Aisyiyah Makassar Tegaskan Komitmen Dakwah Kemanusiaan di Milad ke-109

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, 27 Juni 2026
Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Makassar kembali menegaskan posisinya sebagai garda terdepan gerakan perempuan Islam berkemajuan melalui dakwah kemanusiaan. Penegasan ini disampaikan dalam acara Resepsi Milad ke-109 Aisyiyah tingkat Kota Makassar yang berlangsung di Gedung Balai Sidang Muktamar Universitas Muhammadiyah Makassar pada Sabtu, 27 Juni 2026. Perayaan milad kali ini mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”, yang tidak sekadar merayakan usia organisasi, tetapi juga menjadi ajang refleksi atas kontribusi Aisyiyah dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, sosial, kesehatan, ekonomi, lingkungan, dan penguatan keluarga.
Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Makassar, Dra. Hj. Suryana Yusuf, dalam sambutannya menyoroti perjalanan Aisyiyah selama lebih dari satu abad. Menurutnya, sejarah panjang ini membuktikan peran vital perempuan Islam dalam membangun masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan. “Milad adalah momentum untuk merefleksikan perjalanan panjang perjuangan perempuan Islam yang telah memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujar Suryana.
Ia menjelaskan bahwa Aisyiyah lahir dari semangat pembaruan yang digagas KH Ahmad Dahlan melalui kelompok pengajian perempuan muda bernama Sapa Tresna pada tahun 1914. Dari inisiatif sederhana tersebut, tumbuh kesadaran bahwa perempuan memiliki peran lebih dari sekadar urusan domestik, melainkan juga sebagai pelopor perubahan sosial. Nama Aisyiyah sendiri terinspirasi dari Sayyidah Aisyah RA, sosok perempuan cerdas, berilmu, berani menyampaikan kebenaran, dan salah satu periwayat hadis terbesar dalam Islam. Nama ini menjadi simbol bahwa perempuan dapat menjadi pusat pencerahan dan penggerak kemajuan masyarakat.
Di Kota Makassar, Aisyiyah berkembang berkat perjuangan para pionir seperti Hj. Fatimah Abdullah dan Siti Maimunah Dg Mattiro. Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Makassar resmi terbentuk pada tahun 1937, dengan Hj. Fatimah Abdullah sebagai ketua pertamanya.
Pendidikan sebagai Investasi Perdamaian
Saat ini, Aisyiyah Kota Makassar mengelola beragam amal usaha, meliputi 88 Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA), satu sekolah dasar, satu madrasah tsanawiyah, dan satu sekolah menengah umum. Selain itu, Aisyiyah juga mengoperasikan tiga panti asuhan serta menyediakan layanan bagi lansia.
Suryana menekankan bahwa seluruh amal usaha tersebut merupakan wujud nyata dari dakwah kemanusiaan Aisyiyah, di mana pendidikan dan pelayanan sosial menjadi pilar utama. Setiap lembaga pendidikan Aisyiyah tidak hanya bertujuan mencerdaskan anak-anak, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman, akhlak mulia, toleransi, cinta tanah air, dan semangat hidup damai. “Setiap anak yang mendapatkan pendidikan yang baik hari ini adalah investasi perdamaian untuk masa depan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks, seperti kemiskinan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, degradasi moral, serta melemahnya ketahanan keluarga. Salah satu isu krusial yang ia angkat adalah peningkatan angka perceraian di Kota Makassar. Data dari Pengadilan Agama Kelas IA Makassar menunjukkan bahwa pada tahun 2024, terdapat 2.007 kasus perceraian yang diselesaikan, terdiri atas 1.597 cerai gugat dan 410 cerai talak. Angka ini, menurut Suryana, menjadi peringatan penting akan perlunya penguatan keluarga melalui nilai agama, komunikasi yang sehat, dan pendidikan keluarga yang berkelanjutan.
Dalam menghadapi persoalan tersebut, Aisyiyah hadir melalui dakwah keluarga, pembinaan keluarga sakinah, pengasuhan anak, pemberdayaan perempuan, serta penguatan ekonomi keluarga. Suryana menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan tidak boleh hanya berhenti pada ceramah dan pengajian, melainkan harus terwujud dalam pelayanan nyata. “Dakwah kemanusiaan harus hadir dalam bentuk pelayanan yang nyata,” ujarnya.
Berbagai program Aisyiyah, seperti Sekolah Wirausaha Aisyiyah, Rumah Sakinah, Pos Bantuan Hukum (Posbakum), Gerakan Perempuan Mengaji, layanan Lazismu, panti asuhan, dan program lingkungan, menjadi bukti bahwa dakwah harus memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Memasuki era digital, Aisyiyah Kota Makassar juga terus beradaptasi dengan memperkuat sistem informasi organisasi dan memanfaatkan media digital sebagai sarana dakwah, yang merupakan bagian dari semangat tajdid perempuan berkemajuan. “Kita tidak boleh menjadi penonton perubahan, tetapi harus menjadi pelaku perubahan yang membawa nilai-nilai Islam yang mencerahkan,” pungkasnya.
Milad sebagai Muhasabah Organisasi
Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Selatan, Dr. Mahmudah, M.Hum, menyambut baik penyelenggaraan Milad ke-109 Aisyiyah Kota Makassar. Ia menilai bahwa milad merupakan momentum penting untuk bermuhasabah, yakni mengevaluasi pelaksanaan program organisasi dari tingkat wilayah hingga ranting.
Mahmudah menekankan bahwa tema dakwah kemanusiaan untuk perdamaian harus diterjemahkan ke dalam kerja nyata. Ia mendorong seluruh jajaran Pimpinan Daerah, Cabang, dan Ranting Aisyiyah untuk mempercepat penyelesaian program kerja yang telah disepakati melalui musyawarah dan rapat kerja. Berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan dalam rangkaian Milad ke-109, seperti lomba perawatan jenazah, pelatihan wirausaha, lomba hafalan Al-Qur’an, pelatihan membatik, lomba video kreatif pemilahan sampah, workshop kurikulum PAUD, dan layanan kesehatan, menunjukkan luasnya bidang garapan Aisyiyah Kota Makassar.
Mahmudah juga menyoroti pentingnya sinergi Aisyiyah dengan Pemerintah Kota Makassar, khususnya dalam isu pengelolaan lingkungan dan sampah. Ia menyebut bahwa Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Aisyiyah dapat berkolaborasi dengan program pemerintah kota. Ia berharap Aisyiyah dapat berperan aktif dalam gerakan sampah berdaya, pemilahan sampah, dan penguatan budaya lingkungan, mulai dari lingkup rumah tangga hingga masyarakat luas. Dengan demikian, kontribusi Aisyiyah tidak hanya terbatas pada pendidikan dan sosial, tetapi juga dalam mewujudkan kota yang bersih dan berkelanjutan. “Hadirnya Aisyiyah betul-betul harus berkontribusi nyata dan menjadi pelaku sejarah,” tegas Mahmudah.
Menghidupkan Amal Usaha Muhammadiyah-Aisyiyah
Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar, Dr. H. Darwis Muhdina, M.Ag, mengajak seluruh warga Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk mengoptimalkan pemanfaatan amal usaha yang telah dibangun. Ia mengingatkan bahwa milad harus menjadi momentum untuk memperkuat dan memanfaatkan fasilitas seperti rumah sakit, sekolah, dan lembaga pendidikan Muhammadiyah-Aisyiyah oleh warga persyarikatan sendiri. Darwis menegaskan bahwa pembangunan amal usaha tidak cukup hanya dari sisi kelembagaan, tetapi juga harus diikuti dengan kepercayaan dan partisipasi aktif warga. “Kita membangun sekolah, kita membangun rumah sakit, tetapi kalau orang Muhammadiyah sendiri tidak pergi ke situ, itu masalah,” kritiknya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan pendidikan melalui sekolah-sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah, dengan mengarahkan anak-anak warga persyarikatan untuk turut membesarkan lembaga pendidikan tersebut. Selain amal usaha, Darwis juga menaruh perhatian pada isu keluarga, khususnya perceraian, yang seringkali dipicu oleh tekanan ekonomi. Oleh karena itu, dakwah kemanusiaan Aisyiyah diharapkan dapat turut menjawab persoalan sosial ini melalui pemberdayaan keluarga dan penguatan ekonomi. “Dakwah kemanusiaan yang kita ingin kembangkan, mari kita sama-sama melakukan dengan baik,” ajaknya.
Resepsi Milad ke-109 Aisyiyah Kota Makassar turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Wakil Wali Kota Makassar Alia Mustika Ilham, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag, serta unsur Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Selatan, Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Aisyiyah Kota Makassar, pimpinan cabang dan ranting Aisyiyah, serta perwakilan organisasi perempuan dan lembaga keagamaan.
Ketua Panitia Milad, Dra. Nurhuda Yusuf, sebelumnya melaporkan bahwa rangkaian kegiatan Milad ke-109 Aisyiyah Kota Makassar melibatkan berbagai majelis dan lembaga, dengan partisipasi dari sejumlah cabang Aisyiyah se-Kota Makassar. Nurhuda menyebutkan, sekitar seribu orang hadir dalam resepsi milad, terdiri atas perwakilan 25 cabang Aisyiyah dan para undangan. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, donatur, sponsor, dan pihak-pihak yang telah mendukung suksesnya acara ini.
Milad ke-109 Aisyiyah Kota Makassar pada akhirnya menegaskan bahwa dakwah kemanusiaan Aisyiyah terwujud dalam berbagai dimensi, mulai dari pendidikan anak, penguatan keluarga, pemberdayaan perempuan, pelayanan sosial, kepedulian lingkungan, hingga komitmen untuk membangun masyarakat yang damai. Memasuki usia ke-109, Aisyiyah diharapkan semakin kokoh sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan yang memadukan iman, ilmu, amal, dan peradaban, terus meneguhkan perannya sebagai pelopor dakwah kemanusiaan untuk mewujudkan perdamaian di setiap lini masyarakat.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





