Transformasi PTMA: Wamendiktisaintek Tekankan Mindset Berkemajuan dan Terobosan Kreatif

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 14 Juli - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Republik Indonesia, Fauzan, menyerukan kepada pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) untuk senantiasa mengembangkan pola pikir progresif dan berani melakukan inovasi. Seruan ini disampaikan Fauzan saat menghadiri Leadership Training (LT) Angkatan XII bagi pimpinan PTMA di Yogyakarta pada Selasa (14/7). Ia menggarisbawahi bahwa tantangan utama dunia pendidikan saat ini adalah bagaimana membangun mentalitas berkemajuan di seluruh lapisan institusi.
Fauzan menjelaskan bahwa esensi transformasi perguruan tinggi tidak hanya terbatas pada perubahan fisik infrastruktur, melainkan lebih fundamental pada pergeseran pola pikir atau mindset transformation. Menurutnya, institusi yang ingin mencapai skala besar harus dimulai dari inisiatif kecil yang didorong oleh semangat progresif dari para pemimpinnya. “Kampus besar tumbuh dari pola pikir pimpinan yang ingin maju,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Fauzan juga menyoroti krusialnya stabilitas internal sebagai fondasi bagi pertumbuhan sebuah institusi pendidikan. Ia mengingatkan bahwa konflik internal di perguruan tinggi swasta kerap bersifat destruktif dan menghambat upaya ekspansi. Oleh karena itu, konsolidasi internal menjadi kunci. “Maka kunci keberhasilan institusi terletak pada kemampuan pimpinan untuk melakukan konsolidasi, yaitu persiapan sebelum melakukan ekspansi peperangan. Seorang pimpinan harus dapat memastikan barisannya rapat sebelum melangkah jauh ke luar,” ujarnya, mengutip filosofi kepemimpinan yang relevan dalam konteks Muhammadiyah.
Lebih lanjut, Fauzan mendorong PTMA untuk memberikan kepastian konkret kepada mahasiswa dan orang tua sebagai wujud tanggung jawab institusional. Kepastian ini mencakup durasi studi yang jelas dan peluang kerja setelah lulus. Kampus diharapkan mampu merancang sistem yang memungkinkan mahasiswa menyelesaikan studi tepat waktu. Selain itu, kurikulum juga harus diselaraskan dengan kebutuhan industri, dengan fokus pada program studi yang relevan dan aplikatif. “Mahasiswa harus diberikan kepastian masa depan. Lulus tepat waktu dan punya peluang kerja yang jelas,” jelasnya.
Terkait regulasi, Fauzan mengajak pimpinan PTMA untuk tidak takut berinovasi dan tidak terpaku pada aturan yang bersifat administratif semata. Ia berpendapat bahwa aturan dibuat untuk menjaga ketertiban, namun kemajuan sejati memerlukan terobosan kreatif. “Perlu keberanian untuk melakukan inovasi baru. Jangan hanya bersandar pada aturan, tapi ciptakan terobosan untuk melampauinya,” tuturnya.
Sebagai penutup, Fauzan kembali menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan atau humanisme dalam setiap aktivitas kampus. Ia mendorong para pimpinan untuk lebih sering memberikan apresiasi langsung kepada mahasiswa berprestasi dan membangun komunikasi yang hangat dengan orang tua mahasiswa, misalnya melalui pengiriman surat penghargaan resmi. “Jadikan kampus sebagai pusat pengajaran yang baik. Bangun suasana komunikasi yang nyaman. Menghargai prestasi akan membangun resistensi institusi yang luar biasa,” pungkasnya.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





