PDM Parepare Gelar FGD: Muhammadiyah sebagai Pusat Peradaban Kota

MUHAMMADIYAH SULSEL, PAREPARE - Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Parepare menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Muhammadiyah sebagai Pusat Peradaban di Kota Parepare”. Acara ini berlangsung pada Jumat, 15 Mei 2026, bertempat di Gedung Serbaguna ‘Aisyiyah, Kota Parepare.
FGD ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan Muhammadiyah Kota Parepare, termasuk pimpinan cabang dan ranting Muhammadiyah, pengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan ‘Aisyiyah, pengurus sekolah, serta pengurus masjid Muhammadiyah dan masjid binaan. Forum diskusi ini bertujuan memperkuat peran Muhammadiyah dalam pembangunan peradaban di tingkat lokal.
Selain berfokus pada penguatan gerakan, kegiatan ini juga menjadi sarana sosialisasi penataan data dan inventaris organisasi Muhammadiyah sebagai persiapan menjelang Muktamar Muhammadiyah mendatang. Penataan administrasi dan inventaris dianggap krusial untuk menciptakan tata kelola organisasi yang tertib, rapi, dan terintegrasi.
Diskusi dipandu oleh Muh. Ramdhan, S.Pd., seorang Angkatan Muda Muhammadiyah yang juga demisioner Ketua PC IMM dan Ketua DPD II KNPI Kota Parepare, sebagai moderator. Dalam pengantarnya, Muh. Ramdhan menekankan pentingnya sinergi antar-elemen Muhammadiyah di Parepare. Ia menyatakan bahwa Muhammadiyah memiliki tanggung jawab besar dalam membangun peradaban umat melalui pendidikan, dakwah, sosial, dan penguatan nilai-nilai keislaman di masyarakat.
Ir. H. Kaharuddin Kadir, M.Si., yang menjabat sebagai Ketua DPRD Kota Parepare, Ketua LHKP PDM Kota Parepare, sekaligus Wakil Ketua PDM Parepare, hadir sebagai narasumber utama. Ia menjelaskan bahwa konsep Muhammadiyah sebagai pusat peradaban harus diwujudkan melalui penguatan cabang, ranting, dan amal usaha Muhammadiyah.
Menurut Kaharuddin, Muhammadiyah tidak hanya berfungsi sebagai organisasi dakwah, tetapi juga sebagai gerakan sosial dan peradaban yang mampu menawarkan solusi bagi masyarakat. Oleh karena itu, semua elemen Muhammadiyah perlu membangun kolaborasi yang solid dalam mengembangkan pendidikan, ekonomi, pelayanan umat, dan pembinaan generasi muda. “Peradaban itu dibangun dengan ilmu, organisasi, dan kekuatan sosial umat. Muhammadiyah harus hadir menjadi solusi di tengah masyarakat,” tegas Kaharuddin Kadir.
Ia juga menyoroti urgensi penataan data organisasi dan inventaris Muhammadiyah menjelang Muktamar. Menurutnya, semua cabang, ranting, amal usaha, dan aset Muhammadiyah harus memiliki data yang tertib dan akurat sebagai bagian dari penguatan tata kelola organisasi. “Persiapan menuju Muktamar Muhammadiyah membutuhkan kerapian data organisasi dan inventaris. Ini penting agar gerakan Muhammadiyah semakin tertata dan profesional,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kaharuddin mengajak seluruh pengurus cabang dan ranting Muhammadiyah untuk menguatkan konsolidasi organisasi hingga ke tingkat akar rumput, mengingat cabang dan ranting adalah ujung tombak gerakan Muhammadiyah dalam membentuk masyarakat yang religius dan berdaya.
FGD berlangsung interaktif dan penuh kehangatan. Para peserta dari unsur Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), sekolah Muhammadiyah, serta pengurus masjid Muhammadiyah dan binaan aktif menyampaikan pandangan, masukan, dan pengalaman mereka dalam mengembangkan gerakan Muhammadiyah di lingkungan masing-masing.
Diskusi mencakup berbagai isu strategis, mulai dari penguatan kaderisasi, pengembangan amal usaha, dakwah berbasis masjid, hingga tantangan Muhammadiyah dalam menghadapi dinamika sosial masyarakat modern.
Melalui kegiatan ini, LHKP PDM Parepare berharap dapat tercipta sinergi yang lebih kuat antar-pemangku kepentingan Muhammadiyah demi mewujudkan Muhammadiyah sebagai pusat peradaban di Kota Parepare. Forum ini juga diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat gerakan dakwah dan pelayanan umat yang lebih maju, adaptif, tertib administrasi, dan berkemajuan di tingkat lokal.
(Raya Mangsi, Usman, Alfian Shaddam Syafei)




