Unismuh Makassar Gelar Pemantauan Hilal Zulhijjah 1447 H: Idul Adha Serentak 27 Mei 2026

MUHAMMADIYAH SULSEL, MAKASSAR - Langit Makassar yang diselimuti awan tebal menghalangi pengamatan hilal awal Zulhijjah 1447 Hijriah dari Observatorium Menara Universitas Muhammadiyah Makassar pada Ahad petang, 17 Mei 2026. Meskipun demikian, secara hisab, posisi hilal telah memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk penentuan awal bulan Hijriah.
Pemantauan hilal di Observatorium Unismuh Makassar ini merupakan bagian dari rangkaian rukyatul hilal nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Tujuannya adalah untuk menetapkan awal Zulhijjah 1447 H secara resmi.
Di titik pengamatan Makassar, kegiatan ini melibatkan Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, BMKG Makassar, Pengadilan Agama Makassar, Badan Hisab Rukyat Sulsel, serta pengelola Observatorium Unismuh Makassar. Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Sulsel, H Abdul Gaffar, menjelaskan bahwa rukyatul hilal tahun ini dilaksanakan secara sederhana karena kebijakan efisiensi anggaran, namun tetap mengutamakan akurasi data dan koordinasi antarinstansi.
Observatorium Unismuh Makassar kembali dipercaya sebagai lokasi pengamatan karena dinilai representatif. Selain mudah dijangkau, letaknya di lantai atas Menara Iqra menyediakan ruang pandang yang baik untuk pemantauan benda-benda langit, termasuk hilal. Pengelola Observatorium Unismuh Makassar, Hisbullah Salam, menyatakan bahwa keterlibatan kampus ini dalam rukyatul hilal menunjukkan komitmen Unismuh dalam pengembangan ilmu falak, astronomi Islam, dan pelayanan keagamaan berbasis data ilmiah.
Dalam pemantauan tersebut, Badan Hisab Rukyat Sulsel dan BMKG Wilayah IV Makassar mencatat tinggi hilal sekitar 4,3 hingga 4,6 derajat pada pukul 17.54 Wita. Sudut elongasi terukur sekitar 9,65 derajat. Data ini menunjukkan hilal telah memenuhi kriteria MABIMS atau Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Namun, hingga pengamatan berakhir sekitar pukul 18.20 Wita, hilal tidak dapat terlihat melalui teropong akibat cuaca berawan tebal. Pengadilan Agama Makassar kemudian menyatakan bahwa hilal penentuan 1 Zulhijjah tidak dapat diamati dari Makassar. Data posisi hilal dari Sulawesi Selatan tetap dilaporkan kepada Kementerian Agama sebagai bahan Sidang Isbat nasional. Melalui Sidang Isbat, Kementerian Agama menetapkan 1 Zulhijjah 1447 H jatuh pada Senin, 18 Mei 2026, sehingga Idul Adha 1447 H/2026 M akan dirayakan pada Rabu, 27 Mei 2026.
Penetapan ini menghasilkan perayaan Idul Adha 2026 secara serentak. Sebelumnya, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan Idul Adha 1447 H jatuh pada tanggal yang sama, Rabu, 27 Mei 2026. Keputusan Muhammadiyah ini didasarkan pada hisab astronomi dalam sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Menurut Muhammadiyah, penentuan awal bulan Hijriah bertumpu pada kepastian hisab yang dapat dihitung secara ilmiah dan dipertanggungjawabkan. KHGT menggunakan Parameter Kalender Global sebagai dasar penetapan awal bulan secara internasional, dengan prinsip keterlihatan hilal secara global, bukan hanya lokal, berdasarkan parameter astronomis tertentu.
Untuk awal Zulhijjah 1447 H, ijtimak atau konjungsi Matahari dan Bulan terjadi pada Sabtu, 16 Mei 2026 pukul 20.01.02 UTC. Namun, pada saat Matahari terbenam di hari yang sama, belum ada wilayah di dunia yang memenuhi kriteria Parameter Kalender Global. Oleh karena itu, awal Zulhijjah tidak ditetapkan pada 17 Mei, melainkan bergeser menjadi Senin, 18 Mei 2026. Dengan perhitungan ini, 10 Zulhijjah jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.
Hisbullah Salam menilai, keselarasan antara kegiatan rukyat di lapangan dan tradisi hisab Muhammadiyah menunjukkan pentingnya literasi falak di tengah masyarakat. Ia berharap observatorium kampus dapat menjadi ruang edukasi agar publik memahami bahwa penentuan kalender Hijriah tidak semata-mata bersifat seremonial, tetapi juga berkaitan dengan kerja ilmiah, data astronomi, dan metode yang jelas. Hisbullah menambahkan, "Kami berharap observatorium ini tidak hanya hadir pada momentum rukyatul hilal, tetapi juga menjadi sarana literasi astronomi Islam bagi masyarakat. Dengan begitu, ilmu falak dapat dipahami secara lebih luas dan aplikatif."
Bagi Unismuh Makassar, keterlibatan dalam rukyatul hilal ini memperkuat posisinya sebagai pusat akademik sekaligus kolaborasi keagamaan. Sebelumnya, Unismuh juga dipercaya menjadi tuan rumah rukyatul hilal nasional untuk penentuan awal Ramadan dan Syawal 1447 H di Observatorium lantai 18 Menara Iqra.




