Pesan Iduladha di Unismuh Makassar: Prof Qadir Ajak Kuatkan Amar Makruf dan Etika Bermedsos

MUHAMMADIYAH SULSEL, MAKASSAR - Prof Abdul Qadir Gassing, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, mengajak seluruh umat Islam untuk memperkuat prinsip amar makruf nahi mungkar. Seruan ini, yang menjadi dasar pembangunan bangsa berkeadaban, disampaikannya dalam khutbah Iduladha 1447 Hijriah di Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar pada Rabu, 27 Mei 2026.
Mantan Rektor UIN Alauddin Makassar itu menyampaikan khutbah bertajuk “Dengan Hikmah Iedul-Qurban Kita Tingkatkan Amar Makruf Nahi Mungkar dalam Membangun Bangsa yang Berkeadaban”. Ia menekankan bahwa Idul Adha lebih dari sekadar penyembelihan hewan kurban; ia mengandung ajaran mendalam tentang keikhlasan, kepedulian sosial, dan upaya mendekatkan diri kepada Allah.
Menurut Prof Qadir, daging kurban memiliki fungsi ganda: tidak hanya untuk dibagikan kepada fakir miskin, tetapi juga sebagai sarana dakwah dan penguatan hubungan sosial. Dalam konteks tertentu, daging kurban dapat diberikan kepada mereka yang belum berkurban, bahkan kepada tetangga non-Muslim, sebagai wujud ikhtiar membangun kedekatan sosial.
Selain itu, Prof Qadir juga menjelaskan makna ibadah haji. Ia menegaskan bahwa haji mabrur tidak ditentukan oleh fasilitas keberangkatan, tempat menginap, atau tingkat kesulitan selama di Tanah Suci, melainkan oleh transformasi spiritual yang dialami pelakunya. “Haji yang mabrur adalah haji yang berhasil mencampakkan sifat-sifat hewaniah dan menyerap sifat-sifat rabbaniyah,” ujarnya.
Dalam bagian lain khutbahnya, Prof Qadir menyoroti tantangan yang dihadapi umat di era media sosial. Ia mengingatkan akan bahaya fitnah, hoaks, ghibah, dan adu domba yang mudah menyebar melalui berbagai platform digital seperti WhatsApp, Facebook, dan TikTok. Ia mengaitkan fenomena ini dengan peristiwa haditsul ifki, yakni fitnah yang menimpa Sayyidah Aisyah RA pada masa Nabi Muhammad SAW, sebagai pelajaran penting tentang perlunya verifikasi informasi.
“Mari saring sebelum sharing dan tegakkan prinsip tabayun,” tegas Prof Qadir. Ia melanjutkan bahwa media sosial seharusnya dimanfaatkan untuk dakwah, penyebaran ilmu, dan penguatan nilai-nilai kebaikan, bukan sebagai arena produksi kebencian dan permusuhan.
Prof Qadir juga mengingatkan umat agar tidak pernah lelah menjalankan amar makruf nahi mungkar sesuai kapasitas masing-masing. Pemerintah dan aparat memiliki tanggung jawab melalui kewenangan, pendidik dan mubalig melalui lisan, sementara masyarakat luas dapat berperan melalui sikap moral dan penolakan terhadap kemungkaran.
Khusus untuk warga persyarikatan Muhammadiyah, Prof Qadir mengajak mereka untuk istiqamah dalam ber-Islam dan ber-Muhammadiyah. Ia menyebut empat arena perkhidmatan kebangsaan yang perlu terus dikawal: demokrasi, ekonomi, hukum, dan kebudayaan. Menurutnya, politik transaksional, ketimpangan ekonomi, praktik mafia hukum, kriminalisasi, serta kemerosotan moral adalah bentuk kemungkaran sosial yang harus dihadapi dengan ilmu, kelembutan, dan kesabaran.
Nilai-nilai budaya Bugis-Makassar seperti siri na pacce, sipakatau, sipakalabbiri’, dan sipakainga’ juga dinilai Prof Qadir sebagai modal kultural yang kuat untuk membangun bangsa dengan watak keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan universal.
Sementara itu, Rektor Unismuh Makassar Dr Abdul Rakhim Nanda menyatakan bahwa Idul Adha merupakan momentum bagi sivitas akademika untuk bermuhasabah dan mengambil pelajaran dari keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Menurut Dr Rakhim, nilai pengorbanan dan keikhlasan harus diterjemahkan dalam pengelolaan universitas dan seluruh unit amal usaha di lingkungan Unismuh Makassar, termasuk rumah sakit, medical center, laboratorium school, serta unit kerja lainnya.
“Mari kita manfaatkan momentum Idul Adha ini sebagai keikhlasan dalam pengabdian kepada Allah SWT,” kata Dr Rakhim. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada panitia Hari Raya Idul Adha Unismuh Makassar dan Panitia Masjid Subulussalam atas suksesnya penyelenggaraan shalat Idul Adha di kampus tersebut.




