Merajut Kebahagiaan di Usia Senja: Kesiapan Dini dan Peran Keluarga

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 29 Juni 2020 - Wakil Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Siti Bahiroh, menegaskan bahwa proses penuaan merupakan kepastian bagi setiap individu. Namun, memilih untuk menjalani masa lanjut usia (lansia) dengan kebahagiaan, kesehatan, dan keberdayaan adalah sebuah keputusan yang memerlukan persiapan matang sejak dini, meliputi aspek mental, fisik, dan spiritual.
Pernyataan tersebut disampaikan Siti Bahiroh dalam sebuah perbincangan di podcast Indahnya Cahaya Islam yang dipandu oleh Adib Sofia. Ia mengajak publik untuk memandang masa tua bukan sebagai fase yang menakutkan, melainkan sebagai tahapan kehidupan yang dapat diisi dengan makna dan produktivitas. Meningkatnya angka harapan hidup global, termasuk di Indonesia, menyebabkan populasi lansia terus bertambah, sehingga menuntut perhatian lebih dari keluarga dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang ramah lansia.
Kesiapan mental, menurut Siti Bahiroh, menjadi fondasi utama dalam menghadapi usia senja. Individu yang telah mempersiapkan diri akan lebih mampu menerima berbagai perubahan alami yang menyertai penuaan, seperti penurunan kekuatan fisik, masa pensiun, kehilangan teman sebaya, hingga kepergian pasangan hidup.
"Ketika memasuki usia lansia, seseorang akan menghadapi berbagai kehilangan. Karena itu, sejak sekarang kita perlu mempersiapkan mental sekaligus memperkuat spiritualitas agar tidak mudah resah maupun gelisah," ujarnya.
Ia menambahkan, kedekatan dengan Allah melalui doa, zikir, dan ibadah menjadi sumber ketenangan batin yang esensial untuk melewati fase kehidupan ini dengan keikhlasan dan kedamaian. Siti Bahiroh juga mengingatkan bahwa penuaan adalah sunatullah, sebagaimana firman Allah dalam Surah Yasin ayat 68 yang menjelaskan kemunduran kondisi fisik manusia seiring bertambahnya usia. Ayat ini menjadi pengingat bahwa yang perlu dipersiapkan bukan sekadar usia panjang, melainkan kualitas hidup yang bermakna. Ia mengadaptasi ungkapan populer, "Tua itu pasti, tetapi tua dengan bahagia, sehat, dan berdaya adalah pilihan."
Silaturahmi Menjadi Kunci Kebahagiaan Lansia
Salah satu upaya penting untuk menjaga kebahagiaan lansia adalah dengan mempererat silaturahmi. Siti Bahiroh menjelaskan bahwa interaksi sosial yang baik memberikan dampak positif pada kondisi psikologis seseorang.
"Lansia yang tetap aktif bersosialisasi akan merasa dirinya masih dibutuhkan, dihargai, dan memiliki makna dalam kehidupan," jelasnya.
Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menganjurkan silaturahmi. Rasulullah saw. bersabda bahwa siapa pun yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaknya menyambung tali silaturahmi. Selain bernilai ibadah, silaturahmi juga terbukti bermanfaat bagi kesehatan mental dan kualitas hidup.
Selain menjaga hubungan sosial, Siti Bahiroh menekankan pentingnya menerapkan pola hidup sehat ala Rasulullah saw., seperti kebiasaan berjalan kaki, makan tidak berlebihan, dan menjaga pola konsumsi. Kebiasaan ini relevan bagi semua usia, khususnya lansia. Ia mengingatkan bahwa kemampuan fisik lansia berbeda dengan masa muda, sehingga pengaturan pola makan yang bijaksana, seperti mengonsumsi secukupnya dan berhenti sebelum kenyang, sangat penting untuk menjaga kesehatan.
Lansia juga perlu memahami perubahan psikologis, seperti peningkatan sensitivitas, yang merupakan bagian dari proses penuaan. Kemampuan mengelola perasaan agar tidak mudah tersinggung atau merasa diabaikan sangat dibutuhkan. Cara berpikir positif akan membantu lansia menjalani hidup dengan lebih tenang, memahami bahwa tidak semua kurangnya perhatian berarti hilangnya kasih sayang.
Siti Bahiroh juga menolak anggapan bahwa lansia adalah beban keluarga. Ia menegaskan bahwa lansia memiliki peran vital melalui pengalaman hidup, kebijaksanaan, dan nasihat yang berharga.
"Lansia tetap memiliki kekuatan dalam keluarga, bukan semata-mata kekuatan fisik, tetapi kekuatan berupa pengalaman dan ilmu yang tidak dimiliki generasi muda," katanya.
Oleh karena itu, ia tidak menganjurkan pemisahan lansia dari keluarga kecuali dalam kondisi darurat. Lingkungan keluarga yang hangat dianggap sebagai tempat terbaik bagi lansia untuk merasa dihargai dan dicintai. Keberadaan lansia dalam keluarga seharusnya tetap dilibatkan dalam musyawarah dan pengambilan keputusan, karena pengalaman mereka adalah aset yang tak ternilai.
Pemberdayaan lansia, menurut Siti Bahiroh, berawal dari lingkungan keluarga melalui praktik birrul walidain atau berbakti kepada orang tua. Ia menekankan bahwa penghormatan kepada orang tua kandung maupun mertua tidak boleh dibedakan, keduanya berhak mendapatkan perhatian dan dilibatkan dalam kehidupan keluarga. Selain itu, keluarga juga perlu memperhatikan kebutuhan fisik lansia, termasuk dalam desain rumah dan fasilitas umum agar ramah lansia, memastikan keamanan dan kenyamanan mereka. Lansia adalah kelompok rentan yang membutuhkan perhatian ekstra, sehingga keluarga harus memastikan orang tua mereka sendiri telah memperoleh perhatian dan penghormatan yang layak sebelum berbicara tentang pemberdayaan lansia secara lebih luas.
Menutup perbincangan, Siti Bahiroh mengajak masyarakat untuk mempersiapkan masa tua sejak usia produktif. Persiapan ini mencakup menjaga kesehatan dengan gizi seimbang, aktivitas fisik ringan, memperkuat spiritualitas melalui doa dan zikir, serta menjaga silaturahmi. Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan jumlah lansia harus direspons dengan pembangunan peradaban yang semakin ramah terhadap kelompok usia lanjut, menghargai, melibatkan, dan memberi ruang kontribusi sesuai kemampuan mereka.
"Lansia yang bahagia, sehat, dan berdaya bukan hanya menjadi tanggung jawab dirinya sendiri, tetapi juga merupakan tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan seluruh pihak agar mereka tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan bersama," pungkasnya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





