Milad ke-109 ‘Aisyiyah Sulsel di Pinrang: Ribuan Kader dan Dampak Ekonomi Lokal

MUHAMMADIYAH SULSEL, PINRANG - Peringatan Milad ke-109 ‘Aisyiyah Tingkat Wilayah Sulawesi Selatan sukses diselenggarakan di Aula Masjid Agung Al-Munawir, Kabupaten Pinrang, pada Ahad, 31 Mei 2026. Acara ini bukan sekadar perayaan hari jadi organisasi perempuan Islam berkemajuan, melainkan juga ajang konsolidasi dakwah kemanusiaan, pemberdayaan perempuan, serta pendorong ekonomi masyarakat setempat. Sekitar 2.000 peserta dari 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan turut memeriahkan kegiatan yang mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” ini.
Kehadiran ribuan kader, pimpinan, anggota, dan simpatisan ‘Aisyiyah dari berbagai penjuru Sulawesi Selatan memberikan dampak signifikan melampaui seremoni organisasi. Selama rangkaian milad berlangsung, Kabupaten Pinrang menjadi pusat pertemuan bagi berbagai gerakan perempuan, dakwah sosial, pendidikan, kesehatan, UMKM, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Bupati Pinrang, Andi Irwan Hamid, S.Sos., mengapresiasi kontribusi Milad ke-109 ‘Aisyiyah terhadap pergerakan ekonomi daerah. Dalam sambutannya, Irwan menyatakan, “Pinrang berterima kasih sekali karena ‘Aisyiyah ditempatkan di Kabupaten Pinrang. Kegiatan ini pasti memberi pergerakan ekonomi yang luar biasa.” Menurutnya, kehadiran sekitar 2.000 peserta dari berbagai kabupaten/kota telah menggerakkan sektor kuliner, transportasi, penginapan, dan UMKM lokal. Selain manfaat ekonomi, kegiatan berskala provinsi ini juga memperkenalkan potensi daerah, termasuk kuliner khas Pinrang, kepada para peserta.
Irwan juga menyoroti peran penting ‘Aisyiyah dalam pembangunan sosial. Banyak kader ‘Aisyiyah terlibat aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan seperti posyandu, penanganan tuberkulosis, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik lainnya. Ia menekankan bahwa dakwah tidak terbatas pada ceramah atau pidato. “Dakwah itu bukan selalu dalam bentuk pidato atau ceramah. Dalam bentuk kegiatan pun itu sudah termasuk dakwah yang luar biasa karena bersentuhan langsung dengan masyarakat,” tegas Irwan, menggarisbawahi pentingnya aksi nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Dr. Nurhayati Haruna, Ketua Panitia Pelaksana Milad, menyatakan bahwa acara ini merupakan momentum krusial bagi ‘Aisyiyah untuk memperkuat dakwah perempuan berkemajuan, yang mencakup pendidikan, sosial keagamaan, dan pemberdayaan ekonomi umat. Beragam agenda telah disiapkan untuk menyentuh langsung kebutuhan masyarakat dan perempuan. Ini termasuk ‘Aisyiyah Creative Fest, Expo BUEKA (Bina Usaha Ekonomi Keluarga ‘Aisyiyah), pasar murah, talkshow tentang ketahanan keluarga dan kemandirian digital, edukasi perawatan wajah, senam, launching ketahanan pangan, pelantikan Iswara, peluncuran Pos Bantuan Hukum ‘Aisyiyah, Biro Konsultasi Keluarga Sakinah, Rumah Sakinah, serta Wisuda Akbar Sekolah Wira Usaha ‘Aisyiyah.
Wisuda Akbar Sekolah Wira Usaha ‘Aisyiyah menjadi sorotan utama, diikuti oleh peserta dari delapan kabupaten/kota: Pangkep, Bantaeng, Gowa, Bone, Parepare, Makassar, Bulukumba, dan Pinrang sebagai tuan rumah. Para peserta telah melewati berbagai tahap pembinaan, mulai dari pelatihan dasar kewirausahaan, manajemen usaha, pengelolaan keuangan sederhana, pemasaran digital, pengemasan produk, penguatan mental usaha, hingga pendampingan UMKM. Nurhayati berharap program ini dapat melahirkan perempuan tangguh yang mandiri secara ekonomi, mampu meningkatkan ekonomi keluarga, menciptakan lapangan kerja, dan menginspirasi perempuan lain. “Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti hanya sebagai seremoni, tetapi benar-benar menjadi langkah nyata untuk kemandirian masyarakat,” pungkasnya.
Dr. Mahmudah, M.Hum., Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, dalam pidato miladnya menyampaikan bahwa tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” memiliki pesan strategis. Ia membandingkan tantangan dakwah masa kini yang jauh lebih kompleks dibanding masa awal ‘Aisyiyah yang berfokus pada buta huruf dan akses pendidikan. Kini, ‘Aisyiyah menghadapi persoalan seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, penyalahgunaan teknologi digital, judi online, pornografi, narkoba, krisis kesehatan mental, dan penurunan kualitas interaksi sosial.
Oleh karena itu, dakwah ‘Aisyiyah harus lebih membumi, memberdayakan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Mahmudah melihat ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan kini memasuki fase penguatan dan ekspansi dakwah kemanusiaan. Fase ini tidak hanya ditandai pertumbuhan cabang dan ranting, tetapi juga dengan gerakan perempuan yang aktif dalam pengajian, pembinaan keluarga sakinah, pengembangan pendidikan anak usia dini, pemberdayaan ekonomi keluarga, dan penyebaran nilai-nilai Islam berkemajuan.
Mahmudah menegaskan bahwa perdamaian membutuhkan upaya berkelanjutan melalui pendidikan, kesehatan, penguatan keluarga, pemberdayaan ekonomi, dan keberpihakan pada kelompok rentan. Ia menyebut pendidikan sebagai investasi terbesar ‘Aisyiyah, yang membekali anak dengan kecerdasan, nilai keislaman, akhlak mulia, toleransi, disiplin, cinta tanah air, dan semangat hidup damai. “Setiap anak yang mendapatkan pendidikan yang baik hari ini adalah investasi perdamaian untuk masa depan,” ujarnya.
Prof. Dr. Ambo Asse, M.Ag., Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, menyampaikan apresiasi atas semangat ‘Aisyiyah dalam menggerakkan dakwah, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan amal usaha. Ia mendorong pengembangan Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan menjadi Universitas ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, sebagai kontribusi penting bagi pendidikan tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah di wilayah tersebut. Ambo Asse mengingatkan bahwa gerakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah bertujuan mengajak kepada kebaikan, menyerukan kemakrufan, dan mencegah kemungkaran, demi menciptakan masyarakat yang rukun, damai, dan berkeadilan.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, melalui Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Sulawesi Selatan, Andi Munawir, S.Pt., M.M., juga menyampaikan apresiasi. Andi Munawir menyoroti perjalanan panjang ‘Aisyiyah selama 109 tahun sebagai pelopor gerakan perempuan Islam berkemajuan. Kontribusi ‘Aisyiyah dalam pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, pendampingan hukum, dan UMKM dinilai sangat membantu pemerintah dalam mengatasi berbagai persoalan sosial. Tema milad tahun ini dianggap relevan, karena dakwah kemanusiaan terwujud melalui kerja nyata, kepedulian sosial, dan keberpihakan pada masyarakat rentan, bukan hanya syiar di mimbar. “Perdamaian yang hakiki hanya dapat terwujud apabila keadilan ditegakkan, kesejahteraan diwujudkan, dan hak-hak kemanusiaan dijaga bersama,” kata Andi Munawir.
Dr. apt. Salmah Orbayinah, M.Kes., Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, dalam amanahnya menyatakan milad adalah momen refleksi dan syukur, serta pengingat agar ‘Aisyiyah terus berkembang dan bermanfaat bagi umat. Tema dakwah kemanusiaan untuk perdamaian merupakan respons terhadap krisis, konflik, dan masalah sosial. “‘Aisyiyah harus bisa menjadi bagian dari problem solver, bukan bagian dari masalah. ‘Aisyiyah harus hadir bersama-sama dengan pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan yang ada di masyarakat,” tegas Salmah.
Ia mengapresiasi peluncuran Pos Bantuan Hukum, Rumah Sakinah, dan program pemberdayaan di ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan sebagai bentuk dakwah kemanusiaan konkret dalam akses keadilan, penguatan keluarga, dan pemberdayaan perempuan. Salmah juga menyoroti Sekolah Wira Usaha ‘Aisyiyah, mendorong alumninya membangun kemandirian ekonomi berlandaskan nilai Islam berkemajuan, mengelola usaha secara amanah, inovatif, kolaboratif, dan memanfaatkan teknologi.
Selain ekonomi dan hukum, Salmah menekankan keluarga sebagai fondasi perdamaian. Keluarga sakinah dengan nilai Islam akan menciptakan kebaikan sosial yang lebih luas. Ia juga meminta ‘Aisyiyah menebarkan kedamaian, keadilan, sikap saling menghormati, dan membantu di masyarakat, serta mengembangkan sikap wasathiyah, menghargai keberagaman, dan kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara.
Perhatian ‘Aisyiyah terhadap lingkungan juga diapresiasi Salmah, dengan pelaksanaan milad yang mengusung gerakan ramah lingkungan melalui kepedulian kebersihan dan pengelolaan sampah, sebagai bagian dari tanggung jawab dakwah kemanusiaan.
Resepsi Milad ke-109 ‘Aisyiyah Tingkat Wilayah Sulawesi Selatan turut dihadiri oleh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Bupati Pinrang, unsur Forkopimda Kabupaten Pinrang, perwakilan Ketua DPRD Kabupaten Pinrang, Wakil Bupati Sidrap, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pinrang, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Pinrang, dan perwakilan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Selain itu, hadir pula Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Makassar, Rektor Institut ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan beserta jajaran, pimpinan amal usaha Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, organisasi otonom Muhammadiyah tingkat wilayah, organisasi perempuan Islam, serta Pimpinan Daerah, Cabang, dan Ranting ‘Aisyiyah se-Sulawesi Selatan.
Milad ke-109 di Pinrang ini menegaskan bahwa ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan mewujudkan dakwah kemanusiaan dalam berbagai bentuk konkret. Dakwah tersebut tidak terbatas pada forum keagamaan, melainkan juga merambah sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, bantuan hukum, penguatan keluarga, kepedulian lingkungan, dan berbagai gerakan sosial yang berdampak langsung pada masyarakat.




