Menyoal Keberanian Intelektual di Era Digital: Sebuah Refleksi

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, 26 Mei 2024 - Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan, Andi Asywid Nur, mengajukan sebuah pertanyaan reflektif yang mungkin terdengar provokatif: mungkinkah dunia kontemporer masih mampu melahirkan sosok intelektual sekaliber Karl Marx? Pertanyaan ini, jelasnya, bukan merupakan ajakan untuk kembali pada ideologi komunisme atau romantisme konflik abad ke-19, melainkan sebuah kegelisahan akan menipisnya keberanian intelektual di tengah derasnya arus informasi digital.
Andi Asywid Nur mengamati bahwa masyarakat modern hidup dalam paradoks. Akses pengetahuan melimpah, namun kelangkaan pemikir besar terasa nyata. Era ini ditandai oleh banjir informasi, tetapi minim refleksi mendalam; banyak komentator, tetapi sedikit intelektual yang mampu mengguncang kesadaran zaman. Dalam konteks inilah, ia merasakan kerinduan akan sosok seperti Karl Marx.
Terlepas dari berbagai kontroversi yang menyertainya, Marx dipandang sebagai pembaca zaman yang tekun. Ia mendedikasikan hidupnya untuk memahami mekanisme masyarakat, operasi kekuasaan, produksi ketimpangan, dan mengapa manusia sering terjebak dalam struktur ciptaannya sendiri. Marx menghabiskan waktu bertahun-tahun di perpustakaan dalam keterbatasan ekonomi, membaca ribuan halaman, dan menulis gagasannya tanpa kepastian penerimaan, sembari terus mempertanyakan realitas sosial yang dianggap normal pada masanya. Proses intelektual yang panjang, sunyi, dan melelahkan ini, menurut Andi Asywid Nur, melahirkan gagasan-gagasan yang kemudian mengubah cara pandang manusia terhadap dunia.
Situasi kontemporer, khususnya dengan dominasi media sosial, sangat berbeda. Algoritma cenderung mengutamakan sensasi dan kecepatan daripada refleksi dan kedalaman argumentasi. Di ruang digital, seseorang dapat dengan cepat menjadi pakar atau influencer, dan opini viral seringkali dianggap lebih valid daripada penelitian bertahun-tahun. Fenomena ini, yang oleh filsuf Prancis Jean Baudrillard disebut sebagai hiperrealitas, menempatkan representasi di atas kenyataan, di mana kebenaran ditentukan oleh jumlah tayangan atau "suka", bukan oleh kedalaman analisis. Akibatnya, keberanian intelektual perlahan tergantikan oleh apa yang disebut "keberanian algoritmik".
Dunia akademik pun tidak luput dari tantangan ini. Banyak akademisi kini lebih fokus pada pengejaran angka kredit, indeks sitasi, atau akreditasi, ketimbang mengembangkan keberanian untuk mempertanyakan struktur sosial yang tidak adil. Ribuan artikel dihasilkan setiap tahun, namun hanya sedikit yang benar-benar mampu mengguncang kesadaran publik atau mengubah pemahaman masyarakat terhadap dirinya sendiri. Andi Asywid Nur mengingatkan kritik C. Wright Mills dalam "The Sociological Imagination", yang menyoroti akademisi yang terjebak dalam rutinitas birokrasi pengetahuan dan kehilangan kemampuan menghubungkan persoalan individu dengan struktur sosial yang lebih luas.
Menurut penulis, yang langka saat ini bukanlah orang-orang pintar, melainkan individu yang berani menggunakan kecerdasannya untuk mengganggu kenyamanan publik. Karl Marx adalah contoh nyata keberanian semacam itu. Ia berani mempertanyakan kapitalisme saat sebagian besar masyarakat Eropa menganggapnya sebagai puncak kemajuan. Ia melihat eksploitasi di balik pertumbuhan ekonomi dan konflik di balik stabilitas sosial, serta berani menantang hal-hal yang dianggap alamiah pada zamannya.
Hari ini, masyarakat cenderung menghukum pemikiran yang berbeda. Media sosial, menurut pandangan filsuf Friedrich Nietzsche, menciptakan "herd mentality" atau mentalitas kawanan, di mana orang takut berbeda pendapat karena khawatir kehilangan popularitas atau menjadi sasaran penghakiman publik. Akibatnya, banyak yang memilih menjadi bagian dari kerumunan daripada mempertahankan independensi berpikir. Padahal, kemajuan peradaban selalu lahir dari mereka yang berani berdiri melawan arus, seperti Socrates, Galileo, Nietzsche, dan Marx sendiri, yang harus menghadapi pengasingan atau penolakan karena gagasan-gagasannya.
Ironisnya, di era kebebasan berbicara yang lebih besar ini, kita justru mengalami kelangkaan keberanian intelektual. Ini mungkin disebabkan oleh fokus pada citra diri, ketakutan kehilangan kenyamanan, atau penerimaan begitu saja terhadap dunia tanpa merasa perlu mempertanyakannya. Seorang intelektual sejati, tegas Andi Asywid Nur, bukanlah pemilik semua jawaban, melainkan sosok yang terus-menerus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak nyaman.
Kerinduan akan Karl Marx, bagi Andi Asywid Nur, bukan karena Marx memiliki semua jawaban, melainkan karena keberanian intelektualnya, ketekunan belajarnya, kegelisahan moralnya, dan kesediaannya untuk mendedikasikan hidup demi memahami pertanyaan besar: mengapa manusia hidup dalam dunia yang tidak adil, dan mungkinkah dunia itu diubah? Krisis terbesar yang kita hadapi saat ini, mungkin bukan krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis keberanian untuk berpikir secara mendalam, kritis, dan mandiri.
Pada akhirnya, yang sesungguhnya dirindukan bukanlah Karl Marx sebagai individu, melainkan lahirnya kembali manusia-manusia yang berani gelisah, mempertanyakan, membaca zaman, dan berpikir melampaui batas-batas kenyamanan yang ditawarkan dunia modern. Sebab, peradaban tidak pernah maju karena kesepakatan banyak orang, melainkan karena selalu ada segelintir individu yang berani bertanya, "bagaimana jika dunia yang kita anggap normal ini sebenarnya bermasalah?"
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





