BPVP Bantaeng dan Pemuda Muhammadiyah Siapkan Kerja Sama Pelatihan Kompetensi

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - BANTAENG, Peluang kolaborasi antara Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Bantaeng dan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Bantaeng mulai mengerucut pada agenda yang lebih konkret. Kedua pihak membahas kerja sama pelatihan berbasis kompetensi yang ditujukan untuk memperkuat keterampilan kader muda, sekaligus membuka akses yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja dan kewirausahaan.
Komitmen awal tersebut mengemuka saat Kepala BPVP Bantaeng, Arsad, menerima kunjungan silaturahmi jajaran PDPM Bantaeng di kantor BPVP pada Rabu, 19 Agustus 2026. Pertemuan ini disebut sebagai tindak lanjut dari pembicaraan informal sebelumnya antara Arsad dan Ketua PDPM Bantaeng, Suardi SR, yang sama-sama melihat perlunya program pengembangan sumber daya manusia yang lebih terarah.
Dalam dialog itu, Suardi menjelaskan bahwa Pemuda Muhammadiyah memiliki struktur organisasi yang lengkap dari tingkat pusat hingga ranting. Di Bantaeng sendiri, kader yang terlibat datang dari latar yang beragam, mulai dari pengusaha, akademisi, guru, politisi, pegiat sosial, petani, hingga mahasiswa. Keragaman tersebut dinilai sebagai modal sosial yang besar, tetapi tetap membutuhkan penguatan kapasitas agar setiap kader dapat berkembang lebih terukur.
BPVP Bantaeng menanggapi kebutuhan itu dengan cukup terbuka. Arsad menyatakan lembaganya siap memfasilitasi pelatihan kompetensi bagi kader Pemuda Muhammadiyah tanpa membebankan biaya kepada peserta. "Di sini fasilitas lengkap, ada gedung, kamar. Kalau Pemuda Muhammadiyah siap, kami fasilitasi pelatihan, snack, konsumsi, bahkan transport," ujar Arsad. Dengan skema tersebut, tantangan logistik yang sering menghambat pelatihan di daerah diupayakan dapat ditekan.
Bagi Pemuda Muhammadiyah, tawaran semacam ini cukup strategis. Organisasi kepemudaan tidak selalu memiliki sumber daya untuk menyelenggarakan pelatihan keterampilan secara mandiri dalam skala besar. Kerja sama dengan BPVP dapat menjadi jalan untuk mempertemukan semangat kaderisasi dengan kebutuhan peningkatan kompetensi yang lebih praktis dan terhubung dengan lapangan kerja.
Arsad juga mendorong agar pembicaraan tidak berhenti di tingkat gagasan. Ia mengusulkan penandatanganan nota kesepahaman sebagai landasan formal kerja sama. Langkah ini penting karena dapat memberi kepastian program, memperjelas peran masing-masing pihak, dan memudahkan pengembangan agenda jangka menengah yang lebih konsisten daripada kegiatan insidental.
Suardi menyambut positif tawaran tersebut dan memastikan PDPM Bantaeng akan menindaklanjutinya. Bagi pihaknya, kerja sama dengan BPVP tidak semata menyangkut penyelenggaraan pelatihan, tetapi juga kesempatan untuk menyiapkan kader yang lebih siap menghadapi perubahan ekonomi, kebutuhan keterampilan baru, dan persaingan kerja yang makin terbuka.
Jika kerja sama ini benar-benar diwujudkan, manfaatnya bisa bergerak pada dua arah. Di satu sisi, kader Pemuda Muhammadiyah memperoleh akses pada pelatihan kompetensi yang selama ini mungkin sulit dijangkau secara mandiri. Di sisi lain, BPVP mendapat mitra organisasi yang memiliki jaringan akar rumput dan basis peserta yang jelas untuk berbagai program vokasi.
Bagi Kabupaten Bantaeng, sinergi semacam ini juga relevan dengan kebutuhan pembangunan sumber daya manusia daerah. Pelatihan yang menyasar pemuda dapat memperluas kesiapan kerja, menumbuhkan orientasi kewirausahaan, dan memperkuat posisi organisasi kepemudaan sebagai bagian dari penyelesaian masalah sosial-ekonomi, bukan hanya ruang aktivitas seremonial.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





