Unismuh Dampingi Petani Sapanang Olah Ubi Jalar Jadi Produk Bernilai

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, JENEPONTO - Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Makassar mendampingi Kelompok Tani Sapiri di Desa Sapanang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, untuk mengolah hasil panen ubi jalar menjadi produk pangan bernilai tambah. Program yang didanai BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi itu menempatkan penguatan ekonomi petani sebagai hasil yang hendak dicapai, bukan sekadar pelatihan seremonial.
Program tersebut dijalankan melalui skema pengabdian yang dikoordinasikan LP3M Unismuh Makassar. Tim melibatkan dosen, mahasiswa, penyuluh pertanian lapangan, serta pengurus dan anggota kelompok tani. Fokus kegiatannya mencakup dua hal yang saling terkait: diversifikasi produk pascapanen dan penguatan pengelolaan usaha agar petani tidak hanya menjual ubi jalar dalam bentuk mentah dengan nilai ekonomi terbatas.
Dasar intervensi ini cukup jelas. Menurut penyuluh pertanian lapangan Desa Sapanang, lahan aktif penghasil ubi jalar di wilayah itu mencapai sekitar 165 hektare. Skala produksi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata budidaya, melainkan bagaimana hasil panen diolah lebih lanjut agar memiliki daya simpan lebih panjang, ragam produk lebih banyak, dan peluang pasar yang lebih luas. Tanpa pengolahan pascapanen, petani cenderung tetap bergantung pada harga komoditas segar yang mudah berfluktuasi.
Dalam pelatihan teknis, peserta diperkenalkan pada berbagai produk olahan seperti keripik ubi jalar, stik ubi ungu, dan brownies berbahan ubi jalar. Pendekatan ini penting karena memberi contoh konkret bahwa ubi jalar dapat diposisikan sebagai bahan baku industri rumahan dan UMKM, bukan hanya komoditas primer. Diversifikasi seperti ini juga memberi ruang bagi keluarga petani untuk mengembangkan unit usaha baru yang lebih tahan terhadap perubahan harga saat musim panen.
Pendampingan tidak berhenti pada produksi makanan olahan. Tim Unismuh juga membekali anggota kelompok dengan pencatatan keuangan sederhana, perhitungan Harga Pokok Penjualan, penentuan harga jual, dan dasar pengelolaan usaha tani. Materi tersebut menjadi kunci karena usaha kecil sering gagal berkembang ketika biaya produksi tidak dihitung dengan benar, keuntungan tidak terukur, dan keuangan usaha bercampur dengan kebutuhan rumah tangga.
Ketua Kelompok Tani Sapiri, Ansar Hamzah, menyebut manfaat program itu dirasakan langsung oleh peserta. "Kami sangat menyambut baik kegiatan ini dan berharap pelatihan teknis serta pendampingan yang diberikan dapat membawa dampak positif yang nyata bagi peningkatan ekonomi kelompok kami," ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa hasil yang dicari kelompok tani bukan sekadar tambahan pengetahuan, tetapi kenaikan kemampuan produksi dan pendapatan. Harapan agar pendampingan berlanjut juga menandakan kelompok melihat program ini relevan untuk keberlanjutan usaha mereka. Bagi Unismuh Makassar, capaian tersebut selaras dengan peran perguruan tinggi Muhammadiyah dalam membawa pengetahuan ke persoalan ekonomi masyarakat secara langsung.
Dengan demikian, program di Desa Sapanang layak dibaca sebagai bentuk layanan publik berbasis pengabdian yang memiliki dampak terukur pada kapasitas petani. Ketika pengolahan pangan, penguatan manajemen usaha, dan pendampingan lapangan digabungkan dalam satu intervensi, manfaatnya tidak berhenti pada satu sesi pelatihan, tetapi membuka peluang tumbuhnya usaha tani yang lebih kuat dan bernilai tambah di tingkat desa.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





