Irwan Akib Dorong PTMA Menjadi Pelopor Inovasi dan Adaptasi

MUHAMMADIYAHSULSEL.OR.ID - YOGYAKARTA, 14 Juli 2020 - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irwan Akib, menegaskan bahwa kepemimpinan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) menuntut keberanian untuk berinovasi dan keluar dari zona kenyamanan. Ia mengingatkan bahwa posisi pimpinan adalah amanah yang memerlukan pergerakan berkelanjutan demi kemajuan persyarikatan, bukan tempat untuk beristirahat.
Pernyataan tersebut disampaikan Irwan Akib dalam acara Leadership Training (LT) Angkatan XII yang diikuti oleh para pimpinan PTMA pada Selasa (14/7). Dalam sesi presentasinya yang berjudul “Pengembangan Ekosistem Pendidikan Muhammadiyah”, Irwan menekankan urgensi membangun pemahaman kolektif guna memajukan seluruh jaringan pendidikan Muhammadiyah.
Irwan memberikan pandangan mendalam mengenai esensi jabatan di lingkungan PTMA. Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi institusi saat ini bukan berasal dari faktor eksternal, melainkan dari kepuasan diri atau kecenderungan untuk berdiam di zona nyaman. Ia memperingatkan bahwa saat sebuah institusi merasa telah mencapai puncak, pada saat itulah proses kemunduran akan dimulai.
“Jangan pernah melihat kursi rektor atau wakil rektor sebagai kursi empuk yang membuat kita terlena dan tertidur. Itu adalah kursi panas. Jika kita merasakannya sebagai kursi panas, maka kita tidak akan betah duduk diam, melainkan akan terus bergerak melakukan perbaikan dan inovasi,” tegas Irwan. Ia juga memberikan ultimatum sederhana mengenai masa depan institusi: “Berubah atau punah”.
Salah satu fokus utama yang diangkat Irwan adalah optimalisasi infrastruktur Muhammadiyah yang sangat komprehensif, mulai dari tingkat ranting, cabang, hingga pusat, serta jenjang pendidikan dari PAUD sampai pascasarjana. Ia mendorong PTMA untuk tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan membangun sinergi yang kuat dengan sekolah-sekolah Dasar dan Menengah Muhammadiyah di wilayahnya.
“Kita punya infrastruktur yang luar biasa lengkap. Sinergi itu harus nyata, misalnya menjadikan sekolah Muhammadiyah sebagai supplier utama calon mahasiswa PTMA. Pimpinan perguruan tinggi harus berkoordinasi dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) untuk memperkuat sekolah-sekolah kita agar melahirkan alumni yang loyal pada persyarikatan,” jelasnya.
Kurikulum Fleksibel dan Karakter AIK sebagai Ruh
Menghadapi era ketidakpastian dan kemajuan teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI), Irwan menggarisbawahi perlunya kurikulum yang fleksibel. PTMA tidak boleh terpaku pada kurikulum yang kaku, tetapi harus mampu beradaptasi secara cepat terhadap kebutuhan dunia industri dan dinamika zaman.
Namun, ia mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual dan keahlian digital harus diimbangi dengan karakter yang kuat melalui Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Irwan menegaskan bahwa AIK tidak boleh hanya dipandang sebagai mata kuliah administratif, melainkan harus menjadi ruh yang menjiwai seluruh aktivitas perguruan tinggi.
“Alumni kita mungkin cerdas dan menguasai teknologi, tetapi jika tidak dibarengi karakter ideologi Muhammadiyah, ilmu tersebut bisa membahayakan. AIK adalah ruh PTMA, bukan sekadar pelengkap kurikulum,” tuturnya.
Menutup paparannya, Irwan mengajak para pimpinan untuk memiliki visi besar dalam mengelola “lahan-lahan mati” atau tantangan yang dianggap mustahil oleh sebagian orang. Ia mencontohkan bagaimana tokoh-tokoh Muhammadiyah di masa lalu berhasil mengubah lokasi yang awalnya tidak bernilai menjadi kampus-kampus megah yang membanggakan.
“Persoalannya bukan bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau. Lakukanlah sesuatu sebelum orang lain sempat memikirkannya. Mari kita bawa perguruan tinggi kita tidak lagi sekadar berjalan atau berlari, tetapi melompat jauh ke depan untuk menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa dan negara,” pungkasnya.
Melalui agenda Leadership Training Angkatan XII ini, para pimpinan PTMA diharapkan dapat mengembangkan perspektif kepemimpinan yang lebih transformatif, mampu membangun kolaborasi dalam ekosistem pendidikan Muhammadiyah, serta menghadirkan inovasi yang menjadikan PTMA semakin unggul, berdaya saing global, dan tetap berakar kuat pada nilai-nilai Islam Berkemajuan.
Sumber: Muhammadiyah.or.id
Artikel ini dipublikasikan di muhammadiyahsulsel.or.id. Bagikan untuk menyebarkan kebaikan.





