Muhammadiyah Sulsel Kumpulkan Ormas Islam, Perkuat Persatuan dan Kerja Sama Umat

MUHAMMADIYAH SULSEL, MAKASSAR - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan pada Senin, 4 Mei 2026, menjadi tuan rumah bagi Silaturahim Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam Tingkat Sulawesi Selatan. Bertempat di Aula Lantai III Kantor PWM Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, pertemuan ini digelar untuk mengukuhkan komunikasi, persatuan, dan kerja sama di antara berbagai organisasi keagamaan.
Sejumlah tokoh dan pimpinan ormas Islam terkemuka hadir dalam kegiatan ini, termasuk perwakilan dari Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Selatan, PW Nahdlatul Ulama Sulsel, DPW Hidayatullah Sulsel, Dewan Masjid Indonesia Sulsel, Wahdah Islamiyah Sulsel, PW Darud Dakwah wal Irsyad (DDI) Sulsel, serta Ketua DPW Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sulsel. Turut hadir pula perwakilan dari ICMI Sulsel, DPP IMMIM, Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (ICAT), dan As'adiyah Sulsel.
Forum ini merupakan langkah awal untuk mempertemukan para pimpinan ormas Islam dalam dialog, menindaklanjuti komitmen kerja sama lintas ormas yang telah terjalin sebelumnya. Pembahasan utama meliputi pentingnya menjaga ukhuwah Islamiah, memperkuat peran ormas sebagai mitra strategis pemerintah, serta menjajaki peluang untuk agenda bersama yang bermanfaat bagi umat Islam di Sulawesi Selatan.
Ketua PWM Sulsel, Prof. Ambo Asse, menyambut hangat kehadiran para pimpinan ormas. Ia menekankan pentingnya forum ini sebagai wadah pertemuan elemen-elemen umat Islam yang selama ini bergerak secara mandiri. "Kita harus membangun komunikasi yang baik, kita memperkuat persatuan. Kita memperkuat persatuan dan kesatuan kita sehingga Islam ini tidak menjadi permainan," ujar Prof. Ambo Asse dalam sambutannya.
Prof. Ambo Asse menjelaskan bahwa pertemuan lintas ormas ini selaras dengan nilai-nilai kepribadian Muhammadiyah, khususnya dalam beramal dan berjuang demi perdamaian serta kesejahteraan. "Yang pertama, beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan. Jadi Muhammadiyah bergerak selalu bagaimana perdamaian dan juga bagaimana kesejahteraan umat," tambahnya. Muhammadiyah, lanjutnya, senantiasa mendorong perluasan pertemanan, penguatan ukhuwah Islamiah, dan kerja sama dengan golongan Islam mana pun dalam menyiarkan serta mengamalkan ajaran Islam. Ia juga memperkenalkan jaringan luas amal usaha Muhammadiyah di Sulawesi Selatan, yang mencakup kepengurusan di 24 daerah, lebih dari 700 cabang, hampir 3.000 ranting, 14 perguruan tinggi (termasuk Aisyiyah), sekitar 40 pesantren dan tahfiz Al-Qur'an, lebih dari 300 lembaga pendidikan menengah, serta 433 taman kanak-kanak Aisyiyah.
Prof. Ambo Asse berharap silaturahim ini tidak hanya berhenti pada pertemuan seremonial, melainkan dapat berlanjut menjadi kegiatan-kegiatan bersama. Ia mengusulkan agenda seperti menyambut Muharam atau kegiatan lain yang melibatkan umat Islam secara lebih luas di Sulawesi Selatan. "Dengan pertemuan kita ini mungkin beberapa kali pertemuan lalu ada aksi. Ada kegiatan bersama yang kita lakukan," harapnya. Ia menambahkan, persatuan antarormas Islam harus dibangun dengan menghilangkan prasangka dan memperbanyak ruang perjumpaan, sehingga dapat memperkuat kesamaan langkah tanpa menghilangkan kekhasan masing-masing organisasi.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Republik Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, yang diwakili oleh Kepala Bagian Tata Usaha Aminuddin, menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif silaturahim ini. Menurutnya, kegiatan ini merupakan implementasi dari nota kesepahaman yang telah terjalin antara Kemenag dan ormas Islam sebelum Ramadan. Aminuddin menekankan posisi strategis ormas keagamaan sebagai bagian dari masyarakat sipil dan mitra pemerintah dalam pembinaan umat. Ia mengakui keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran pemerintah, yang menjadikan kolaborasi dengan ormas Islam esensial untuk menjangkau masyarakat secara lebih luas. "Kami yang pasti bahwa pemerintah tidak sanggup untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan pembinaan umat. Yang pertama karena SDM terbatas. Yang kedua, anggaran juga terbatas," jelas Aminuddin.
Aminuddin juga menyoroti bahwa silaturahim ini berbeda karena lahir dari kebutuhan bersama di tingkat ormas, menunjukkan komitmen nyata para pimpinan untuk memperkuat persatuan umat. "Ini lahir bottom up karena memang sesuatu yang dibutuhkan dan kita sudah komitmen bersama bagaimana Ormas-Ormas Islam ini bisa bersatu," katanya. Kemenag Sulsel juga membuka peluang agar pertemuan serupa dapat digelar bergiliran di kantor ormas lain atau di Kantor Wilayah Kementerian Agama, menjadikan silaturahim sebagai dakwah bilhal yang nyata.
Suasana pertemuan berlangsung khidmat dan terbuka, dengan para peserta duduk mengelilingi meja panjang di aula. Para pimpinan ormas mengenakan beragam busana, mulai dari batik, kemeja putih, jas organisasi, hingga peci hitam. Diskusi berjalan aktif, dengan pembicara bergantian menyampaikan pandangan tentang peran ormas Islam dalam menjaga kehidupan keagamaan di Sulawesi Selatan. Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal konsolidasi yang berkelanjutan, melahirkan agenda bersama dalam pemberdayaan masjid, pembinaan umat, dan penguatan ukhuwah Islamiah di Sulawesi Selatan.




