EMT Unismuh Siapkan Puskesmas Lapangan untuk Korban Gempa NTT

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID, MANGGARAI TIMUR - Emergency Medical Team Universitas Muhammadiyah Makassar mulai menyiapkan Puskesmas Lapangan EMT MDMC Type 1 di wilayah terdampak gempa Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Pada saat yang sama, tim memperluas layanan medis ke Kampung Bawe dan Haju Wangi, dua titik pengungsian yang dilaporkan belum pernah menerima pelayanan kesehatan sejak bencana terjadi.
Langkah ini menunjukkan bahwa operasi kemanusiaan yang dibawa Unismuh tidak berhenti pada layanan darurat harian, tetapi bergerak untuk membangun kapasitas pelayanan yang lebih stabil di lapangan. Penyiapan puskesmas lapangan dibarengi pembagian personel ke tiga jalur kerja: satu tim fokus membersihkan dan menata lokasi fasilitas kesehatan, satu tim membantu pelayanan di Posko Damer sebagai posko pengganti Puskesmas Dampek, dan tim ketiga bergerak menjangkau pengungsi di titik yang masih kosong dari intervensi medis.
Koordinator tim medis, dr. Netty Nurnaningtias, Sp.EM, M.M.B., FICEP, menjelaskan bahwa strategi pembagian personel diperlukan agar respons kesehatan tidak menumpuk di satu lokasi. "Pembagian ini kami lakukan untuk mengoptimalkan pelayanan di beberapa titik sekaligus, baik untuk penyiapan puskesmas lapangan, dukungan di Posko Damer, maupun pelayanan mobile di pengungsian," ujarnya.
Pada hari pelayanan tersebut, tim melakukan visite terhadap 16 pasien di Posko Damer. Setelah itu, layanan mobile menjangkau 33 pasien di Kampung Bawe dan 47 pasien di Haju Wangi. Total 96 warga memperoleh pelayanan kesehatan, mulai dari pemeriksaan dokter, pengukuran tekanan darah, pemberian obat, hingga penilaian apakah pasien membutuhkan tindak lanjut atau rujukan.
Yang membuat intervensi ini penting adalah kondisi dua titik pengungsian tersebut. Baik Kampung Bawe maupun Haju Wangi tidak memiliki aliran listrik dan masih kekurangan fasilitas MCK, kelambu, serta obat antinyamuk. Ketiadaan layanan kesehatan sejak gempa juga membuat banyak keluhan menumpuk tanpa penanganan memadai. Data tim mencatat 166 kasus gangguan kesehatan dari seluruh titik layanan hari itu, dengan keluhan dominan berupa nyeri otot, gastritis, sakit kepala tipe tegang, gangguan pernapasan, hipertensi, dan sejumlah penyakit tidak menular.
EMT Unismuh juga menemukan satu kasus yang memerlukan perhatian serius, yakni pasien dengan kecurigaan traumatic brain injury dan dugaan fraktur basis cranii. Tim sudah mengarahkan pasien tersebut ke Puskesmas Dampek, tetapi rujukan ditolak. Temuan semacam ini menunjukkan bahwa pelayanan lapangan di wilayah bencana bukan hanya menangani keluhan ringan, melainkan juga mendeteksi kasus yang berisiko tinggi dan memerlukan tindak lanjut lebih ketat.
Selain tindakan klinis, tim memberikan edukasi perilaku hidup bersih dan sehat kepada warga. Pengungsi diingatkan menjaga kebersihan tenda dan membiasakan cuci tangan sebelum makan agar risiko penyakit di lokasi hunian sementara bisa ditekan. Intervensi seperti ini penting karena dalam situasi pengungsian, masalah kesehatan mudah membesar ketika sanitasi buruk dan akses air bersih terbatas.
Netty menilai puskesmas lapangan dibutuhkan untuk memperkuat layanan di tengah terganggunya fasilitas kesehatan setempat. "Puskesmas lapangan diperlukan untuk memperkuat kapasitas layanan dan mendekatkan akses kesehatan kepada masyarakat terdampak," katanya. Penyiapan fasilitas ini juga melibatkan warga, anggota SAMAPTA Polda NTT, dan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur.
Sebanyak sembilan personel bertugas dalam misi ini, terdiri atas tiga dokter, dua perawat, seorang bidan, seorang tenaga teknis kefarmasian, dan dua tenaga bantuan medis dari Unismuh Makassar, RS PKU Muhammadiyah Unismuh Makassar, serta MDMC PWM Sulsel. Kolaborasi itu memperlihatkan bagaimana jaringan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan menggerakkan sumber daya kesehatan secara cepat untuk merespons bencana di luar provinsi.
Dengan menyiapkan fasilitas kesehatan lapangan sekaligus menembus titik pengungsian yang sebelumnya terabaikan, EMT Unismuh sedang memainkan dua peran sekaligus: menutup kekosongan layanan darurat dan membantu menata sistem pelayanan yang lebih tertib bagi penyintas gempa. Dalam konteks tanggap bencana, langkah seperti ini jauh lebih strategis daripada sekadar kunjungan medis singkat tanpa kesinambungan.
Sumber: Khittah.co
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





