LP2M PWM Sulsel Buka Daurah Tahfidz 60 Hari di Malino, Targetkan Santri Hafal 30 Juz

MUHAMMADIYAH SULSEL, GOWA - Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan resmi membuka Program Daurah Tahfidz dan Bahasa Arab Angkatan IV di Pusdiklat Babul Ilmi Bikokoro, Malino, Kabupaten Gowa, Sabtu, 20 Juni 2026. Program ini diikuti 33 santri terpilih dengan target menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur'an dalam pembinaan intensif selama 60 hari.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Markaz Tahfidz Ma'had Al-Birr Universitas Muhammadiyah Makassar. Pola pembinaannya dibuat dalam sistem karantina penuh agar peserta memiliki ruang belajar yang lebih tenang, disiplin, dan minim gangguan selama proses menghafal Al-Qur'an serta mempelajari bahasa Arab.
Sekretaris LP2M PWM Sulsel, Dr. Muh Ali Bakri, menegaskan bahwa suasana belajar yang kondusif menjadi salah satu syarat utama keberhasilan program. Karena itu, orang tua diminta memberi kepercayaan penuh kepada pembimbing selama masa karantina berlangsung.
Menurut dia, dua bulan pembinaan harus dimanfaatkan untuk bermujahadah secara sungguh-sungguh. Program tidak dirancang sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai fase pembentukan santri penghafal Al-Qur'an yang siap ditempa dalam ritme belajar yang padat dan terukur.
Koordinator program, Ustaz Abd Aziz, menjelaskan bahwa peserta akan menjalani enam sesi halaqah tahfidz setiap hari, dimulai sejak sebelum Subuh hingga malam. Jadwal tersebut disusun agar santri terbiasa menjaga ritme hafalan, memperkuat kedisiplinan, dan melatih daya tahan dalam proses belajar intensif.
Selain target hafalan, peserta juga dibina dalam penguasaan bahasa Arab. Kombinasi dua aspek ini dipandang penting karena Muhammadiyah membutuhkan kader pesantren yang kuat dalam hafalan, memahami bahasa sumber keilmuan Islam, dan siap melanjutkan proses kaderisasi ulama di masa depan.
Para santri yang mengikuti program ini merupakan hasil seleksi tingkat wilayah dan datang dari berbagai lembaga pendidikan Muhammadiyah, seperti Darul Arqam Muhammadiyah Gombara Makassar, Muhammadiyah Boarding School Palopo, Darul Arqam Muhammadiyah Punnia, serta Darul Fallah Bisoloro Unismuh Makassar. Komposisi peserta tersebut menunjukkan bahwa program ini menjadi ruang kaderisasi bersama bagi pesantren Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.
Dukungan keluarga juga dianggap sangat menentukan. Dalam sambutannya, perwakilan wali santri mengingatkan bahwa orientasi utama program ini bukan semata mengejar angka 30 juz, melainkan membangun niat yang lurus serta kesiapan menjaga hafalan melalui murajaah yang konsisten.
LP2M PWM Sulsel menegaskan bahwa para muhafiz tidak hanya menerima setoran hafalan, tetapi juga mengasuh peserta selama 24 jam. Pendampingan itu mencakup penguatan akhlak, ketahanan mental, kedisiplinan, dan kebiasaan hidup yang menopang proses belajar.
Melalui Daurah Tahfidz dan Bahasa Arab Angkatan IV ini, LP2M PWM Sulsel berharap lahir generasi penghafal Al-Qur'an yang tidak hanya unggul dalam hafalan, tetapi juga matang dalam karakter, memiliki semangat kepemimpinan, dan siap memberi manfaat di tengah umat.





