PWM Sulsel Tekankan Kaderisasi Cabang-Ranting di Musykerwil Nasyiah

MUHAMMADIYAH SULSEL, MAKASSAR - Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Dr. Pantja Nur Wahidin, menegaskan pentingnya kaderisasi dan penguatan cabang-ranting dalam membangun peradaban yang maju.
Pesan itu disampaikan Pantja saat membawakan amanah PWM Sulsel pada pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Musykerwil) II Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Sulawesi Selatan di Aula I-Gift Universitas Muhammadiyah Makassar, Jumat, 5 Juni 2026.
Musykerwil II PW Nasyiah Sulsel mengangkat tema "Memajukan Perempuan, Mengokohkan Peradaban melalui Penguatan Cabang dan Ranting Nasyiatul Aisyiyah di Sulawesi Selatan". Menurut Pantja, tema ini tidak boleh dimaknai sebatas perluasan struktur organisasi. Penguatan cabang dan ranting perlu berjalan bersama peningkatan kualitas kader.
Pantja menjelaskan, Muhammadiyah selama ini menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama peradaban. Pendidikan itu tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga dalam keluarga dan masyarakat. Ketiga ruang tersebut harus saling menguatkan agar melahirkan generasi yang berkarakter, berilmu, dan memiliki komitmen pada nilai Islam berkemajuan.
Dalam konteks gerakan perempuan muda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah dinilai memiliki posisi strategis. Organisasi ini menjadi ruang pembentukan kader perempuan yang kelak menggerakkan dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial di berbagai daerah.
Karena itu, Pantja mengingatkan agar agenda pembentukan cabang dan ranting tidak berhenti pada aspek administratif. Menurutnya, organisasi perlu menyiapkan kader dengan kapasitas, pendidikan yang baik, dan komitmen yang kuat. Tanpa kaderisasi yang masif dan berkelanjutan, organisasi akan kesulitan menyiapkan pemimpin masa depan.
Pantja juga mengapresiasi tradisi kader yang tumbuh di lingkungan Nasyiatul Aisyiyah, seperti pengajian, diskusi, membaca buku, dan konsistensi menjalankan aktivitas organisasi. Kebiasaan tersebut disebut sebagai modal penting untuk membentuk kader yang memiliki wawasan luas serta daya tahan perjuangan.
Selain kaderisasi, Pantja menekankan pentingnya jejaring. Menurutnya, pengembangan cabang-ranting membutuhkan sentuhan langsung, kolaborasi, dan jaringan yang kuat. Organisasi tidak cukup bergerak dari jauh, tetapi harus hadir bersama kader dan masyarakat di akar rumput.
Ia juga mengingatkan bahwa kepercayaan adalah modal penting dalam membangun kerja sama. Muhammadiyah dan organisasi otonomnya memiliki modal sosial besar di tengah masyarakat. Modal itu perlu dijaga melalui kompetensi, amanah, dan program yang benar-benar memberi manfaat.
Pantja meminta peserta Musykerwil menyusun program kerja yang realistis dan dapat dikerjakan. Ia menilai organisasi akan maju jika program tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan dijalankan secara nyata oleh pimpinan dan kader di setiap tingkatan.
Musykerwil II PW Nasyiah Sulsel menjadi forum evaluasi sekaligus perumusan program kerja organisasi. Forum ini diharapkan memperkuat konsolidasi Nasyiatul Aisyiyah hingga tingkat cabang dan ranting sebagai basis gerakan perempuan muda Muhammadiyah di Sulawesi Selatan.
Kegiatan yang berlangsung pada 5-7 Juni 2026 ini dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, yakni Dr. H. M. Ishak Iskandar, M.Kes., Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat yang mewakili Gubernur Sulawesi Selatan.
Turut hadir Ketua PWA Sulawesi Selatan Dr. Mahmudah, M.Hum., jajaran PWA Sulsel, Ketua Departemen Organisasi PP Nasyiatul Aisyiyah Nimatul Azizah, Ketua PW Nasyiah Sulawesi Selatan Darnawati Radjab, S.Pd.I., M.Pd.Gr., pimpinan wilayah dan daerah, peserta Musykerwil, unsur pimpinan Unismuh Makassar, para dekan, serta perwakilan ortom Muhammadiyah tingkat wilayah.





