Unismuh Dampingi Perempuan Tani Sinjai Perkuat Mutu dan Produksi Kopi

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, SINJAI - Universitas Muhammadiyah Makassar menjalankan program pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sinjai Borong, untuk memperkuat usaha kopi yang dikelola Kelompok Usaha Wanita Tani Mekar. Program ini memadukan penerapan teknologi tepat guna dengan pelatihan usaha agar kelompok perempuan tani tidak hanya memproduksi kopi, tetapi juga mampu menjaga mutu dan menaikkan kapasitas produksi secara lebih stabil.
Pendampingan dimulai sejak Juni 2026 melalui skema Program Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Tim pelaksana terdiri atas Dr. Irwan Mado sebagai ketua, bersama Dr. Muhammad Nur Abdi dan Dr. Sahabuddin Nanda. Mereka merancang program berdasarkan masalah nyata yang dihadapi kelompok, terutama pada penanganan pascapanen, kualitas produk, efisiensi kerja, dan penguatan pengelolaan usaha.
Fokus utamanya adalah mengatasi hambatan yang selama ini memperlambat proses pengolahan kopi. Pengupasan kopi kering sebelumnya masih banyak dilakukan secara manual, sementara proses pengeringan sangat bergantung pada cuaca. Situasi itu membuat hasil produksi sulit dipercepat dan mutu biji kopi tidak selalu seragam dari satu musim ke musim berikutnya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim menghadirkan mesin huller dan alat pengering portabel. Ketua tim PKM, Irwan Mado, menekankan bahwa dukungan teknologi harus benar-benar sesuai kebutuhan lapangan. "Pendampingan ini kami arahkan agar teknologi yang diberikan benar-benar menjawab kebutuhan KWT Mekar. Mesin huller dan alat pengering bukan sekadar bantuan peralatan, tetapi menjadi instrumen untuk mempercepat proses pascapanen, menjaga mutu kopi, dan mengurangi beban kerja anggota kelompok," ujarnya.
Mesin huller dipakai untuk mempercepat pengupasan kopi kering sehingga kapasitas kerja kelompok bisa meningkat tanpa terus bergantung pada tenaga manual yang memakan waktu. Sementara itu, alat pengering portabel membantu anggota kelompok mengurangi ketidakpastian saat cuaca tidak mendukung. Dengan proses pengeringan yang lebih terkendali, risiko penurunan mutu akibat kelembapan dapat ditekan dan kualitas biji kopi menjadi lebih konsisten.
Namun program ini tidak berhenti pada penyerahan alat. Tim Unismuh juga mendampingi anggota kelompok dalam penggunaan, perawatan, dan pengelolaan teknologi agar bisa dipakai secara mandiri setelah program selesai. Pelatihan meliputi teknik pascapanen, standar mutu, penguatan pengelolaan usaha berbasis kelompok, hingga penataan alur kerja yang lebih efisien dalam produksi kopi.
Irwan menegaskan ukuran keberhasilan program tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya mesin semata. "Target kami bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat kemandirian kelompok. Karena itu, pendampingan mencakup keterampilan menggunakan teknologi, pengelolaan pascapanen, peningkatan kualitas produk, hingga penguatan usaha kelompok," katanya.
Pendekatan tersebut penting karena KWT Mekar ditempatkan sebagai pelaku utama, bukan sekadar penerima manfaat. Anggota kelompok dilibatkan dalam setiap tahapan agar teknologi yang diterapkan benar-benar menyatu dengan pola kerja mereka. Dengan cara itu, perempuan tani tidak hanya terbantu di sisi produksi, tetapi juga didorong lebih percaya diri dalam mengelola usaha, menjaga kualitas, dan membaca peluang nilai tambah dari komoditas kopi lokal.
Program ini juga menunjukkan bagaimana perguruan tinggi Muhammadiyah memaknai tridarma secara lebih konkret. Unismuh tidak membawa proyek yang berhenti pada seremonial, melainkan pengetahuan yang bisa dipakai langsung oleh masyarakat desa untuk memperbaiki proses kerja sehari-hari. Jika pengelolaan pascapanen semakin baik, maka posisi tawar produk kopi Sinjai Borong juga berpeluang meningkat di pasar.
Tim pelaksana menilai dampak yang dibangun bukan hanya ekonomi, tetapi juga sosial. Perempuan yang mengelola usaha kopi diberi ruang lebih besar untuk mengembangkan kapasitas produksi dan kepemimpinan kelompok. Dalam jangka menengah, model seperti ini dapat memperkuat ketahanan ekonomi keluarga dan menjadikan usaha kopi berbasis komunitas lebih siap tumbuh secara berkelanjutan.
Irwan menambahkan bahwa dukungan hibah pemerintah membuka ruang penerapan hasil pengetahuan kampus lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. "Hibah DPPM memungkinkan hasil pengetahuan dan teknologi dari perguruan tinggi diterapkan langsung bersama masyarakat. Bagi kami, keberhasilan program bukan hanya ketika alat tersedia, tetapi ketika kelompok mampu menggunakannya secara mandiri dan memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan," ujarnya.
Jika program ini berjalan konsisten, KWT Mekar tidak hanya memperoleh alat bantu produksi, tetapi juga fondasi manajemen usaha yang lebih kuat. Itu berarti kopi Sinjai Borong berpeluang naik kelas melalui mutu yang lebih terjaga, proses yang lebih efisien, dan peran perempuan tani yang semakin sentral dalam rantai nilai komoditas lokal.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





