103 Santri DAM Cece Dikukuhkan sebagai Kader Muhammadiyah, Disiapkan Jadi Generasi Berakhlak dan Berdaya Saing Global

MUHAMMADIYAH SULSEL, ENREKANG - Sebanyak 103 santri Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Cece resmi dikukuhkan sebagai kader Muhammadiyah dalam acara Penamatan dan Pengukuhan Kader Muhammadiyah Tahun 2026 di Lapangan Pesantren DAM Cece, Desa Sumillan, Kabupaten Enrekang, Sabtu, 20 Juni 2026. Momentum ini diposisikan sebagai penanda lahirnya generasi baru yang disiapkan dengan bekal ilmu agama, akhlak, dan kemampuan menghadapi tantangan zaman.
Kegiatan tersebut mengusung tema "Generasi Berakhlak Mulia Menuju Masa Depan Gemilang, Berbekal Ilmu Agama dan Pengetahuan". Sejumlah unsur pimpinan Muhammadiyah, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat keamanan, dan orang tua santri hadir dalam prosesi yang berlangsung khidmat itu.
Mudir Pesantren DAM Cece, KH Kamaruddin Sita, menjelaskan bahwa pendidikan di pesantren tidak diarahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal. Menurut dia, santri harus dipersiapkan agar mampu berkiprah lebih luas dengan bekal karakter yang kuat, penguasaan bahasa, dan kecakapan yang relevan dengan perubahan dunia.
Ia menegaskan bahwa DAM Cece tidak ingin sekadar mengikuti tren tahfiz. Pesantren, kata dia, memang menargetkan lahirnya para penghafal Al-Qur'an, tetapi dalam saat yang sama juga berusaha membentuk santri yang memiliki kecakapan hidup, akhlak baik, dan daya adaptasi untuk berkontribusi di tengah masyarakat.
Pesan itu diperkuat dengan penekanan pada penguasaan bahasa sebagai salah satu kunci membuka peran yang lebih luas. Bagi pihak pesantren, kemampuan bahasa akan menentukan sejauh mana santri mampu bergerak, belajar, dan berinteraksi di lingkungan yang lebih besar, termasuk pada level global.
Pemerintah desa setempat turut menilai kehadiran DAM Cece membawa pengaruh positif bagi masyarakat. Kehadiran pesantren dianggap membantu pembinaan akhlak warga sekaligus mengangkat citra Desa Sumillan melalui aktivitas pendidikan yang semakin dikenal luas.
Ketua LP2M PWM Sulsel, KH Lukman Abd Shamad, menilai perkembangan DAM Cece sangat menggembirakan. Meski tergolong muda, pesantren ini disebut mampu tumbuh sehat dan menunjukkan daya saing dengan menghadirkan ciri khas pembinaan kader Muhammadiyah yang kuat.
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Dr. Pantja Nur Wahidin, juga menyampaikan kesan positif atas perkembangan pesantren. Ia menilai suasana yang hangat dan budaya pesantren yang kuat menunjukkan proses pendidikan berjalan dalam ekosistem yang sehat. Menurut dia, tumbuhnya cita-cita besar di kalangan santri mencerminkan keberhasilan pendidikan yang ditopang kerja bersama orang tua, guru, pimpinan pesantren, dan masyarakat.
Melalui pengukuhan ini, 103 santri DAM Cece diharapkan tidak hanya menyelesaikan fase pendidikan formalnya, tetapi juga membawa tanggung jawab pengabdian sebagai kader Muhammadiyah. Harapannya, mereka mampu hadir di tengah umat sebagai generasi berilmu, berakhlak mulia, dan siap menjawab tantangan masa depan.





