PC IMM Makassar Adakan 'Book Show', Perkuat Tradisi Intelektual Kader

MUHAMMADIYAH SULSEL, MAKASSAR - Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Makassar menegaskan komitmennya dalam menjaga tradisi literasi dan daya kritis kader. Hal ini diwujudkan melalui "IMM Book Show" yang berlangsung pada Rabu, 13 Mei 2026, di Makassar Creative Hub, kawasan Pantai Losari. Forum ini berfungsi sebagai wadah refleksi intelektual bagi kader IMM untuk mengkaji beragam fenomena sosial, politik, dan spiritualitas yang berkembang di masyarakat.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Bidang Kajian dan Pengembangan Keilmuan (KPK) PC IMM Kota Makassar. Diskusi menghadirkan tiga narasumber dari berbagai disiplin ilmu dan kepenulisan, dengan Fathurahman, Ketua Bidang KPK PC IMM Kota Makassar, sebagai pemandu acara.
Dr. Hadisaputra, seorang akademisi dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, membuka sesi dengan menganalisis fenomena "dukun politik" di Sulawesi Selatan dari sudut pandang antropologi. Ia menjelaskan bahwa praktik tersebut tidak dapat dipandang hanya sebagai mitos, melainkan terkait erat dengan konstruksi budaya, relasi kuasa, dan kepercayaan sosial yang masih mengakar dalam masyarakat.
Selanjutnya, Asratillah, penulis buku Anti Demagog, membahas dinamika kepemimpinan populis yang dianggap semakin relevan dengan kondisi politik saat ini. Ia menyoroti bagaimana figur populis sering kali membangun pengaruh melalui narasi emosional yang dapat memengaruhi kesadaran publik. "Fenomena populisme hari ini menunjukkan bahwa masyarakat perlu memiliki daya kritis agar tidak mudah terjebak dalam retorika yang manipulatif," tegas Asratillah dalam diskusinya.
Narasumber terakhir, Ismi Roni, memaparkan isi bukunya Memeluk Tuhan. Buku ini mengisahkan perjuangan Anjani, seorang tokoh perempuan, yang menghadapi pergulatan batin, tekanan sosial, serta menemukan kekuatan dalam doa dan spiritualitas di tengah keraguan publik.
Fathurahman, Ketua Bidang KPK PC IMM Kota Makassar, menyatakan bahwa "IMM Book Show" dirancang sebagai ruang intelektual yang tidak hanya mendekatkan kader dengan buku, tetapi juga dengan gagasan kritis yang relevan dengan realitas sosial. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan narasumber. Menurutnya, tradisi membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis adalah identitas gerakan IMM yang harus terus dipelihara.
"Melalui forum seperti ini, kami berharap kader IMM tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi tumbuh menjadi intelektual yang mampu mencerahkan dan menggerakkan masyarakat dengan semangat intelektualisme progresif," pungkas Fathurahman.




