Ketahanan Finansial Muhammadiyah: Pilar Dakwah Berkelanjutan dan Kepercayaan Publik

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - JAKARTA, 26 JUNI 2020 - Isu ketahanan finansial, yang lazim dibahas di lingkungan korporasi, kini menjadi sorotan dalam Pengajian Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Langkah ini menunjukkan ikhtiar organisasi dalam memperkuat fondasi dakwah yang berkelanjutan di tengah berbagai tantangan.
Amri Yusuf, Anggota Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) RI, hadir sebagai narasumber dalam pengajian bertajuk “Resiliensi Keuangan untuk Dakwah Berkelanjutan” yang diselenggarakan di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, pada Jumat malam, 26 Juni 2020. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap Muhammadiyah yang berani mengangkat tema penting ini dalam forum pengajian. Menurut Amri, pembahasan tersebut merefleksikan perhatian besar Muhammadiyah terhadap kelangsungan gerakan dakwah melalui tata kelola keuangan yang solid.
Amri Yusuf menjelaskan bahwa aset Muhammadiyah yang tersebar dalam berbagai sektor investasi langsung tidak hanya berfungsi memperkuat organisasi, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. “Karena direct investment itu mampu menyerap tenaga kerja sehingga sangat membantu masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Amri mengungkapkan data dari Kementerian Dalam Negeri yang mencatat sekitar 600 ribu organisasi kemasyarakatan (ormas) di Indonesia. Namun, hanya sebagian kecil, kurang dari 20 ormas, yang memiliki aset riil dalam jumlah besar. Dalam daftar tersebut, Muhammadiyah berada di jajaran teratas.
Menurut Amri, salah satu pilar utama ketahanan keuangan organisasi adalah kepercayaan publik. Oleh karena itu, penguatan tata kelola keuangan dan kelembagaan harus senantiasa menjadi prioritas untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Muhammadiyah.
Dengan besarnya aset yang dimiliki, Muhammadiyah memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan pengelolaannya secara produktif, khususnya dalam memperkuat Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Optimalisasi ini diyakini akan meningkatkan reputasi Muhammadiyah sebagai organisasi yang profesional dalam mengelola aset. “Muhammadiyah akan menjadi role model dalam pengelolaan aset di lingkungan organisasi kemasyarakatan,” katanya.
Mengakhiri pemaparannya, Amri Yusuf berharap Muhammadiyah, bersama ormas lainnya, terus memperkuat resiliensi keuangan. Hal ini penting sebagai bekal menghadapi beragam tantangan eksternal di masa depan. Pengelolaan keuangan yang sehat, menurutnya, merupakan syarat esensial agar gerakan dakwah dan pelayanan kepada masyarakat dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





