Akademisi Unismuh Makassar Ajak Integrasikan STEM dalam Pembelajaran Fisika untuk SDGs

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, 20 Juli 2026 - Ketua Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. Ma’ruf, M.Pd., menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Nasional Mahasiswa Pendidikan Fisika 2026. Acara yang diselenggarakan secara daring oleh Jurusan Pendidikan Fisika FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) pada Sabtu, 18 Juli 2026, ini mengangkat tema “Deep Learning and Sustainable Laboratory Transformation: Shaping the Future of Physics Education toward SDGs 2030.”
Dalam sesi paralel yang berlangsung pukul 13.30-14.00 WITA di Ruang B, Dr. Ma’ruf menyampaikan materi berjudul “Implementasi STEM dalam Mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).” Ia menekankan urgensi untuk mengaitkan pengajaran fisika dengan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) guna merespons berbagai isu krusial di masyarakat. Dr. Sri Hartini, M.Sc., bertindak sebagai moderator dalam sesi tersebut.
Fisika sebagai Instrumen Pemecahan Masalah
Dr. Ma’ruf berpandangan bahwa pendidikan fisika seharusnya tidak hanya berhenti pada pemahaman konsep, rumus, atau penyelesaian soal matematis. Pembelajaran fisika perlu diarahkan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah yang kompleks, berpikir secara kritis, berinovasi, serta berkolaborasi. Pendekatan ini menjadi semakin vital mengingat tantangan global seperti perubahan iklim, krisis energi, keterbatasan sumber daya, dan disrupsi teknologi. Oleh karena itu, fisika harus diposisikan sebagai bagian dari solusi terhadap persoalan-persoalan dunia.
“Pendidikan fisika tidak lagi sekadar tentang menghafal rumus alam, melainkan menjadi instrumen esensial untuk memecahkan krisis global secara struktural,” tegas Dr. Ma’ruf.
Ia menjelaskan bahwa STEM bukanlah sekadar penggabungan empat disiplin ilmu dalam satu kegiatan belajar. Lebih dari itu, STEM adalah pendekatan lintas disiplin yang menjadikan proses rekayasa atau Engineering Design Process sebagai inti penggerak pembelajaran. Proses ini meliputi identifikasi masalah, eksplorasi alternatif solusi, penyusunan rencana, pembuatan prototipe, pengujian, hingga penyempurnaan produk. Melalui tahapan ini, mahasiswa dan siswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga dilatih untuk mengaplikasikan pengetahuannya dalam menciptakan karya.
Kurikulum Fisika Terhubung dengan SDGs
Dalam paparannya, Dr. Ma’ruf menyajikan sejumlah ilustrasi bagaimana materi fisika dasar dapat diubah menjadi proyek-proyek yang mendukung pencapaian SDGs. Misalnya, topik termodinamika dan kalor dapat dikembangkan menjadi proyek pembuatan panel surya mini, yang relevan dengan SDG 7 tentang energi bersih dan terjangkau. Materi dinamika fluida bisa diaplikasikan dalam pembuatan sistem filtrasi air sederhana, berkontribusi pada SDG 6 mengenai air bersih dan sanitasi.
Selain itu, kinematika dan dinamika dapat diimplementasikan melalui proyek perancangan turbin angin sebagai bagian dari pengembangan inovasi dan infrastruktur berkelanjutan (SDG 9). Proyek lain yang diusulkan adalah tempat sampah pintar berbasis sensor ultrasonik dan Arduino, yang menghubungkan konsep gelombang bunyi dengan teknologi, sekaligus mendukung SDG 11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan. Mahasiswa juga dapat merancang prototipe jembatan tahan gempa untuk memahami resonansi, distribusi massa, dan vektor gaya, yang memperkenalkan pentingnya infrastruktur tangguh.
Integrasi AI dan Internet of Things
Dr. Ma’ruf turut menyoroti potensi integrasi Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran fisika. IoT dapat dimanfaatkan untuk mengumpulkan data eksperimen secara langsung, sementara AI berperan dalam pemodelan, analisis data, pengenalan pola, dan penyusunan prediksi. Sebagai contoh, dalam eksperimen kalorimetri, mahasiswa dapat menggunakan sensor suhu berbasis Arduino atau telepon pintar. Data yang terkumpul kemudian dapat dianalisis untuk mengidentifikasi pola perubahan suhu atau menjadi dasar prediksi.
Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem kelas fisika yang lebih cerdas, presisi, interaktif, dan relevan dengan perkembangan dunia nyata. Meskipun demikian, transformasi ini tidak selalu harus bergantung pada peralatan laboratorium yang mahal. Keterbatasan alat dapat diatasi dengan sensor berbiaya rendah, aplikasi telepon pintar seperti Phyphox, dan bahan-bahan daur ulang.
Kepadatan kurikulum juga dapat diatasi dengan mengintegrasikan beberapa kompetensi dalam satu proyek pembelajaran. Evaluasi tidak hanya dilakukan melalui ujian pilihan ganda, tetapi juga melalui portofolio, jurnal refleksi, rubrik produk, dan demonstrasi kinerja. Pendekatan Project-Based Learning dan Outcome-Based Education ini menggeser fokus penilaian dari sekadar menguji pengetahuan peserta didik menjadi mengukur kemampuan mereka dalam menciptakan sesuatu dari pengetahuan yang dimiliki.
Dr. Ma’ruf mengakhiri pemaparannya dengan mengajak para pendidik untuk memulai transformasi dari ruang kelas masing-masing. “Pendidikan fisika bukan sekadar mempelajari hukum alam, tetapi membekali generasi untuk menyelamatkan alam itu sendiri. Mulailah dari kelas Anda hari ini. Satu proyek STEM, satu langkah nyata menuju SDGs 2030,” pungkasnya.
Keterlibatan Dr. Ma’ruf dalam forum nasional ini, yang juga menghadirkan pembicara utama dari Universiti Pendidikan Sultan Idris Malaysia, Universitas Lambung Mangkurat, dan Universitas Khairun, menegaskan kontribusi akademisi Unismuh dalam pengembangan pembelajaran sains, teknologi pendidikan, dan pendidikan berkelanjutan di tingkat nasional. Partisipasi ini secara khusus memperkuat kontribusi Unismuh terhadap SDG 4: Pendidikan Berkualitas, serta bersinggungan langsung dengan SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, SDG 7: Energi Bersih dan Terjangkau, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, dan SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan fisika tidak hanya bertujuan meningkatkan kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga melahirkan inovasi yang berdampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





