Laboratorium VR Karya Mahasiswa Unismuh Buka Cara Baru Belajar Fisika

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Melani Putria Dewi Sari, mengembangkan media pembelajaran berbasis Virtual Reality untuk eksperimen spektrum emisi hidrogen di tingkat SMA. Inovasi ini tidak berhenti sebagai proyek akademik di kampus, tetapi juga menghasilkan dua publikasi ilmiah yang menembus jurnal bereputasi nasional dan internasional.
Pengembangan laboratorium VR itu menggunakan perangkat Meta Oculus untuk menghadirkan pengalaman praktikum yang lebih imersif, interaktif, dan mendekati eksperimen nyata. Melalui simulasi tersebut, siswa dapat mengamati spektrum emisi hidrogen, memahami proses eksperimen, dan menangkap konsep-konsep fisika yang selama ini cenderung abstrak jika hanya dijelaskan melalui buku teks atau penjelasan verbal di kelas.
Bagi pembelajaran fisika di sekolah, model ini memberi nilai tambah yang jelas. Media VR memungkinkan sekolah dengan keterbatasan laboratorium tetap menghadirkan pengalaman eksperimen yang bermakna. Siswa tidak sekadar membaca teori, tetapi bisa melihat visualisasi fenomena, menelusuri tahapan percobaan, dan memahami hubungan antara konsep ilmiah dengan praktik pengamatan yang biasanya hanya tersedia di laboratorium lengkap.
Capaian Melani kemudian diperkuat lewat dua artikel ilmiah yang ia tulis sebagai penulis pertama. Artikel berjudul “Enhancing High School Spectroscopy Education: The Efficacy of a Virtual Reality Laboratory for Hydrogen Emission Experiments” diterbitkan di Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang terindeks SINTA 2. Artikel lainnya berjudul “The Effect of Virtual Reality-Based Experiments on Students' Conceptual Understanding of the Hydrogen Emission Spectrum in High School” terbit di jurnal internasional Physics Education yang terindeks Scopus Q2.
Kedua publikasi itu menunjukkan bahwa inovasi yang dikembangkan tidak hanya relevan untuk praktik pembelajaran, tetapi juga kuat secara akademik. Temuan penelitiannya memperlihatkan penggunaan VR dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar serta membantu mereka memahami konsep-konsep fisika yang rumit secara lebih konkret. Dengan kata lain, teknologi diposisikan bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai sarana pedagogis yang betul-betul memperbaiki kualitas pembelajaran.
Saat ini Melani juga masih menunggu hasil penilaian terhadap dua artikel ilmiah lain yang sedang dalam proses review di jurnal internasional terindeks Scopus. Jika keduanya lolos, rekam jejak akademiknya sebagai mahasiswa sarjana akan semakin kuat, sekaligus memperlihatkan bahwa budaya riset di lingkungan Pendidikan Fisika FKIP Unismuh Makassar berkembang cukup serius.
Prestasi tersebut tidak dilepaskan dari pendampingan dosen pembimbing. Prof. Hartono Bancong, M.Pd., Ph.D., menilai teknologi Virtual Reality memiliki potensi besar untuk mengubah cara siswa mempelajari fisika, terutama pada materi-materi abstrak seperti spektroskopi. Menurutnya, visualisasi yang lebih nyata membuat siswa tidak hanya menghafal teori, tetapi juga dapat berinteraksi dengan representasi fenomena fisika secara langsung di ruang virtual.
Pandangan serupa disampaikan Dr. Rahmawati, S.Pd., M.Pd. Ia menegaskan pengembangan media pembelajaran harus berangkat dari kebutuhan nyata peserta didik dan sejalan dengan perkembangan teknologi. Karena itu, hasil penelitian Melani dinilai penting bukan hanya sebagai capaian akademik pribadi, tetapi juga sebagai inovasi yang bisa dimanfaatkan sekolah untuk memperbaiki kualitas pembelajaran sains.
Ketua Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Unismuh Makassar, Dr. Ma'ruf, S.Pd., M.Pd., juga mengapresiasi pencapaian tersebut. Ia menyebut prestasi Melani menjadi bukti bahwa mahasiswa Pendidikan Fisika memiliki ruang luas untuk berkembang dalam riset, inovasi teknologi pembelajaran, dan publikasi ilmiah. Program studi, kata dia, terus mendorong budaya riset, penguasaan teknologi, dan keberanian memublikasikan karya ilmiah sejak di bangku sarjana.
Bagi Unismuh Makassar, keberhasilan ini memberi pesan yang lebih luas. Kampus tidak hanya melahirkan calon guru, tetapi juga inovator pendidikan yang mampu merespons tantangan era digital. Pengembangan laboratorium VR untuk eksperimen spektrum emisi hidrogen menunjukkan bahwa mahasiswa dapat berkontribusi langsung pada transformasi pembelajaran sains, sekaligus mengharumkan nama institusi melalui karya yang diakui di tingkat nasional dan internasional.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





