Penguatan Ideologi Kader Muhammadiyah: Menjaga Komitmen dan Ketulusan Berpersyarikatan

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, Rabu, 15 Juli 2026 - Irwan, dalam pembukaan Studium Generale Sekolah Ideologi Muhammadiyah Tahun 2026, menyoroti urgensi penguatan ideologi Persyarikatan. Ia menekankan bahwa pembaharuan ideologi sangat penting untuk mencegah pereduksian nilai-nilai Muhammadiyah dalam praktik dan pemahaman sehari-hari. Acara yang mengusung tajuk “Penguatan Kader Ideologis-Transfomatif, Menuju Pencerahan Muhammadiyah Abad Kedua” ini menjadi forum penting bagi para kader.
Irwan mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena kader yang, meski telah melewati proses perkaderan intensif, kerap mengalami pelunturan nilai-nilai kekaderan. "Sering sekali terjadi kader-kader yang tadinya sudah dikader sedemikian rupa, tapi di dalam perjalanannya ketika berinteraksi dengan dunia luar, kadang ada pengaruh-pengaruh yang membuat luntur nilai kekaderannya," ujarnya.
Dalam konteks penerapan di tingkat akar rumput, Irwan mengidentifikasi dua variabel esensial dalam beraktivitas di Muhammadiyah: mengemban misi dakwah dan menjalankan fungsi kekhalifahan. Kedua aspek ini, menurutnya, harus bermuara pada pencarian ridha Allah SWT. Ia mengingatkan, "Sedangkan jika kita melenceng dari situ, maka yang kita dapatkan adalah kerugian."
Irwan menekankan bahwa meraih ridha Allah bukanlah perkara mudah, melainkan memerlukan perjuangan yang sungguh-sungguh. Ia mengutip Jenderal Sudirman, tokoh nasionalis sekaligus kader Hizbul Wathan Muhammadiyah, yang pernah berujar, "Menjadi Kader Muhammadiyah itu berat. Kalau tidak sanggup, lebih baik pulang."
"Karena tujuan kita kesitu, niat kita harus lurus, harus ikhlas. Kalau kita ikhlas mengurus muhammadiyah kemudian kita akan menjadi tenang, berbagai tantangan yang dihadapi juga tidak masalah," tutur Irwan, menegaskan pentingnya keikhlasan dalam berkhidmat.
Merespons fenomena kader yang menjadikan Persyarikatan sebagai batu loncatan semata, Irwan mengingatkan bahwa mereka adalah kader yang "Merugi". Ia menekankan pentingnya ketulusan dalam mengabdi.
"Mari kita menghadirkan ketulusan dalam diri kita. Mengabdi di Persyarikatan Muhammadiyah, bukan karena jabatan, tapi karena ketulusan," pungkasnya.
Studium Generale ini diharapkan menjadi momentum krusial untuk memperkuat komitmen ideologis kader Muhammadiyah. Dengan fondasi ideologi yang kokoh, keikhlasan dalam berkhidmat, dan orientasi tunggal mengharap ridha Allah SWT, kader diharapkan mampu berperan sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan Persyarikatan di berbagai sektor kehidupan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





