Teater 'Cornelis Speelman and The Gank' Ajak Penonton Selami Batin Tokoh VOC

MUHAMMADIYAH SULSEL, MAKASSAR - Pertunjukan "Cornelis Speelman and The Gank" menawarkan cara baru untuk menelusuri sejarah, melampaui lembaran buku dan cerita turun-temurun. Pementasan ini mengajak penonton menyelami ruang batin para tokoh, mengungkap ambisi, ketakutan, keyakinan, hingga keraguan yang menyelimuti perwira VOC dalam ekspedisi mereka dari Batavia menuju Makassar pada abad ke-17.
Diproduksi oleh Teater BM production Kabupaten Gowa, "Cornelis Speelman and The Gank" dijadwalkan tampil pada 10 Mei 2026, pukul 20.00 WITA, di Panggung DKSS Jalan Mallengkeri No. 12A, Makassar. Pementasan ini merupakan penyaji terakhir dari enam pertunjukan dalam Festival Teater Cerita Rakyat Sulawesi Selatan 2026, yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS) dengan dukungan dari Dana Indonesiaraya, Kementerian Kebudayaan RI, dan LPDP.
Disutradarai oleh Bahar Merdhu, pertunjukan ini tidak hanya mengisahkan perang antara Sultan Hasanuddin dan Cornelis Speelman. Sebaliknya, ia fokus pada konflik psikologis yang mengguncang, menggambarkan perwira VOC yang dihantui mitos kesaktian Hasanuddin, mengikis logika militer mereka sendiri. Setting pementasan di kapal besar membawa penonton langsung ke masa itu.
Ketegangan mencapai puncaknya saat armada VOC tiba di perairan Makassar. Menariknya, cerita ini tidak berakhir pada narasi kemenangan atau kekalahan. Melalui tokoh pasinrili, pertunjukan ini menyisakan suara perlawanan yang tak pernah padam, mengajak penonton untuk merenungkan bahwa semangat perjuangan terus hidup.
Pertunjukan ini didukung oleh aktor-aktor lokal berbakat seperti Aco Brown, Irwan AR, Agung Lazim, Nojeng, Andaspeak, Adi Doang, Rahman Labaranjangi, dan Sabilul Razak. Tim produksi melibatkan Ashabul Kahfi sebagai pimpinan produksi, Bahar Karca dan Ola Roland untuk musik, serta penampilan spesial sinrilik oleh Haeruddin Dg Nassa. Andri Prakarsa bertindak sebagai supervisor.
Ashabul Kahfi menyatakan, "Pertunjukan ini disiapkan sebulan lebih, untungnya selain sutradaranya maestro juga semua aktornya sudah cukup senior dalam panggung teater di Sulsel." Sutradara Bahar Merdhu menambahkan bahwa pementasan ini lebih dari sekadar tontonan, melainkan sebuah pengalaman tentang bagaimana sejarah dapat ditafsir ulang, diperdebatkan, bahkan digugat.
Bahar Merdhu mengajak, "Bagi warga Makassar dan pecinta seni pertunjukan, ini bukan hanya kesempatan menonton teater, tetapi juga merasakan kembali denyut sejarah dalam bentuk yang segar dan menggugah." Ini adalah kesempatan untuk berlayar kembali ke masa lalu dan merasakan denyut sejarah dalam bentuk yang segar dan menggugah.




