Muhammadiyah Apresiasi Program Revitalisasi Sekolah, Dorong Peningkatan Kualitas Pendidikan Nasional

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 27 Juni 2020 - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI) dalam menjalankan Program Revitalisasi Sekolah. Program ini dipandang sebagai langkah strategis dan krusial untuk memperbaiki kondisi sarana serta prasarana pendidikan di berbagai sekolah yang selama ini mengalami kerusakan signifikan.
Abdul Mu'ti, yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia sekaligus Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, menjelaskan bahwa prioritas revitalisasi pemerintah saat ini diarahkan pada sekolah-sekolah yang terdampak bencana alam, institusi pendidikan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), serta sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan berat atau total.
Dalam sebuah siaran di TVMu pada Sabtu (27/6), Mu'ti menyoroti kondisi di Aceh. "Khusus Aceh, dari sekitar 3.000 lebih sekolah yang rusak, hampir 3.000 sudah mulai dibangun. Sisanya sekitar 180 sekolah masih menunggu penetapan lokasi baru oleh pemerintah daerah karena lokasi lama tidak lagi aman akibat terdampak banjir," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah telah mengalokasikan anggaran yang memadai untuk pembangunan ini. Sambil menunggu proses konstruksi, Kemendikdasmen juga menyediakan sekolah dan kelas-kelas darurat guna memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan di daerah yang terdampak bencana.
Mu'ti menegaskan bahwa kini tidak ada lagi siswa yang terpaksa belajar di tenda-tenda. "Sekarang siswa sudah bisa belajar, meskipun belum semuanya dalam kondisi ideal. Masih ada yang tergabung di sekolah lain, menggunakan fasilitas umum, atau belajar di sekolah darurat. Tapi kami tegaskan bahwa sekarang sudah tidak ada siswa yang belajar di tenda-tenda," tegasnya.
Di sisi lain, Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, turut menyambut baik program revitalisasi ini. Menurutnya, perbaikan sarana dan prasarana sekolah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak, mengingat banyaknya sekolah yang mengalami kerusakan selama bertahun-tahun.
Didik secara khusus mengapresiasi model pembangunan berbasis swakelola yang melibatkan partisipasi aktif dari pihak sekolah dan masyarakat sekitar. Ia meyakini bahwa pendekatan ini akan menumbuhkan semangat kebersamaan dan rasa kepemilikan yang lebih kuat terhadap hasil pembangunan. "Yang bagus dari program revitalisasi ini adalah keterlibatan sekolah dan masyarakat. Ketika sekolah selesai dibangun, tentu ini akan meningkatkan rasa kepemilikan yang lebih tinggi karena pembangunan itu merupakan hasil kerja sama mereka sendiri," jelasnya.
Meskipun demikian, Didik Suhardi juga menekankan pentingnya pengawasan yang ketat untuk menjaga kualitas pembangunan. Ia berpendapat bahwa fungsi pengawasan harus diemban oleh pihak yang memiliki pengalaman dan standar khusus terkait sarana dan prasarana pendidikan. "Tentu ini adalah prestasi yang luar biasa karena berhasil mengubah konsep pembangunan dari model kontraktor menjadi swakelola," pungkasnya.
Program revitalisasi sekolah ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mempercepat pemenuhan layanan pendidikan yang layak dan aman bagi seluruh peserta didik. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat dan organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah, program ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan sekolah-sekolah yang rusak sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan belajar di berbagai penjuru Indonesia.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





