PPPUM ‘Aisyiyah Sulsel Luluskan 186 Santriwati, Berprestasi Akademik dan Tahfidz Qur’an

MUHAMMADIYAH SULSEL, MAKASSAR - Pondok Pesantren Puteri Ummul Mukminin (PPPUM) ‘Aisyiyah Wilayah Sulawesi Selatan sukses menyelenggarakan Penamatan Santriwati ke-34 untuk jenjang SMA dan MA. Acara yang berlangsung khidmat di Gedung Indoor PPPUM pada Sabtu, 23 Mei 2026, ini menegaskan komitmen pesantren dalam melahirkan generasi muslimah unggul, kader ulama, dan perempuan berkemajuan. Penamatan ini bukan hanya seremoni kelulusan, melainkan sebuah peneguhan nilai keimanan, pendidikan, dan dakwah kemanusiaan di tengah kompleksitas tantangan zaman.
Kegiatan penamatan ini mengusung tema "Mencetak Alumni Unggul dan Kader Ulama guna Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian". Hadir dalam acara tersebut jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, tokoh pendidikan, perwakilan Kementerian Agama, para guru, orang tua santri, serta ratusan santriwati.
Pembukaan acara diisi dengan pengajian yang disampaikan oleh Kyai Pondok PPPUM, Drs. KH. Jalaluddin Sanusi. Beliau mengulas Surah At-Tur ayat 21-28, membahas pentingnya hubungan orang tua dan anak yang kelak akan dipertemukan kembali oleh Allah SWT berkat kesamaan garis keimanan. KH. Jalaluddin Sanusi menekankan bahwa pendidikan berbasis keagamaan merupakan jalur krusial bagi orang tua dalam memastikan kesinambungan kebaikan di dunia dan akhirat.
"Berbahagialah orang tua yang mengarahkan anaknya kepada pendidikan keagamaan dan keimanan sehingga mereka bisa bertemu nanti di akhirat. Karena kalau berada dalam garis keimanan yang sama, Allah akan mempertemukan mereka dalam kegembiraan," tutur KH. Jalaluddin Sanusi kepada para wali santri dan tamu undangan.
Dra. Masriwaty Malik, M.TH.I., Direktur PPPUM ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, menyampaikan laporan pendidikan dengan rasa syukur atas eksistensi pesantren sejak tahun 1987. Menurutnya, penamatan angkatan ke-34 ini merefleksikan keberhasilan PPPUM dalam menjalankan amanah pendidikan untuk mencetak kader umat.
Untuk tahun ajaran 2025/2026, PPPUM meluluskan 186 santriwati dari jenjang SMA dan Madrasah Aliyah. Bersamaan dengan itu, 83 santriwati Tahfidzul Qur’an Angkatan XI juga diwisuda, di mana 26 orang di antaranya telah merampungkan hafalan 30 juz Al-Qur’an.
"Ini adalah nikmat dan karunia besar bagi kami. Penamatan ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, tetapi bagian dari misi besar melahirkan kader umat dan kader persyarikatan yang unggul," jelas Masriwaty. Masriwaty menambahkan, PPPUM saat ini menaungi 1.264 santri yang tersebar di empat satuan pendidikan, semuanya telah meraih akreditasi unggul. Total alumni pesantren sejak berdiri telah mencapai 3.414 orang.
Di sektor akademik, PPPUM juga menunjukkan prestasi membanggakan. Sebanyak 85 santriwati telah berhasil lolos seleksi ke berbagai perguruan tinggi negeri dan keagamaan melalui beragam jalur. Rinciannya, 36 santriwati SMA berhasil masuk perguruan tinggi, dengan 22 orang melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan 14 orang via SPAN-PTKIN. Dari Madrasah Aliyah, 49 santriwati diterima, terdiri dari 13 orang melalui SNBP dan 36 orang melalui SPAN-PTKIN.
Masriwaty optimis angka ini akan terus bertambah, mengingat masih ada sejumlah santriwati yang menanti hasil seleksi dari berbagai perguruan tinggi, termasuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah terkemuka seperti Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Selain prestasi akademik, PPPUM juga gencar melaksanakan program kaderisasi dan penguatan karakter. Ini mencakup daurah tahfidz, muballigh hijrah, kemah tahfidz dan bahasa, serta pengembangan life skill melalui organisasi santri. Berbagai penghargaan juga telah diraih PPPUM, termasuk Awards Pesantren Ramah Anak tingkat Sulawesi Selatan dari PSGA UIN Alauddin Makassar, serta predikat Mumtaz-Unggul dari Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Kepada para wisudawati, Masriwaty menyampaikan pesan khusus mengenai pentingnya menjaga ketakwaan, akhlak mulia, dan identitas muslimah dalam setiap aspek kehidupan. "Sebagai muslimah puteri, persiapkanlah dirimu menjadi Ummul Mukminin, ibu teladan yang melahirkan generasi mukmin," pesannya.
Prof. Dr. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K), M.Med.Ed., yang mewakili Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, menyoroti momentum istimewa penamatan ini. Menurutnya, acara ini bertepatan dengan perayaan Milad ke-109 ‘Aisyiyah dan menjelang Iduladha 1447 Hijriah. Kedua momentum tersebut, imbuhnya, sarat dengan makna ketangguhan perempuan dalam kontribusinya membangun peradaban.
"Ibu-ibu ‘Aisyiyah adalah pendamping peradaban. Dan para santriwati hari ini adalah calon perempuan tangguh masa depan yang akan mengambil peran besar dalam masyarakat," kata Prof. Budu. Beliau mengamati bahwa dunia saat ini membuka peluang besar bagi perempuan cerdas dan generasi muda dengan kapasitas akademik serta religiusitas yang kuat. Oleh karena itu, ia mendorong para santriwati untuk memiliki growth mindset, rasa percaya diri, dan semangat belajar yang berkelanjutan dalam menghadapi perubahan zaman.
"Jangan pernah merasa cukup dengan capaian hari ini. Perempuan berkemajuan adalah perempuan yang terus bertumbuh, adaptif, dan memiliki visi ilmu," tegas Prof. Budu.
Mewakili Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Dr. Saenong, Lc., M.A., Kepala Kantor Wilayah, menjelaskan bahwa pesantren kini mendapat perhatian lebih serius dari pemerintah. Hal ini terlihat dengan adanya Undang-Undang Pesantren dan pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren. Beliau menyebutkan tiga fungsi utama pesantren, yaitu pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan sosial kemasyarakatan. "Pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga pusat pembentukan akhlak dan penguatan sosial masyarakat," ujarnya.
Dr. Mahmudah, M.Hum., Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, menyampaikan apresiasi mendalam kepada para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan putri-putri mereka di PPPUM selama enam tahun. Ia berpendapat bahwa para santriwati adalah bagian dari generasi emas Indonesia yang dipersiapkan menjadi perempuan berkemajuan dan kader ulama. "Ananda sekalian dipersiapkan menjadi pelopor perdamaian, pemimpin yang amanah, serta perempuan yang terus belajar dan berprestasi," ungkap Dr. Mahmudah.
Mahmudah turut mengajak para alumni untuk melanjutkan studi di Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan (INASS), yang kini menawarkan lima program studi unggulan: Ekonomi Syariah, Hukum Tata Negara, Manajemen Pendidikan Islam, Pendidikan Bahasa Inggris, dan Pendidikan Agama Islam. Kabar gembira disampaikan Mahmudah khusus bagi santriwati penghafal 30 juz Al-Qur’an. "Bagi ananda hafidzah 30 juz, kami memberikan beasiswa kuliah di Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan tanpa tes," katanya, disambut antusiasme hadirin.
Penamatan Santriwati ke-34 PPPUM ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan berakhir dengan suasana haru dan kebanggaan. Di tengah dinamika global, pesantren ini terus mengukuhkan perannya sebagai pusat kaderisasi perempuan muslimah berkemajuan, yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga kokoh dalam nilai keislaman, kepemimpinan, dan dakwah kemanusiaan.




