlan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - PEKANBARU, Sabtu, 27 Juni
Pilar ekonomi telah ditetapkan sebagai salah satu arah gerak dakwah Muhammadiyah yang berkemajuan sejak Muktamar ke-47 di Makassar. Penegasan ini kembali disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, bahwa seluruh upaya dakwah Muhammadiyah dalam membangun pilar ekonomi tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan sepihak, melainkan berlandaskan prinsip sociopreneur.
Pernyataan tersebut disampaikan Muhadjir Effendy dalam puncak Milad ke-18 Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) di Pekanbaru, pada Sabtu, 27 Juni.
Lebih lanjut, Muhadjir menjelaskan bahwa penguatan pilar ekonomi Persyarikatan merupakan wujud nyata penerjemahan semangat Kiai Ahmad Dahlan. Semangat ini menekankan pentingnya kemandirian dan pemikiran Islam Berkemajuan yang senantiasa dipegang teguh oleh Muhammadiyah.
Berbagai langkah konkret telah dimulai untuk merealisasikan visi ini. Salah satunya adalah pembangunan Pabrik Infus Suryavena di Malang. Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan 130 Rumah Sakit Muhammadiyah-'Aisyiyah (RSMA) yang selama ini mengandalkan produk infus dari luar.
Muhadjir menambahkan, pabrik infus ini didirikan melalui skema 'urunan' saham yang melibatkan beberapa Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah (PTMA) dan RSMA, sehingga keuntungan yang dihasilkan dapat dibagi secara adil di antara para pemegang saham.
Mengenai progresnya, Muhadjir menargetkan, "Semoga sebelum Muktamar 49 itu sudah berdiri pabriknya- kita kejar. Dan kapasitasnya sekitar 15 juta per tahun produksi," ujarnya.
Kapasitas produksi pabrik ini direncanakan akan ditingkatkan hingga dua kali lipat. Hal ini bertujuan agar produk infus Suryavena tidak hanya melayani jaringan RSMA, tetapi juga dapat menjangkau rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya di luar Persyarikatan.
Selain itu, Muhammadiyah juga tengah mengembangkan jaringan ritel. "Intinya Muhammadiyah harus mengejar kemandirian,β¦.. saat ini kita juga membangun mart, namanya boleh macam-macam, tapi yang diinisiasi oleh PP Muhammadiyah itu Mentarimu Mart," ungkap Muhadjir.
Model gerakan ekonomi ini diharapkan mampu menjadi solusi bagi produk-produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan Muhammadiyah. Selama ini, permasalahan utama yang dihadapi kelompok dampingan UMKM Muhammadiyah adalah akses pasar.
Muhadjir menilai, produk UMKM dampingan Muhammadiyah memiliki kualitas yang sangat memadai untuk bersaing. Namun, karena keterbatasan jangkauan pasar, produk-produk tersebut seringkali terpinggirkan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





