UM Bulukumba Dorong Digitalisasi dan Inovasi Kacang Sembunyi untuk Perkuat Ekonomi Masyarakat Desa

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - BULUKUMBA, Universitas Muhammadiyah Bulukumba menjalankan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Bonto Bulaeng, Kabupaten Bulukumba, melalui skema Program Hibah Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat atau PKM. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 28 Juni 2026, itu diarahkan untuk memperkuat usaha olahan kacang sembunyi yang dikelola kelompok perempuan desa agar lebih produktif, lebih inovatif, dan lebih siap bersaing di pasar.
Program tersebut mengusung tema pemberdayaan ekonomi ibu rumah tangga melalui inovasi serta penguatan kelompok usaha kacang sembunyi di Desa Bonto Bulaeng. Pendanaan berasal dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui platform BIMA. Bagi UM Bulukumba, dukungan pendanaan itu dimanfaatkan bukan hanya untuk menjalankan pelatihan singkat, tetapi untuk menghadirkan pendampingan yang menyentuh persoalan riil pelaku usaha desa, mulai dari mutu produk sampai pengelolaan usaha.
Ketua Tim PKM UM Bulukumba, Andi Anugrah M., menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mendorong penguatan ekonomi masyarakat melalui usaha yang bertumpu pada potensi lokal. Karena itu, kelompok usaha Masseddi Bonto tidak hanya diposisikan sebagai peserta kegiatan, melainkan sebagai mitra yang perlu diperkuat kapasitasnya agar mampu mengembangkan usahanya secara mandiri dalam jangka panjang.
Ia menegaskan bahwa pengabdian kampus tidak berhenti pada penambahan keterampilan teknis semata. Tim PKM menempatkan program ini sebagai pendampingan berkelanjutan yang membantu kelompok usaha memperbaiki proses produksi, meningkatkan higienitas, dan membangun daya saing produk. Pendekatan itu dianggap penting karena produk lokal sering kali memiliki kualitas yang baik, tetapi tertahan berkembang akibat pengemasan yang lemah, variasi produk yang terbatas, dan pemasaran yang masih sempit.
Dalam pelaksanaannya, tim PKM yang juga melibatkan Ardianto dan Sulma menyiapkan materi yang langsung berkaitan dengan kebutuhan usaha kacang sembunyi di desa. Mereka menyoroti pentingnya inovasi kemasan, pengembangan varian rasa, dan perluasan promosi melalui kanal digital seperti TikTok, Instagram, dan Facebook. Langkah tersebut ditujukan agar produk yang semula beredar terbatas di lingkungan sekitar bisa menjangkau pasar yang lebih luas dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Andi Anugrah menilai penguatan usaha mikro desa saat ini tidak cukup jika hanya mengandalkan cara-cara konvensional. Menurut dia, kelompok mitra perlu dibekali kemampuan membaca pasar dan menyesuaikan model usaha dengan perubahan perilaku konsumen. Karena itu, program PKM ini menyatukan peningkatan kualitas produksi dengan strategi pemasaran digital agar hasil olahan kacang sembunyi tidak hanya bagus secara rasa, tetapi juga menarik dan mudah dikenali pembeli.
Target lain yang ditekankan dalam program ini ialah meningkatnya pendapatan keluarga dan bergeraknya ekonomi desa secara lebih berkelanjutan. Bagi UM Bulukumba, penguatan usaha rumah tangga seperti ini memiliki arti strategis karena memberi dampak langsung pada ketahanan ekonomi keluarga, terutama bagi perempuan yang terlibat dalam aktivitas produksi dan penjualan.
Kegiatan tersebut mendapat sambutan positif dari Ketua Tim Penggerak PKK Desa Bonto Bulaeng, Surianti. Ia menilai kehadiran program PKM membuka kesempatan penting bagi kelompok usaha perempuan di desanya untuk memperoleh pengetahuan baru sekaligus memperluas usahanya. Menurut Surianti, kesempatan seperti ini perlu dimanfaatkan sebaik mungkin karena tidak setiap saat desa memperoleh pendampingan yang terstruktur dari perguruan tinggi.
Surianti juga mendorong seluruh peserta mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan sungguh-sungguh. Harapannya, materi yang diberikan tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari. Dengan begitu, manfaat program dapat dirasakan langsung oleh anggota kelompok dan keluarganya.
Setelah pembukaan, agenda berlanjut pada penyampaian materi mengenai digitalisasi manajemen keuangan usaha kacang sembunyi oleh Sulma. Dalam sesi ini, Sulma menekankan bahwa usaha mikro perlu mulai beradaptasi dengan teknologi agar pengelolaan bisnis lebih efektif, efisien, dan terukur. Menurut dia, usaha yang ingin tumbuh tidak bisa terus bergantung pada pencatatan seadanya karena hal itu menyulitkan pemilik usaha membaca arus kas, menghitung keuntungan, dan mengambil keputusan bisnis.
Ia memperkenalkan penggunaan aplikasi kasir portabel yang dapat diakses melalui telepon genggam pemilik usaha maupun karyawan. Solusi sederhana seperti itu dinilai relevan bagi usaha skala kecil karena tidak menuntut investasi besar, tetapi dapat langsung membantu pencatatan penjualan, stok, dan transaksi harian. Dengan pencatatan yang lebih tertib, kelompok usaha diharapkan lebih siap menyusun perencanaan usaha dan mengukur perkembangan bisnisnya.
Melalui program ini, UM Bulukumba ingin menunjukkan bahwa tridarma perguruan tinggi dapat dihadirkan secara konkret di tengah masyarakat. Pendampingan terhadap kelompok usaha kacang sembunyi di Desa Bonto Bulaeng menjadi contoh bagaimana kampus berperan dalam pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal. Jika berjalan konsisten, inisiatif seperti ini bukan hanya memperkuat kapasitas usaha perempuan desa, tetapi juga membangun fondasi ekonomi desa yang lebih mandiri dan berdaya tahan.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





