KKN-DIK Unismuh Siapkan Sembilan Program Pemberdayaan di Samangki

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MAROS - Sebanyak 14 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pendidikan FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar menyusun sembilan program pemberdayaan untuk Desa Samangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Rencana kerja itu dipresentasikan dalam seminar program di Kantor Desa Samangki pada 18 Agustus 2026 sebagai langkah awal menyelaraskan agenda pengabdian kampus dengan kebutuhan nyata warga desa.
Program yang dibawa mahasiswa tidak berhenti pada kegiatan seremonial penyambutan. Mereka membaginya ke beberapa bidang, mulai dari pendidikan, lingkungan, sosial-keagamaan, administrasi wilayah, sampai promosi wisata desa. Bidang pendidikan mendapat porsi besar melalui pendampingan belajar untuk siswa SD Negeri 14 Samangki, kegiatan mengajar di sekolah dan yayasan setempat, serta pelatihan media pembelajaran bagi guru. Di saat yang sama, tim juga menyiapkan penyediaan media ajar untuk beberapa sekolah agar intervensi mereka meninggalkan manfaat yang lebih terukur.
Pada sektor lingkungan, mahasiswa menyiapkan edukasi pemilahan sampah serta pengadaan delapan unit tempat sampah organik dan anorganik. Tujuh unit direncanakan ditempatkan di setiap dusun dan satu unit di kantor desa. Langkah ini dipadukan dengan kegiatan gotong royong dan kebersihan lingkungan agar perubahan yang dibangun tidak berhenti pada penyediaan fasilitas, tetapi juga mengubah kebiasaan warga dalam mengelola sampah dari sumbernya.
Mahasiswa juga memasukkan kegiatan yang langsung menyentuh kebutuhan sosial masyarakat, seperti pelatihan pemulasaran jenazah dan pemasangan penanda batas dusun. Selain itu, mereka merancang promosi wisata desa melalui media sosial untuk membantu memperkenalkan potensi Samangki ke publik yang lebih luas. Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa KKN-DIK diposisikan bukan sekadar praktik mengajar, melainkan bentuk pengabdian yang menautkan kompetensi akademik dengan persoalan lokal.
Kepala Desa Samangki, Hj. Darwana, menyatakan dukungannya terhadap agenda yang dipaparkan mahasiswa. Ia menekankan bahwa setiap kegiatan perlu tetap berpijak pada kebutuhan masyarakat dan kondisi tiap wilayah. "Kami berharap seluruh program disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi masing-masing dusun agar manfaatnya benar-benar dirasakan selama KKN berlangsung," ujarnya dalam forum diskusi.
Masukan pemerintah desa juga cukup rinci. Selain menyoroti efektivitas kegiatan mengajar di dua lembaga pendidikan, perangkat desa meminta agar media pembelajaran yang disediakan menjangkau sekolah-sekolah yang paling membutuhkan. Koordinasi pelaksanaan di lapangan, pemanfaatan fasilitas desa, dan pelibatan warga dalam setiap tahap kegiatan juga menjadi pesan yang ditekankan kepada mahasiswa.
Dosen pendamping lapangan, Dr. Hadisaputra dan Syamsurianti, M.Pd., ikut mengawal agar rancangan kerja mahasiswa tetap sejalan dengan tujuan akademik dan pemberdayaan masyarakat. Pendampingan ini penting karena mahasiswa dituntut bukan hanya menyusun program yang terdengar baik di atas kertas, tetapi mampu menerjemahkannya menjadi kegiatan yang realistis, relevan, dan dapat dijalankan dalam durasi KKN yang terbatas.
Seminar program kerja ini dengan demikian menjadi titik penting sebelum pelaksanaan dimulai. Mahasiswa memperoleh ruang untuk menguji rancangan mereka di hadapan pemerintah desa, sementara aparat desa bisa memastikan bahwa kehadiran kampus benar-benar menjawab kebutuhan warga. Jika dijalankan konsisten, sembilan program itu berpotensi memperkuat pembelajaran di sekolah, memperbaiki tata kelola kebersihan, mendukung kehidupan sosial-keagamaan, serta memperkenalkan Samangki sebagai desa yang aktif mengelola potensinya.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





