Musykerwil II Nasyiatul Aisyiyah Sulsel di Makassar, Perkuat Cabang dan Ranting

MUHAMMADIYAH SULSEL, MAKASSAR - Pimpinan Wilayah (PW) Nasyiatul Aisyiyah Sulawesi Selatan mengumumkan rencana penyelenggaraan Musyawarah Kerja Wilayah (Musykerwil) II periode 2022-2026. Kegiatan penting ini dijadwalkan berlangsung di Makassar pada tanggal 5-7 Juni 2026.
Mengusung tema “Memajukan Perempuan, Mengokohkan Peradaban melalui Penguatan Cabang dan Ranting Nasyiatul Aisyiyah di Sulawesi Selatan,” Musykerwil II menjadi momen strategis. Forum ini akan digunakan untuk mengevaluasi program kerja yang telah berjalan, sekaligus memperkuat konsolidasi organisasi di seluruh tingkatan, termasuk cabang dan ranting.
Nur Khaerah, Ketua Panitia Musykerwil II, menjelaskan bahwa acara ini lebih dari sekadar agenda rutin organisasi. Menurutnya, Musykerwil merupakan ruang refleksi dan penguatan gerakan perempuan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
“Musykerwil ini menjadi wadah untuk memperkuat sinergi kader Nasyiatul Aisyiyah di Sulawesi Selatan. Kami ingin memastikan bahwa cabang dan ranting mampu menjadi pusat gerakan perempuan muda yang aktif, progresif, dan hadir menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Nur Khaerah. Ia menambahkan, penguatan struktur organisasi di tingkat akar rumput merupakan langkah krusial agar program pemberdayaan perempuan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan. Agenda Musykerwil II mencakup sidang pleno, evaluasi program kerja, perumusan rekomendasi strategis, serta penguatan kapasitas kader.
Sementara itu, Ketua PW Nasyiatul ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, Darnawati Rajab, menegaskan bahwa Musykerwil II adalah bagian dari upaya membangun gerakan perempuan yang berkemajuan dan memberikan dampak luas bagi masyarakat.
“Tema yang kami angkat bukan sekadar slogan, tetapi menjadi komitmen bersama untuk menghadirkan perempuan sebagai subjek utama dalam pembangunan peradaban,” kata Darnawati Rajab. Ia menekankan bahwa penguatan cabang dan ranting adalah fondasi utama agar gerakan organisasi tetap hidup dan dekat dengan masyarakat, karena keduanya merupakan ujung tombak dalam menjalankan dakwah, kaderisasi, dan pemberdayaan perempuan di tingkat lokal. “Ketika cabang dan ranting kuat, maka gerakan perempuan akan semakin nyata dirasakan masyarakat. Dari sanalah lahir kader-kader perempuan yang mampu membawa nilai keislaman, kemajuan, dan kepedulian sosial secara berkelanjutan,” jelasnya.




