SWSC Unismuh Ajak Seventeen Community Bangun Budaya Pilah Sampah Bernilai Ekonomi

MUHAMMADIYAH SULSEL, MAKASSAR - Sustainable Waste Solution Center (SWSC) Universitas Muhammadiyah Makassar mengajak mahasiswa yang tergabung dalam Seventeen Community memperkuat kebiasaan memilah sampah dari sumber dan melihat sampah sebagai sumber daya yang dapat bernilai ekonomi. Ajakan itu disampaikan dalam sosialisasi pengelolaan sampah berkelanjutan yang berlangsung di Mini Hall Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unismuh Makassar, Selasa, 23 Juni 2026.
Kegiatan ini diarahkan untuk menambah partisipasi mahasiswa dalam program Green Campus yang sedang dibangun Unismuh Makassar. Peserta tidak hanya menerima materi tentang pengelolaan sampah, tetapi juga diperkenalkan pada sistem yang sudah dijalankan SWSC di lingkungan kampus, mulai dari pemilahan, bank sampah, hingga pengolahan sampah organik.
Sosialisasi tersebut menghadirkan Wakil Rektor I Unismuh Makassar, Prof Andi Sukri Syamsuri, dan Kepala SWSC Unismuh Makassar, Dr Andi Fatmawati Mappasere. Selain anggota Seventeen Community, kegiatan ini diikuti dosen dan pimpinan FKIP. Format acara disusun melalui pemaparan materi, diskusi, dan penjelasan teknis mengenai tata kelola sampah kampus.
Prof Andi Sukri menegaskan bahwa isu sampah tidak dapat diperlakukan sebagai urusan teknis yang hanya dibebankan kepada unit tertentu. Menurutnya, persoalan limbah sudah menjadi masalah global sehingga mahasiswa perlu dilibatkan sebagai agen perubahan yang mampu menularkan kebiasaan baru di kampus maupun di tengah masyarakat.
Ia menekankan bahwa tindakan kecil dalam pengelolaan sampah dapat menghasilkan dampak luas jika dilakukan bersama dan berkelanjutan. Karena itu, keberhasilan program SWSC tidak cukup bergantung pada satu tim pengelola, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh sivitas akademika agar pengurangan sampah, pemilahan, dan pemanfaatannya berjalan konsisten.
Dalam penjelasannya, Prof Andi Sukri menyebut kehadiran SWSC sebagai bagian dari komitmen Unismuh Makassar membangun identitas Green Campus yang nyata, bukan sekadar slogan. Kampus ingin menampilkan model lingkungan belajar yang bersih, sehat, dan bertanggung jawab terhadap limbah yang dihasilkannya sendiri.
Sementara itu, Andi Fatmawati Mappasere menjelaskan bahwa pengelolaan sampah merupakan bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Ia menilai perubahan perilaku harus dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan terus-menerus, terutama membiasakan pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Fatmawati memaparkan bahwa SWSC mengelompokkan sampah ke dalam empat kategori, yakni organik, anorganik, residu, serta bahan berbahaya dan beracun. Sampah organik diolah melalui komposter dan maggot, sedangkan sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, dan kardus dapat masuk ke bank sampah karena memiliki nilai jual. Dengan model ini, sampah tidak dipandang sebagai beban, melainkan aset yang bisa dikelola secara produktif.
Menurut dia, tantangan terbesar saat ini masih terletak pada rendahnya kedisiplinan memilah sampah di tingkat awal. Karena itu, sosialisasi kepada komunitas mahasiswa dianggap penting untuk memperluas basis relawan sekaligus calon nasabah bank sampah. SWSC juga membuka ruang keterlibatan mahasiswa sebagai Eco Ranger agar edukasi lingkungan tidak berhenti di ruang kelas.
Keikutsertaan Seventeen Community dinilai strategis karena komunitas mahasiswa dan alumni ini telah lama aktif sebagai ruang pembinaan, penguatan karakter, dan pengembangan kreativitas di Unismuh Makassar. Melalui forum tersebut, kampus berharap pesan tentang budaya bersih dan ekonomi sirkular dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa melalui jejaring yang sudah terbentuk.
Langkah SWSC menggandeng Seventeen Community menunjukkan bahwa agenda lingkungan di Unismuh mulai diarahkan ke pendekatan kolaboratif. Kampus tidak hanya menyiapkan fasilitas pengelolaan sampah, tetapi juga membangun kesadaran kolektif agar mahasiswa terlibat langsung dalam pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan sampah sebagai bagian dari budaya kampus berkemajuan.





