Membangun Karakter Pemimpin Melalui Budaya Belajar di Lingkungan Keluarga

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - PANDEGLANG, 29 Juni 2024 - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan urgensi penguatan budaya belajar dalam keluarga sebagai pilar utama pembentukan sumber daya manusia unggul dan calon pemimpin masa depan. Penekanan ini disampaikan Fajar saat mengisi Pengajian Daerah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pandeglang sekaligus pengukuhan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Pandeglang periode 2026-2030 di Gedung BPSDMD Provinsi Banten, Pandeglang, Ahad (28/6). Acara tersebut mengangkat tema "Negarawan dan Muhammadiyah dalam Membangun Peradaban".
Fajar Riza Ul Haq, yang juga Ketua Lembaga Kajian dan Kesejahteraan Sosial (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menjelaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak terbentuk secara instan. Prosesnya melibatkan perjalanan panjang, mulai dari belajar dari bawah, menghadapi berbagai tantangan, membangun ketahanan diri, hingga terus-menerus menguatkan karakter dan kapasitas personal. “Menjadi pemimpin tidak instan. Ada proses merangkak dari bawah, ada tempaan, ada kerja keras. Karena itu, pola asuh keluarga menjadi penting agar anak-anak kita tumbuh dengan daya tahan dan resiliensi yang kuat,” ujar Fajar.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa sikap negarawan adalah karakter yang ditanamkan sejak dini melalui lingkungan keluarga, sekolah, dan sosial. Sikap ini mencakup kemampuan berpikir jauh ke depan, berakhlak mulia, memiliki daya tahan, serta kesediaan untuk berkarya demi kepentingan umat, bangsa, dan kemajuan daerah di masa mendatang.
Fajar juga menekankan bahwa kemajuan suatu daerah tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan sumber daya alamnya, melainkan lebih dominan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dimilikinya. Sebuah daerah dengan potensi besar tidak akan otomatis maju jika tidak ditopang oleh budaya belajar yang kokoh. “Daerah yang kaya tidak menjamin masyarakatnya sejahtera. Kemajuan daerah sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Dan SDM yang berkualitas lahir dari budaya belajar yang kuat,” tegasnya.
Mengingat Indonesia memiliki bonus demografi yang signifikan, dengan sekitar 64,22 juta jiwa pemuda pada tahun 2024 atau seperlima dari total populasi, Fajar menyoroti bahwa hanya 11,39 persen pemuda yang berhasil menyelesaikan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Oleh karena itu, agenda kepemudaan tidak cukup hanya berfokus pada mobilisasi atau kegiatan organisasi semata. Pemuda harus didorong untuk meningkatkan kapasitas diri, pendidikan, keterampilan, kepemimpinan, serta kesiapan dalam membangun keluarga. “Pemuda Pandeglang harus berani menjadi sarjana, magister, bahkan doktor. Selalu ada jalan bagi mereka yang memiliki kemauan,” seru Fajar.
Menurutnya, fondasi budaya belajar harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Anak-anak belajar melalui teladan yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, kedisiplinan, menghargai waktu, hingga menumbuhkan minat membaca. “Anak belajar dari lingkungan terdekat. Maka keluarga, terutama orang tua, menjadi faktor penting dalam membentuk karakter dan kebiasaan belajar anak,” ungkapnya. Pandangan ini selaras dengan kajian Bank Dunia dalam laporan Building Human Capital Where It Matters: Homes, Neighborhoods, and Workplaces, yang menggarisbawahi bahwa pembentukan kualitas manusia tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di rumah, lingkungan, dan tempat kerja. Rumah memiliki peran krusial dalam membentuk kesehatan, pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan hidup anak sejak usia dini.
Fajar turut menyoroti tantangan pola asuh di era digital. Ia mengingatkan bahwa anak-anak usia dini, bahkan balita, kini sudah sangat akrab dengan gawai dan media sosial. Kondisi ini menimbulkan risiko anak-anak lebih banyak “diasuh” oleh algoritma digital daripada interaksi langsung dengan anggota keluarga. Ketergantungan berlebihan pada gawai dan paparan konten digital dapat memengaruhi konsentrasi belajar, kedalaman berpikir, serta tumbuh kembang anak, sebuah fenomena yang populer disebut sebagai brain rot. “Jangan sampai anak-anak kita sejak kecil lebih banyak diasuh oleh algoritma TikTok, Instagram, dan media sosial lainnya. Mulai sekarang, perhatikan pola asuh dan budaya belajar anak di rumah,” pesannya.
Panduan keluarga di era digital yang diterbitkan UNESCO dan Réseau Canopé/CLEMI pada tahun 2026 juga menegaskan bahwa orang tua dan pendidik sering merasa belum sepenuhnya siap mendampingi anak menghadapi screen time, media sosial, disinformasi, cyberbullying, dan kecerdasan buatan. Oleh karena itu, peran sekolah saja tidaklah cukup; apa yang dibangun di kelas harus berlanjut di rumah melalui dialog, keteladanan, dan kepercayaan antara orang tua dan anak.
Fajar Riza Ul Haq menutup arahannya dengan mengajak Pemuda Muhammadiyah Pandeglang untuk memperkuat kolaborasi dalam kebaikan, mengutip semangat ta’awanu ‘alal birri wat taqwa, yang berarti saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Ia menekankan bahwa Pemuda Muhammadiyah harus menjadi bagian integral dari gerakan kolaboratif untuk membangun pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Dengan karakter yang kuat, budaya belajar yang tinggi, dan semangat gotong royong, pemuda memiliki potensi besar untuk mewujudkan generasi emas Indonesia.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Wakil Bupati Pandeglang Iing Andri Supriadi, Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang Desri Arwen, Ketua PDM Pandeglang Ukun Kurnia, serta Direktur Eksekutif MAARIF Institute Andar Nubowo.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





