Unismuh Makassar Dampingi UMKM Gowa Standarkan Produksi Keripik Pisang

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, GOWA - Universitas Muhammadiyah Makassar mendampingi UMKM Camilan Mamak di Desa Jenetallasa, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, untuk menata ulang proses produksi keripik pisang agar lebih terukur. Program pengabdian kepada masyarakat tahun 2026 itu diarahkan pada pembenahan titik-titik produksi yang selama ini masih berjalan berdasarkan kebiasaan, mulai dari pengirisan bahan baku, penggorengan, penirisan minyak, penimbangan, hingga pengemasan.
Pendampingan dilakukan melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup Pemberdayaan Masyarakat Pemula. Tim pelaksana dipimpin Edy Kurniawan bersama Muh. Al Amin dan Muhammad Amin Said, serta melibatkan mahasiswa dalam proses asesmen, pelatihan, dan pengujian produksi. Program ini juga didukung pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada tahun anggaran 2026.
Fokus utama program berada pada lima titik kendali produksi. Tim Unismuh menilai mutu keripik pisang tidak bisa dijaga bila ketebalan irisan berubah-ubah, suhu minyak tidak dipantau, kadar minyak pada produk akhir berlebih, berat bersih kemasan tidak seragam, dan penutupan kemasan masih longgar. Karena itu, pendampingan tidak hanya berhenti pada penyerahan alat, tetapi juga menyasar penyusunan sistem kerja yang bisa dijalankan mitra setelah program selesai.
Ketua tim pelaksana Edy Kurniawan menegaskan persoalan utama mitra bukan sekadar kekurangan peralatan, melainkan belum adanya standar proses yang dipatuhi secara konsisten. "Kami ingin membantu mitra beralih dari produksi yang berbasis kebiasaan menuju proses yang memiliki standar. Peralatan yang digunakan harus berjalan bersama SOP, pencatatan, dan kontrol mutu sehingga hasil produksi bisa lebih konsisten," ujarnya.
Untuk mendukung perubahan itu, UMKM Camilan Mamak mulai menggunakan slicer pisang agar ketebalan irisan lebih seragam, termometer minyak untuk menjaga kestabilan suhu penggorengan, spinner untuk mengurangi sisa minyak, timbangan digital untuk memastikan berat bersih, dan alat sealer untuk memperkuat kerapatan kemasan. Seluruh penggunaan alat tersebut diintegrasikan dengan SOP tertulis, formulir pencatatan produksi, dan instrumen kontrol mutu pada setiap batch.
Tahapan pendampingan dimulai dari koordinasi awal, sosialisasi, dan asesmen kondisi produksi yang sudah berjalan. Setelah itu, tim bersama mitra menyusun SOP, melatih higiene dan sanitasi produksi, mempraktikkan penggunaan teknologi tepat guna, lalu melakukan uji produksi serta monitoring dan evaluasi. Dua varian utama, yakni keripik pisang original dan cokelat, dijadikan objek standardisasi awal untuk melihat apakah prosedur baru dapat diterapkan secara konsisten.
Perubahan paling nyata terlihat pada tahapan yang sebelumnya sangat bergantung pada keterampilan operator. Pengirisan bahan baku yang dahulu ditentukan manual kini dibantu alat pemotong agar bentuk dan ketebalannya lebih seragam. Proses penggorengan tidak lagi hanya mengandalkan perkiraan panas, sebab suhu minyak dipantau dengan termometer. Setelah digoreng, produk ditiriskan dengan spinner agar kadar minyak lebih terkendali sebelum ditimbang dan dikemas.
Tim pendamping juga mulai membiasakan mitra menggunakan log produksi untuk mencatat hasil setiap batch. Catatan itu penting karena menjadi dasar evaluasi mutu, termasuk bila ditemukan perubahan rasa, tekstur, atau berat produk dari satu produksi ke produksi berikutnya. Dengan sistem ini, UMKM tidak hanya bekerja lebih cepat, tetapi juga memiliki alat ukur untuk menjaga mutu secara berulang.
Pada laporan kemajuan, kedua varian produk disebut telah melalui uji standardisasi awal dan menunjukkan perkembangan dibandingkan kondisi sebelum pendampingan. Kapasitas produksi yang sebelumnya berkisar 150 kemasan per pekan dilaporkan mulai bergerak menuju sekitar 200 kemasan per pekan. Meski demikian, angka akhir masih akan diverifikasi melalui audit penutup, rekap produksi, dan catatan kontrol mutu sebelum ditetapkan sebagai capaian final program.
Selain aspek proses, tim Unismuh Makassar turut membantu penyempurnaan kemasan dan label produk agar identitas usaha lebih kuat di mata konsumen. Langkah ini dipandang penting untuk memperluas peluang pemasaran sekaligus menambah kepercayaan pembeli terhadap produk UMKM lokal. Bagi Unismuh, pendampingan tersebut menjadi bagian dari peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi praktis bagi usaha mikro dan memperkuat daya saing ekonomi masyarakat.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





