Kuliah Tamu Internasional Akademisi Meksiko di Unismuh: Bahasa Inggris Tak Harus Meniru Penutur Asli

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar menggelar kuliah tamu internasional yang menyoroti cara baru memandang bahasa Inggris di tengah pergaulan global. Forum ini menegaskan bahwa keberhasilan berbahasa tidak cukup diukur dari seberapa mirip seseorang dengan penutur asli, tetapi juga dari kemampuannya membangun komunikasi yang dapat dipahami, menghargai perbedaan, dan menjalin hubungan lintas budaya.
Kegiatan bertema Intercultural Communication itu berlangsung secara daring pada Rabu, 19 Agustus 2026, dengan menghadirkan Dr Gabriella Ruiz de la Rosa dari National Pedagogical University, Meksiko. Sivitas akademika Unismuh, terutama mahasiswa dan dosen Pendidikan Bahasa Inggris, mendapat ruang untuk mendiskusikan langsung hubungan antara kompetensi bahasa, pengalaman budaya, dan tantangan komunikasi di era digital.
Rektor Unismuh Makassar, Abd Rakhim Nanda, dalam pengantarnya menilai kuliah tamu internasional penting untuk membawa mahasiswa keluar dari batas pembelajaran kelas yang sempit. Menurutnya, perjumpaan dengan akademisi luar negeri membuka kesempatan untuk memahami cara pandang baru, memperluas jejaring akademik, dan melatih kesiapan berinteraksi dalam lingkungan global yang semakin kompleks.
Gabriella menempatkan bahasa Inggris sebagai lingua franca, yakni bahasa penghubung antara orang-orang dengan latar bahasa ibu dan budaya yang berbeda. "It has to work," kata Gabriella saat menjelaskan bahwa tujuan utama komunikasi bukan lagi mengejar keseragaman aksen atau kesempurnaan imitasi terhadap penutur asli, melainkan memastikan pesan tersampaikan dan dipahami secara efektif. Pandangan ini mendorong pembelajaran bahasa yang lebih realistis terhadap kebutuhan komunikasi global.
Ia menjelaskan bahwa kompetensi linguistik tetap penting. Mahasiswa tetap harus belajar tata bahasa, kosakata, pengucapan, intonasi, dan struktur kalimat. Namun, kemampuan tersebut tidak berdiri sendiri. Cara orang berbicara, memilih kata, menggunakan gestur, menatap lawan bicara, atau menafsirkan humor dapat berbeda antara satu budaya dengan budaya lain. Karena itu, pembelajaran bahasa perlu memasukkan kompetensi antarbudaya seperti empati, keterbukaan, rasa ingin tahu, dan kemampuan membaca konteks sosial.
Pengalaman Gabriella berinteraksi dengan peserta dari 13 negara dalam program internasional di Amerika Serikat menjadi contoh konkret. Meski berasal dari latar bahasa dan tradisi yang berbeda-beda, komunikasi tetap bisa berlangsung karena setiap peserta bersedia menyesuaikan diri, mendengarkan, dan menegosiasikan makna ketika muncul perbedaan pemahaman. Dalam konteks itu, keterpahaman lebih penting daripada kesempurnaan formal.
Pesan tersebut relevan bagi mahasiswa di Indonesia yang akan bekerja atau belajar dalam ruang internasional. Kesalahan berbahasa, menurut Gabriella, tidak seharusnya menjadi penghalang utama. Yang lebih penting adalah keberanian mengklarifikasi, meminta penjelasan, mengulang, atau menyederhanakan ungkapan agar percakapan tetap berjalan. Sikap seperti itu menunjukkan komunikasi yang aktif, bukan kelemahan.
Pembahasan juga merambah isu teknologi. Gabriella mengakui bahwa internet, media sosial, dan kecerdasan buatan kini ikut membentuk cara orang berbahasa dan belajar. Namun, ia mengingatkan bahwa kemudahan akses informasi harus dibarengi nalar kritis. Mahasiswa diminta tidak berhenti pada satu sumber, melainkan membandingkan informasi dan kembali ke rujukan utama sebelum menerima suatu klaim sebagai kebenaran.
Dalam sesi diskusi, Rakhim Nanda memperkenalkan nilai lokal Sulawesi Selatan, siri' na pacce, sebagai bagian dari etika komunikasi masyarakat. Penjelasan itu memperlihatkan bahwa komunikasi antarbudaya tidak hanya berbicara tentang bahasa asing, tetapi juga tentang bagaimana nilai lokal dapat dikenalkan sebagai pijakan dalam membangun hubungan yang saling menghormati. Gabriella melihat adanya titik temu antara nilai itu dengan solidaritas komunal yang juga kuat di sejumlah komunitas di Meksiko.
Pada akhir kegiatan, Unismuh melalui International Office menyatakan kesiapan untuk menindaklanjuti pertemuan tersebut ke arah kerja sama yang lebih formal. Bentuk kolaborasi yang dibuka antara lain visiting professor, penelitian bersama, dan pengabdian masyarakat. Dengan demikian, kuliah tamu ini tidak berhenti sebagai forum seremonial, tetapi berpotensi menjadi pintu bagi jejaring akademik yang lebih strategis antara Unismuh dan institusi mitra di Meksiko.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





