Kiai Saad Ibrahim: Al-Qur'an, Sumber Penyembuh Jiwa dan Kekuatan Hidup

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, Selasa, 7 Juli.
Kesehatan holistik, yang mencakup aspek fisik dan mental, merupakan dambaan setiap insan. Konsep ini selaras dengan penggalan lirik lagu kebangsaan "Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya", yang secara implisit menempatkan kesehatan jiwa sebagai fondasi sebelum kesehatan fisik.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim, dalam tausiahnya yang disiarkan melalui kanal tvMU pada Selasa, 7 Juli, menyampaikan bahwa ajaran Islam telah menyediakan tuntunan komprehensif untuk membangun jiwa yang sehat, salah satunya melalui Al-Qur'an.
Menurut Kiai Saad, jiwa yang sehat memiliki ciri utama optimisme, jauh dari sikap pesimistis, serta tidak memberi ruang bagi perasaan hasad, iri, maupun dendam. "Salah satu kriteria jiwa yang sehat adalah jiwa yang optimistis, tidak pesimistis, serta tidak memberi ruang bagi hasad, iri, dan dendam. Itulah yang diajarkan dalam Islam," tegas Kiai Saad.
Ia kemudian merujuk pada adagium Latin mens sana in corpore sano yang berarti "di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat". Namun, Kiai Saad menawarkan perspektif lain, yakni bahwa kesehatan jiwa justru menjadi prasyarat esensial bagi kesehatan fisik. "Karena itu, untuk memperoleh kesembuhan, kita perlu melihat bagaimana Al-Qur’an memberikan tuntunan tentang hal tersebut," imbuhnya.
Kiai Saad menjelaskan lebih lanjut mengenai makna kata syifa' (الشِّفَاء) dalam Al-Qur'an, yang diartikan sebagai penyembuhan sekaligus kesembuhan. Kata ini disebutkan sebanyak empat kali dalam kitab suci, yaitu pada Surah Yunus ayat 57, An-Nahl ayat 69, Al-Isra ayat 82, dan Fussilat ayat 44.
Dari keempat ayat tersebut, Kiai Saad menggarisbawahi bahwa tiga di antaranya secara spesifik menunjuk pada fungsi Al-Qur'an sebagai penyembuh jiwa, sementara satu ayat lainnya menjelaskan madu sebagai obat fisik. "Maknanya, Al-Qur’an menjadi syifa’ bagi jiwa. Membaca Al-Qur’an akan menenangkan dan menyembuhkan jiwa, yang kemudian berdampak pada kesehatan fisik," paparnya.
Meski setiap muslim membaca Al-Qur'an saat menunaikan salat, Kiai Saad mendorong umat Islam untuk mengembangkan kebiasaan membaca Al-Qur'an di luar waktu salat. Ia mencontohkan, membaca satu juz Al-Qur'an hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit. Dengan rutinitas membaca dua juz setiap hari, seseorang berpotensi mengkhatamkan Al-Qur'an dua kali dalam sebulan.
"Membaca Al-Qur’an secara tertib dan berkesinambungan akan memberikan pengaruh yang baik bagi kesehatan jiwa kita," ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa upaya membaca Al-Qur'an tidaklah sebanding dengan beratnya perjuangan Rasulullah SAW dalam menerima wahyu, sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menjauhinya.
"Al-Qur’an adalah kalamullah. Ketika ayat-ayatnya keluar dari lisan kita, itu akan memberikan kekuatan. Apa yang kita ucapkan dari kalam Allah akan menghadirkan energi dan keberkahan dalam hidup kita," tutur Kiai Saad.
Sebagai penutup tausiahnya, Kiai Saad kembali menyerukan kepada umat Islam untuk senantiasa kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah (ar-ruju’ ilal-Qur’an was-Sunnah). Dengan membiasakan lisan membaca kalam Allah, diharapkan seseorang akan meraih jiwa yang sehat, menjalani kehidupan dengan penuh kekuatan, serta beroleh husnul khatimah.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





