Akademisi Universiti Malaysia Sabah Berbagi di Unismuh, Soroti Rantai Pangan hingga Nasib Petani

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - MAKASSAR, Universitas Muhammadiyah Makassar memanfaatkan Program Diaspora Berdampak untuk menghadirkan perspektif akademisi Indonesia yang berkarier di luar negeri ke ruang kuliah dalam negeri. Melalui forum ini, kampus tidak hanya memperoleh materi kuliah tamu, tetapi juga membuka peluang riset dan kolaborasi jangka panjang yang menyentuh persoalan nyata, termasuk ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.
Kuliah tamu yang digelar di Ruang Teater I-GIFt Unismuh Makassar pada Rabu, 19 Agustus 2026, menghadirkan Dr Ilmas Abdurofi dari Fakulti Pertanian Lestari Universiti Malaysia Sabah. Tema yang dibahas, The Challenges of Global Food Chain and Regenerative Agriculture, mempertemukan isu akademik dengan problem lapangan yang dihadapi sektor pertanian di Indonesia.
Rektor Unismuh Makassar, Abd Rakhim Nanda, menilai kehadiran diaspora Indonesia harus diarahkan menjadi kontribusi yang lebih berkelanjutan bagi perguruan tinggi dan masyarakat. Menurutnya, pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh di luar negeri akan lebih bermakna bila diterjemahkan menjadi kerja sama riset, pembimbingan, serta penguatan kapasitas akademik di tanah air.
Ilmas menjelaskan bahwa persoalan pangan global tidak bisa dipahami hanya dari sisi produksi. Dalam praktiknya, produk pertanian melewati rantai distribusi yang panjang, dari petani, pengumpul, pengolah, perantara, sampai konsumen akhir. "Kita pendekkan rantainya," ujar Ilmas ketika menekankan bahwa rantai yang terlalu panjang cenderung membuat nilai ekonomi bertambah di tingkat hilir, sementara petani sebagai produsen utama justru menerima bagian yang lebih kecil.
Karena itu, ia mendorong upaya memperpendek rantai pasok pangan, termasuk dalam komoditas seperti kopi. Bagi Ilmas, praktik pertanian yang baik tidak cukup berhenti pada peningkatan hasil panen. Petani juga perlu memahami bagaimana produk dipasarkan, siapa pembelinya, bagaimana harga terbentuk, dan di titik mana posisi tawar mereka dapat diperkuat.
Salah satu titik lemah yang ia soroti ialah keterbatasan akses pasar. Banyak petani mengetahui cara memproduksi hasil pertanian, tetapi belum memiliki kemampuan atau dukungan untuk memasarkannya secara lebih luas. Akibatnya, peran pengumpul dan perantara menjadi terlalu dominan. Dalam kondisi seperti ini, teknologi digital dapat membantu memperluas akses pasar dan mendekatkan petani dengan konsumen atau komunitas pembeli secara langsung.
Persoalan ekonomi petani, lanjut Ilmas, berkaitan erat dengan regenerasi. Jika bertani tidak menjanjikan penghidupan yang layak, keluarga petani cenderung tidak mendorong generasi muda melanjutkan profesi tersebut. Sebaliknya, sektor pertanian akan lebih menarik bila mampu menghadirkan pendapatan yang stabil, inovasi, dan peluang pengembangan usaha. Karena itu, petani masa depan perlu dibekali bukan hanya keterampilan budidaya, tetapi juga literasi teknologi, rantai pasok, dan pengolahan produk.
Ilmas juga menekankan pentingnya pertanian regeneratif. Menurutnya, pertanian tidak boleh semata berorientasi pada produktivitas jangka pendek, sebab sektor ini berhubungan langsung dengan keberlanjutan lingkungan. Perubahan iklim memengaruhi hasil pertanian, sementara pola produksi yang tidak ramah lingkungan juga dapat memperparah tekanan ekologis. Pendekatan regeneratif dibutuhkan untuk menjaga kesuburan lahan, mengurangi limbah, dan memastikan sumber daya alam tetap tersedia bagi generasi berikutnya.
Ia mencontohkan limbah kopi yang selama ini sering dibuang atau dibakar. Dalam pendekatan ekonomi sirkular, residu semacam itu bisa dimanfaatkan kembali menjadi pupuk atau input lain yang menekan beban lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan dari luar. Gagasan ini memperlihatkan bahwa keberlanjutan bukan konsep abstrak, tetapi bisa diterapkan melalui praktik produksi yang lebih hemat dan terukur.
Di sisi lain, kuliah tamu ini juga menjadi pintu masuk kerja sama antara Unismuh dan jejaring akademisi diaspora. Salah satu agenda yang mulai dibicarakan ialah penelitian terkait kopi di kawasan Asia Tenggara dengan peta jalan kolaborasi dua sampai tiga tahun ke depan. Bagi Unismuh, model kerja seperti ini lebih penting daripada kunjungan singkat, karena dapat menghasilkan dampak akademik dan sosial yang lebih nyata.
Dengan mempertemukan isu rantai pangan, akses pasar petani, dan pertanian regeneratif dalam satu forum, Unismuh menunjukkan bahwa internasionalisasi kampus tidak harus lepas dari kebutuhan lokal. Justru jejaring internasional dapat dipakai untuk memperkuat jawaban atas persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk kesejahteraan petani dan ketahanan pangan.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





