LHKP PDM Parepare dan Noetic Institute Soroti Krisis Peradaban Islam, Perkuat Generasi Muda

MUHAMMADIYAH SULSEL, PAREPARE - Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Parepare berkolaborasi dengan Noetic Institute menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD). Acara ini berlangsung pada Rabu, 13 Mei 2026, di Kedai Kopi OK, Jalan Abu Bakar Lambogo, Parepare, dengan mengangkat tema “Muhammadiyah sebagai Pusat Peradaban di Kota Parepare”. Diskusi ini secara khusus menyoroti tantangan kemunduran umat Islam, urgensi kebangkitan tradisi ilmu pengetahuan, serta pentingnya penguatan generasi muda sebagai fondasi peradaban berkemajuan.
FGD tersebut dihadiri oleh beragam kalangan, termasuk akademisi, kader Muhammadiyah, mahasiswa, dan pemuda Kota Parepare. Dr. Muhammad Naim, M.Pd.I., memandu jalannya diskusi sebagai moderator.
Dalam pengantarnya, Dr. Muhammad Naim menekankan bahwa forum ini berfungsi sebagai arena intelektual yang krusial untuk menumbuhkan budaya berpikir kritis dan tradisi literasi di kalangan generasi muda Muhammadiyah. Ia menjelaskan bahwa pembahasan peradaban Islam tidak hanya tentang kejayaan masa lalu, melainkan bagaimana generasi sekarang mampu membentuk masa depan umat melalui ilmu pengetahuan, literasi, dan gerakan sosial.
Ir. H. Kaharuddin Kadir, M.Si., yang menjabat Ketua LHKP PDM Kota Parepare, Wakil Ketua PDM Parepare, sekaligus Ketua DPRD Kota Parepare, menegaskan keterkaitan erat antara peradaban Islam dengan isu politik dan keumatan. Menurutnya, arah kebijakan, kepemimpinan, dan masa depan umat Islam sangat dipengaruhi oleh politik. Oleh karena itu, ia berharap diskusi ini dapat memicu kesadaran dan gagasan baru untuk pembangunan masyarakat yang maju. “Peradaban tidak bisa dilepaskan dari arah politik dan kepemimpinan. Karena itu, forum seperti ini penting untuk melahirkan kesadaran baru bagi generasi muda,” ujar Kaharuddin.
Pengantar materi disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Mahsyar Idris, M.Ag., Penasehat Noetic Institute, Ketua PDM Parepare, dan Guru Besar IAIN Parepare. Ia mengulas tema “Peradaban Islam: Kemajuan dan Kemunduran” dengan menelaah buku karya Amir Syakib Arslan, yang dinilai masih relevan dengan konteks Indonesia. Mahsyar Idris menjelaskan, “Hari ini kita mengangkat tema peradaban Islam, kemajuan dan kemunduran. Kita mengkaji melalui satu telaah buku yang sudah lama, tetapi masih sangat relevan untuk dikaji dalam konteks keindonesiaan.”
Prof. Mahsyar Idris lebih lanjut menguraikan bahwa peradaban yang maju tidak hanya ditandai oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kemampuan membangun relasi harmonis antara agama, ilmu pengetahuan, budaya, politik, dan ekonomi. Konsep ini, menurutnya, selaras dengan gagasan Muhammadiyah tentang peradaban berkemajuan. “Peradaban itu adalah membangun relasi dan inovasi kreatif antara agama sebagai sistem nilai, ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya, politik, dan ekonomi,” tambahnya. Ia juga menekankan pentingnya menyatukan agama dan budaya, menyatakan, “Antara langit dan bumi harus menyatu. Peradaban berbasis wahyu itu harus dirakit dengan ilmu pengetahuan.” Mahsyar menilai Amir Syakib Arslan sebagai contoh figur yang berhasil memadukan unsur-unsur tersebut, dan ia berharap semangat belajar serta penguatan keilmuan terus dihidupkan di kalangan generasi muda Indonesia. “Di Indonesia kita perlu membangkitkan generasi muda. Semangat tumbuh dan belajar harus terus dihidupkan. Inilah yang ingin dicapai oleh Noetic Institute untuk anak-anak muda Parepare,” tegasnya.
Sesi pemateri pertama diisi oleh Dr. Ahmad Dhiyaul Haq bin Mahsyar, M.Sos., M.A. Dosen Program Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) Universitas Muhammadiyah Makassar dan demisioner Ketua PCIM Turki ini membedah buku Mengapa Umat Islam Tertinggal Sedangkan Bangsa Lain Maju karya Amir Syakib Arslan. Ia menjelaskan bahwa kemunduran umat Islam bukan berasal dari ajaran Islam itu sendiri, melainkan karena menjauhnya umat dari nilai-nilai fundamental seperti ilmu pengetahuan, kerja keras, persatuan, dan disiplin. Sebaliknya, bangsa-bangsa lain meraih kemajuan karena konsisten menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Ahmad Dhiyaul Haq menyebut solusi kebangkitan umat yang ditawarkan Arslan meliputi pendidikan, perbaikan mentalitas, persatuan, kepemimpinan yang kuat, serta keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan modern tanpa meninggalkan identitas Islam. “Kebangkitan umat hanya dapat dicapai melalui perubahan internal yang nyata,” pungkasnya.
Pemateri kedua, Muh. Aunul Muwaffaq bin Mahsyar, S.Akun., M.E., memaparkan indikator kemunduran suatu peradaban melalui lensa pemikiran Ibnu Khaldun, Muhammad Said Ramadan Al-Buthi, dan Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Menurut Ibnu Khaldun, kemajuan ilmu pengetahuan dan keterampilan hanya bisa tumbuh dalam masyarakat yang stabil secara ekonomi dan sosial, sementara stagnasi ilmu pengetahuan merupakan sinyal kemunduran peradaban. Al-Buthi menyoroti dampak lingkungan sosial dan budaya terhadap generasi muda, di mana peniruan budaya Barat tanpa filter nilai Islam dapat memicu krisis identitas. Sementara itu, Al-Attas berpendapat bahwa akar krisis peradaban modern terletak pada kekacauan ilmu pengetahuan akibat sekularisme yang memisahkan ilmu dari nilai ketuhanan. Oleh karena itu, ilmu yang berbasis worldview Islam dianggap krusial untuk membangun generasi muda dan peradaban yang maju serta beradab.
Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Peserta, terdiri dari kader Muhammadiyah, mahasiswa, akademisi, dan pemuda Parepare, menunjukkan antusiasme tinggi dalam menyampaikan pertanyaan dan pandangan mengenai tantangan pembangunan peradaban Islam berkemajuan di era modern. Diskusi meluas ke berbagai isu, mulai dari pendidikan, budaya literasi, politik keumatan, hingga penguatan karakter generasi muda.
FGD ini diharapkan menjadi ajang konsolidasi intelektual bagi kader Muhammadiyah dan generasi muda Parepare, guna memperkuat tradisi keilmuan dan gerakan peradaban Islam berkemajuan. LHKP PDM Parepare dan Noetic Institute berharap kegiatan ini mampu mencetak generasi muda yang memiliki semangat belajar tinggi, wawasan keislaman mendalam, dan kapasitas untuk membangun peradaban maju yang berlandaskan nilai-nilai Islam.




