Fatwa Tarjih: Zakat Harta Warisan yang telah Dizakati
MUHAMMADIYAH SULSEL, YOGYAKARTA - Fatwa Tarjih memuat pembahasan tentang zakat harta warisan yang telah dizakati. Artikel ini ditulis ulang dari tanya jawab Fatwa Tarjih dengan mempertahankan pokok pertanyaan, dasar jawaban, dan batasan hukum yang disebut dalam sumber.
Pertanyaan
Pertanyaan yang dibahas adalah: Seseorang menerima harta warisan, dan pada waktu dibagi, harta itu telah dikeluarkan zakatnya. Apakah seseorang yang menerima zakat tadi harus membayar zakat pula terhadap harta warisan yang diterimanya itu? Kalau tidak, apakah tidak masuk profesi yang dikatakan harta yang mudah didapat? (Ibu Aisyah Kal-Tim).
Pokok Jawaban
Mengenai harta warisan yang pada waktu membaginya telah dikeluarkan zakatnya, ketika diterimakan kepada ahli waris tidak perlu lagi dikeluarkan zakatnya oleh penerima.
Ini termasuk kewajiban umum terhadap zakat harta, bukan lagi zakat harta warisan, kecuali kalau harta itu berwujud harta yang zakatnya ditentukan lain.
Seperti harta yang berwujud tanah, maka pengeluaran zakatnya adalah hasil tanamannya di kala panen.
Baru setelah penerima harta waris itu menyimpan harta warisan selama satu tahun, kalau harta itu genap nishabnya, maka wajib dikelurkan zakat.
Kesimpulan
Dari uraian tersebut, Fatwa Tarjih menempatkan persoalan zakat harta warisan yang telah dizakati dalam kerangka dalil, praktik ibadah, dan kemaslahatan. Pembaca tetap dianjurkan merujuk naskah sumber untuk melihat redaksi lengkap, riwayat, dan catatan dalil yang menyertainya.

