St. Mu'tamirah Raih Doktor Cumlaude dengan Riset Limbah Industri Tahu

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MAKASSAR - Kepala Laboratorium Sanitasi Politeknik Muhammadiyah Makassar, St. Mu'tamirah, meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude setelah mempertahankan disertasi tentang pengelolaan limbah industri tahu dengan teknologi ramah lingkungan. Capaian akademik ini menonjol bukan hanya karena IPK 4,00 yang diraih dalam sidang promosi doktor di Pascasarjana Universitas Negeri Makassar, tetapi juga karena risetnya diarahkan pada persoalan lingkungan yang nyata di Kota Makassar.
Disertasi Mu'tamirah mengembangkan Model MIRAI, akronim dari Motivation, Innovation, Reinforcement, Action, dan Internalization. Model ini disusun untuk meningkatkan kemampuan pelaku industri tahu dalam mengelola limbah secara lebih sistematis. Artinya, penelitian tidak berhenti pada pemetaan masalah, tetapi menawarkan perangkat intervensi yang bisa dipakai untuk mengubah pengetahuan menjadi praktik, keterampilan, dan perilaku pengelolaan limbah yang lebih baik.
Relevansi riset tersebut cukup kuat. Sumber menyebut pengelolaan limbah industri tahu di Makassar masih belum optimal, sementara pelaku usaha belum memiliki model pelatihan yang sistematis untuk menerapkan teknologi ramah lingkungan. Dalam konteks itu, MIRAI dirancang sebagai jawaban atas dua kebutuhan sekaligus: meningkatkan kapasitas pelaku industri dan menekan dampak pencemaran dari limbah yang selama ini menjadi beban lingkungan.
Model yang dikembangkan juga tidak berdiri di atas slogan umum. Mu'tamirah memadukan sejumlah teori pembelajaran, mulai dari ARCS Motivation Model, Self-Determination Theory, Diffusion of Innovation Theory, Operant Conditioning Theory, Experiential Learning Theory, hingga Social Cognitive Theory. Integrasi ini menghasilkan tahapan pelatihan yang mendorong peserta memahami masalah, mencoba solusi, menerima penguatan, lalu membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan limbah.
Selain model, riset tersebut melahirkan perangkat pelatihan yang lengkap, termasuk buku model, modul, rencana pelaksanaan pelatihan, lembar kerja peserta, media pembelajaran, dan instrumen evaluasi yang telah divalidasi. Keluaran semacam ini penting karena memperbesar peluang penelitian untuk diimplementasikan di luar ruang sidang akademik. Dengan kata lain, hasil riset memiliki pijakan yang lebih kuat untuk ditransformasikan menjadi program pemberdayaan dan layanan lingkungan di masyarakat.
Direktur PoltekMu Makassar, Mustari Bosra, menilai capaian itu sebagai prestasi yang membawa nama institusi sekaligus membuka manfaat yang lebih luas. "Kami tentu sangat bahagia dan bangga atas pencapaian Dr. St. Mu'tamirah. Ini merupakan prestasi yang membanggakan, bukan hanya bagi beliau secara pribadi dan keluarga, tetapi juga bagi PoltekMu Makassar," ujarnya.
Dukungan juga datang dari Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah Sulawesi Selatan, Mahmudah, bersama pengurus Majelis Lingkungan Hidup PWA Sulsel yang hadir dalam promosi doktor tersebut. Kehadiran unsur 'Aisyiyah mempertegas bahwa capaian ini terhubung dengan jejaring Persyarikatan di Sulawesi Selatan, bukan berdiri sebagai prestasi individual yang terlepas dari konteks kelembagaan.
Nilai penting dari keberhasilan Mu'tamirah terletak pada potensi dampaknya. Sumber menegaskan Model MIRAI dapat mendorong pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mengurangi pencemaran. Jika diterapkan secara konsisten, penelitian ini berpeluang memperkuat perilaku pengelolaan lingkungan di tingkat pelaku usaha kecil dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat perkotaan yang terdampak limbah industri.
Bagi PoltekMu Makassar, raihan doktor cumlaude ini menjadi bukti bahwa investasi pada pengembangan SDM kampus Muhammadiyah dapat berujung pada solusi yang relevan untuk persoalan publik. Di titik itulah prestasi akademik Mu'tamirah melampaui seremoni gelar dan berubah menjadi kabar kemajuan yang layak dicatat.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





