PWM Sulsel Jelaskan KHGT: Dorong Persatuan Umat Melalui Kalender Global

MUHAMMADIYAH SULSEL, MAKASSAR - Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag., memaparkan pentingnya Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) di hadapan pimpinan dan perwakilan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam se-Sulawesi Selatan. Pertemuan silaturahim ini berlangsung di Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan pada Senin, 4 Mei 2026. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ambo Asse menegaskan bahwa Muhammadiyah telah mengadopsi kalender hijriah global sebagai ikhtiar untuk menyatukan umat Islam dalam penentuan waktu ibadah. Ia juga menyerukan penguatan komunikasi, ukhuwah, dan kerja sama antar-ormas Islam.
Prof. Ambo Asse menjelaskan bahwa penggunaan KHGT menandai pergeseran signifikan dalam metode penentuan kalender Muhammadiyah. "Kaitannya dengan tahun baru Islam, itu Muhammadiyah sudah menggunakan kalender hijriah global," ujarnya. Pergeseran ini, lanjutnya, adalah dari metode wujudul hilal dan matlak wilayah al-hukmi menuju matlak global atau internasional. "Jadi Muhammadiyah perlu dipahami bahwa Muhammadiyah bergeser dari wujudul hilal dan bergeser dari matlak wilayah al-hukmi, menggunakan matlak global, matlak internasional," kata Ambo, menekankan pentingnya pemahaman publik terhadap dasar perubahan ini.
KHGT, menurut Prof. Ambo, mengaplikasikan kriteria ketinggian hilal 5 derajat di atas ufuk dan elongasi 8 derajat secara global. Kriteria ini berbeda dengan yang umum digunakan di Indonesia, yaitu ketinggian 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Langkah Muhammadiyah mengadopsi kalender global ini bukan sekadar perubahan teknis penanggalan. Prof. Ambo Asse menegaskan, tujuannya adalah mendorong kesatuan umat Islam dalam beribadah secara lebih disiplin, tidak hanya di tingkat nasional, melainkan juga di seluruh dunia. "Itu digunakan tidak lain Muhammadiyah mau bersatu sedunia. Jadi bukan cuma bersatunya di Indonesia, tetapi berupaya bagaimana bersatu di dunia," jelasnya.
Gagasan kalender hijriah global mulai menguat pasca-Konferensi Islam di Turki pada tahun 2016. Konferensi yang melibatkan 150 negara tersebut menghasilkan persetujuan dari 80 negara untuk mengadopsi kalender global, sementara 50 negara menolak, dan sisanya abstain. Prof. Syamsul Anwar, perwakilan dari Muhammadiyah, menjadi delegasi Indonesia dalam konferensi tersebut. Sekembalinya ke tanah air, Prof. Syamsul Anwar melakukan serangkaian kajian dan seminar yang akhirnya melahirkan kalender hijriah global. Kalender ini kemudian disosialisasikan pada tahun 2024 dan mulai diberlakukan pada tahun 2025. "Begitu kembali ke Indonesia, beliau melakukan kajian dan melakukan seminar-seminar. Sehingga melahirkan kalender hijriah global yang disosialisasikan pada tahun 2024 dan diberlakukan tahun 2025," kata Prof. Ambo. Meskipun secara resmi diberlakukan pada 1446 Hijriah, implementasi penuh kalender ini baru terwujud pada 1447 Hijriah.
Prof. Ambo meminta para pimpinan ormas Islam memahami latar belakang ini, agar perbedaan dalam penentuan kalender tidak lagi disalahartikan sebagai bentuk ketidaktaatan Muhammadiyah kepada pemerintah. "Hanya saja kalau Muhammadiyah Lebaran lebih awal, terlalu banyak informasi, berita, Muhammadiyah tidak taat pemerintah," ungkapnya. Ia menegaskan prinsip Muhammadiyah: dalam urusan ibadah, ketaatan mutlak hanya kepada Allah SWT. Namun, untuk urusan publik seperti membayar pajak dan mematuhi lalu lintas, Muhammadiyah tetap menjunjung tinggi ketaatan kepada negara.
Pembahasan KHGT ini merupakan bagian dari agenda forum yang lebih luas, yaitu penguatan persatuan ormas Islam. Sebelum memaparkan isu kalender, Prof. Ambo Asse menekankan pentingnya ormas Islam untuk membangun komunikasi yang baik, memperluas jaringan, dan mengamalkan ukhuwah Islamiah. Menurutnya, pertemuan lintas-ormas ini selaras dengan kepribadian Muhammadiyah yang beramal dan berjuang demi perdamaian serta kesejahteraan. Kerja sama dengan seluruh golongan Islam, tambahnya, esensial dalam menyiarkan, mengamalkan, dan membela kepentingan agama Islam.
Suasana pertemuan di aula Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan berlangsung khidmat, dengan pimpinan dan perwakilan ormas Islam duduk mengelilingi meja. Bendera Muhammadiyah, layar presentasi, dan podium berlambang persyarikatan menghiasi bagian depan ruangan. Dalam kesempatan ini, Prof. Ambo juga memperkenalkan luasnya jaringan Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Ia merinci bahwa Muhammadiyah Sulsel memiliki kepengurusan di 24 daerah, lebih dari 700 cabang, hampir 3.000 ranting, 14 perguruan tinggi (termasuk Aisyiyah), sekitar 40 pesantren dan tahfiz Al-Qur’an, lebih dari 300 lembaga pendidikan menengah, serta 433 taman kanak-kanak Aisyiyah.
Prof. Ambo Asse berharap sosialisasi KHGT ini dapat menumbuhkan pemahaman bersama tentang dasar pemikiran Muhammadiyah di kalangan ormas Islam. Lebih lanjut, ia berharap silaturahim ini akan memperkuat persatuan, meminimalisir prasangka, dan mendorong kolaborasi umat Islam Sulawesi Selatan untuk agenda-agenda ke depan.




